https://ojs.co.id/1/index.php/pjpi/issue/feed Psikofusi: Jurnal Psikologi Integratif 2026-02-28T05:40:56+00:00 Open Journal Systems https://ojs.co.id/1/index.php/pjpi/article/view/4438 HUBUNGAN ANTARA ACADEMIC STRESS DENGAN SLEEP QUALITY PADA MAHASISWA BARU UNIVERSITAS KRISTEN SATYA WACANA YANG MERANTAU 2026-02-18T07:51:26+00:00 Samuel Miracle Wangko [email protected] Maria Prima Novita [email protected] <p>Mahasiswa baru yang merantau menghadapi berbagai tantangan adaptasi, baik dalam aspek akademik maupun sosial, yang berpotensi menimbulkan stres akademik. Stres akademik yang tinggi dapat memengaruhi kondisi psikologis dan fisiologis mahasiswa, termasuk kualitas tidur. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara academic stress dengan sleep quality pada mahasiswa baru Universitas Kristen Satya Wacana yang merantau. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Subjek penelitian adalah mahasiswa baru yang berasal dari luar kota dan sedang menjalani tahun pertama perkuliahan. Pengumpulan data dilakukan menggunakan skala academic stress dan instrumen pengukuran kualitas tidur yang telah teruji validitas dan reliabilitasnya. Analisis data dilakukan menggunakan uji korelasi untuk melihat arah dan kekuatan hubungan antar variabel. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara academic stress dengan sleep quality, di mana semakin tinggi tingkat stres akademik, maka semakin buruk kualitas tidur mahasiswa. Temuan ini menunjukkan pentingnya upaya pengelolaan stres akademik pada mahasiswa baru perantau guna mendukung kesehatan dan keberhasilan akademik mereka.</p> 2026-02-28T00:00:00+00:00 Hak Cipta (c) 2026 Psikofusi: Jurnal Psikologi Integratif https://ojs.co.id/1/index.php/pjpi/article/view/4367 HUBUNGAN MANAJEMEN WAKTU DENGAN PROKRASTINASI AKADEMIK PADA MAHASISWA SKRIPSI DAN BEKERJA PART-TIME DI UKSW 2026-01-31T08:49:14+00:00 Yesa Marcel Saragih [email protected] Heru Astikasari Setya Murti [email protected] <p>Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara manajemen waktu dan prokrastinasi akademik pada mahasiswa tingkat akhir Universitas Kristen Satya Wacana yang sedang menyusun skripsi sambal bekerja part-time. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif dengan desai korelasional, Partisipan berjumlah 251 mahasiswa yang dipilih melalui teknik <em>purposive sampling</em>. Instrumen penelitian menggunakan <em>Time Management Questionnaire</em> (Britton &amp; Tesser, 1991) dan Tuckman <em>Procrastination Scale</em> (Tuckman, 1991). Hasil analisis menggunakan uji korelasi Spearman Rho menunjukkan adanya hubungan negatif yang signifikan antara manajemen waktu dan prokrastinasi akademik (r = -0,311; p &lt; 0,05). Artinya, semakin baik kemampuan manajemen waktu mahasiswa, maka semakin rendah tingkat prokrastinasi akademiknya. Temuan ini menegaskan pentingnya keterampilan manajemen waktu dalam membantu mahasiswa menyelesaikan skripsi secara efektif, terutama bagi mereka yang menghadapi beban ganda antara studi dan pekerjaan <em>part-time.</em></p> <p><em>This study aims to examine the relationship between time management and academic procrastination among final-year students at Satya Wacana Christian University who are writing their theses while working part-time. The research employed a quantitative approach with a correlational design. Participants consisted of 251 students selected through purposive sampling. The instruments used were the Time Management Questionnaire (Britton &amp; Tesser, 1991) and the Tuckman Procrastination Scale (Tuckman, 1991). Data analysis using the Spearman Rho correlation test revealed a significant negative relationship between time management and academic procrastination (r = -0.311; p &lt; 0.05). This indicates that students with better time management skills tend to have lower levels of academic procrastination. The findings highlight the importance of developing effective time management abilities to support students in completing their theses successfully, especially for those balancing both academic and part-time work responsibilities.