HUBUNGAN ANTARA POLA MAKAN DENGAN RISIKO KEJADIAN GASTRITIS DI MA MAMBAUL ULUM PAKIS KABUPATEN MALANG
Kata Kunci:
Pola Makan, Risiko Gastritis, SiswaAbstrak
Gastritis merupakan gangguan pada sistem pencernaan yang ditandai dengan peradangan mukosa lambung dan sering dialami oleh siswa akibat pola makan yang tidak teratur. Kebiasaan melewatkan waktu makan, konsumsi makanan pedas, serta frekuensi makan yang tidak sesuai dapat meningkatkan produksi asam lambung dan memicu terjadinya gastritis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pola makan dengan risiko kejadian gastritis pada siswa di MA Mambaul Ulum Pakis Kabupaten Malang. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain korelasi dan pendekatan cross sectional untuk mengetahui hubungan antar variabel dalam satu waktu pengukuran. Populasi penelitian berjumlah 132 siswa dengan sampel sebanyak 117 responden yang diambil menggunakan teknik total sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner pola makan dan kuesioner risiko gastritis yang dikembangkan oleh Yatmi. Analisis data menggunakan uji Spearman Rank dengan tingkat signifikansi p < 0,05. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar responden memiliki pola makan kurang sebanyak 54%, pola makan cukup 30%, dan pola makan baik 16%. Risiko kejadian gastritis didominasi kategori tinggi sebesar 48%, kategori sedang 34%, dan kategori rendah 18%. Hasil uji statistik menunjukkan terdapat hubungan signifikan antara pola makan dengan risiko kejadian gastritis dengan nilai p < 0,05 dan koefisien korelasi menunjukkan hubungan sedang. Disimpulkan bahwa semakin buruk pola makan siswa, maka semakin tinggi risiko terjadinya gastritis.
Gastritis is a digestive disorder characterized by inflammation of the gastric mucosa and is commonly experienced by students due to irregular eating habits. Skipping meals, consuming spicy foods, and inappropriate meal frequency can increase gastric acid production and trigger gastritis. This study aimed to determine the relationship between dietary patterns and the risk of gastritis among students at MA Mambaul Ulum Pakis, Malang Regency. This research used a quantitative method with a correlational design and a cross-sectional approach to identify the relationship between variables measured at the same time. The population of this study consisted of 132 students, with a sample of 117 respondents selected using the total sampling technique. Data collection was carried out using dietary pattern questionnaires and gastritis risk questionnaires developed by Yatmi. Data analysis was performed using the Spearman Rank test with a significance level of p < 0.05. The results showed that most respondents had poor dietary patterns (54%), moderate dietary patterns (30%), and good dietary patterns (16%). The risk of gastritis was dominated by the high category (48%), followed by the moderate category (34%) and the low category (18%). Statistical analysis indicated a significant relationship between dietary patterns and the risk of gastritis with p < 0.05, and the correlation coefficient showed a moderate relationship. It can be concluded that poorer dietary habits are associated with a higher risk of gastritis among students.