</em></p> 2026-02-28T00:00:00+00:00 Hak Cipta (c) 2026 Psikofusi: Jurnal Psikologi Integratif https://ojs.co.id/1/index.php/pjpi/article/view/4418 WORK ENGAGEMENT SEBAGAI PREDIKTOR ORGANIZATIONAL CITIZENSHIP BEHAVIOR PADA KARYAWAN PT.X 2026-02-12T13:33:51+00:00 Angelina Timothy [email protected] Sutarto Wijono [email protected] <p>Penelitian ini bertujuan untuk menguji peran prediktif Work Engagement terhadap Organizational Citizenship Behavior (OCB) pada karyawan PT. X. Penelitian kuantitatif dengan desain korelasional/prediktif ini melibatkan 74 karyawan PT. X sebagai partisipan, yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Metode pengumpulan data menggunakan skala Work Engagement dan skala OCB, dengan analisis data menggunakan teknik regresi linear sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat Work Engagement karyawan berada pada kategori Tinggi (100%), sementara OCB berada pada kategori Tinggi. Hasil uji hipotesis menunjukkan bahwa Work Engagement terbukti signifikan dalam memprediksi OCB, dibuktikan dengan nilai signifikansi 0.007 (p &lt; 0.05). Nilai R Square sebesar 0.095 mengindikasikan bahwa Work Engagement menyumbang 9,5% terhadap variasi OCB. Secara kesimpulan, hipotesis penelitian diterima, menegaskan bahwa semakin tinggi tingkat keterikatan kerja karyawan, semakin tinggi pula perilaku ekstra-peran yang ditunjukkan.</p> <p><em>This study aimed to examine the predictive role of Work Engagement on Organizational Citizenship Behavior (OCB) among employees of PT. X. This quantitative research, employing a correlational/predictive design, involved 74 employees of PT. X as participants, selected using a purposive sampling technique. Data collection methods utilized the Work Engagement scale and the OCB scale, with data analysis performed using simple linear regression. The results indicated that the employees' level of Work Engagement was in the High category (100%), while their OCB was in the High category. Hypothesis testing results demonstrated that Work Engagement was proven significant in predicting OCB, evidenced by significance of 0.007 (p &lt; 0.05). The R Square value of 0.095 indicated that Work Engagement contributed 9,5% to the variance in OCB. In conclusion, the research hypothesis was accepted, confirming that the higher the level of employee engagement, the higher the extra-role behavior demonstrated.</em></p> 2026-02-28T00:00:00+00:00 Hak Cipta (c) 2026 Psikofusi: Jurnal Psikologi Integratif https://ojs.co.id/1/index.php/pjpi/article/view/4406 GRIT DAN JOB CRAFTING PADA KARYAWAN GENERASI Z DI ERA KERJA MODERN PADA PT PERKAYUAN X TEMANGGUNG 2026-02-11T02:05:45+00:00 Fransiska Alfa Mega Fiani [email protected] Sutarto Wijono [email protected] <p>Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara grit dengan job crafting pada karyawan Generasi Z di PT Perkayuan X Temanggung. Partisipan dalam penelitian ini berjumlah 95 orang karyawan yang berusia antara 18 hingga 28 tahun dan bekerja di bagian Barecore. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional dan teknik pengambilan sampel purposive sampling. Instrumen yang digunakan yaitu Grit Scale versi Original (Grit-O) yang dikembangkan oleh Duckworth, Peterson, Matthews, dan Kelly (2007) untuk mengukur tingkat grit, serta Job Crafting Scale (JCS) dari Tims, Bakker, dan Derks (2012) untuk mengukur perilaku job crafting. Analisis data dilakukan menggunakan uji korelasi Product Moment Pearson dengan bantuan program SPSS versi 31.0 for Windows. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan positif dan signifikan antara grit dan job crafting dengan nilai koefisien korelasi r = 0,248 dan p = 0,015 (p &lt; 0,05). Hal ini berarti semakin tinggi tingkat grit yang dimiliki karyawan, maka semakin tinggi pula kecenderungan mereka dalam melakukan job crafting di tempat kerja. Nilai koefisien determinasi (r² = 0,061) menunjukkan bahwa grit memberikan sumbangan sebesar 6,1% terhadap job crafting, sementara 93,9% sisanya dipengaruhi oleh faktor lain di luar penelitian ini. Hasil kategorisasi menunjukkan bahwa sebagian besar karyawan memiliki tingkat grit pada kategori sedang dan tingkat job crafting pada kategori tinggi. Temuan ini mengindikasikan bahwa meskipun ketekunan dan konsistensi karyawan belum tergolong tinggi, mereka tetap mampu menyesuaikan pekerjaan secara proaktif untuk menciptakan makna dan meningkatkan keterlibatan dalam pekerjaan.</p> <p><em>This study aims to examine the relationship between grit and job crafting among Generation Z employees at PT Perkayuan X Temanggung. The participants in this research consisted of 95 employees aged 18 to 28 years who worked in the Barecore division. This study employed a quantitative approach with a correlational design and used purposive sampling as the sampling technique. The instruments used were the Original Grit Scale (Grit-O) developed by Duckworth, Peterson, Matthews, and Kelly (2007) to measure grit, and the Job Crafting Scale (JCS) developed by Tims, Bakker, and Derks (2012) to measure job crafting. Data analysis was carried out using the Pearson Product Moment correlation test assisted by SPSS version 31.0 for Windows. The results showed a positive and significant relationship between grit and job crafting, with a correlation coefficient of r = 0.248 and a significance value of p = 0.015 (p &lt; 0.05). This indicates that the higher the level of grit employees possess, the higher their tendency to engage in job crafting behavior. The coefficient of determination (r² = 0.061) revealed that grit contributes 6.1% to job crafting, while the remaining 93.9% is influenced by other factors outside this study. The categorization results showed that most employees had a moderate level of grit and a high level of job crafting. These findings suggest that although employees’ perseverance and consistency are not yet optimal, they are still able to proactively adjust their work to create meaning and enhance engagement in the modern work environment.</em></p> 2026-02-28T00:00:00+00:00 Hak Cipta (c) 2026 Psikofusi: Jurnal Psikologi Integratif https://ojs.co.id/1/index.php/pjpi/article/view/4395 DUKUNGAN SOSIAL TERHADAP PSYCHOLOGICAL WELL BEING PADA KARYAWAN YANG BEKERJA PADA PERUSAHAAN X 2026-02-08T09:56:41+00:00 Melinda Yosephin [email protected] Sutarto Wijono [email protected] <p>Psychological well-being merupakan aspek penting bagi karyawan dalam menghadapi tuntutan kerja. Salah satu faktor yang berperan dalam meningkatkan psychological well-being adalah dukungan sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dukungan sosial dan psychological well-being pada karyawan PT X. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional yang melibatkan 191 karyawan PT X sebagai responden. Data dikumpulkan menggunakan skala dukungan sosial dan skala psychological well-being, kemudian dianalisis menggunakan uji korelasi Spearman rho dengan bantuan SPSS versi 24 karena data tidak berdistribusi normal. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan positif dan signifikan antara dukungan sosial dan psychological well-being (r = 0,531; p &lt; 0,05). Temuan ini menunjukkan bahwa semakin tinggi dukungan sosial yang diterima karyawan, maka semakin tinggi pula tingkat psychological well-being yang dimiliki.</p> <p><em>Psychological well-being is an important aspect for employees in managing work demands. Social support is considered one factor that may enhance psychological well-being. This study aimed to examine the relationship between social support and psychological well-being among employees of PT X. A quantitative correlational design was employed with 191 employees as participants. Data were collected using a social support scale and a psychological well-being scale and analyzed using the Spearman rho correlation test with the assistance of SPSS version 24 due to non-normal data distribution. The results showed a positive and significant relationship between social support and psychological well-being (r = 0.531; p &lt; 0.05). These findings indicate that higher social support is associated with higher psychological well-being among employees.</em></p> 2026-02-28T00:00:00+00:00 Hak Cipta (c) 2026 Psikofusi: Jurnal Psikologi Integratif https://ojs.co.id/1/index.php/pjpi/article/view/4449 HUBUNGAN ANTARA DECISION MAKING STYLE DAN ACADEMIC PROCRASTINATION PADA SISWA SMPN 3 KEDUNGREJA 2026-02-23T01:48:26+00:00 Tesalonika Utami Dewi [email protected] Heru Astikasari Setya Murti [email protected] <p>Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara decision making style (gaya pengambilan keputusan) dan academic procrastination (prokrastinasi akademik) pada siswa SMP Negeri 3 Kedungreja. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain korelasional. Populasi penelitian adalah seluruh siswa kelas VII–IX SMP Negeri 3 Kedungreja tahun ajaran 2025/2026. Teknik pengambilan sampel menggunakan proportionate stratified random sampling dengan jumlah 239 responden. Pengumpulan data dilakukan menggunakan General Decision Making Style Scale (Scott &amp; Bruce, 1995) dan Academic Procrastination Scale (McCloskey &amp; Scielzo, 2015). Analisis data menggunakan korelasi Product Moment Pearson. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan positif yang signifikan antara decision making style dan academic procrastination (r = 0,900; p &lt; 0,05). Artinya, semakin tinggi kecenderungan gaya pengambilan keputusan tertentu, semakin tinggi pula tingkat prokrastinasi akademik siswa.</p> <p><em>This study aims to determine the relationship between decision making style and academic procrastination among students of SMP Negeri 3 Kedungreja. This research used a quantitative method with a correlational design. The population included all seventh to ninth grade students in the 2025/2026 academic year, with 239 respondents selected through proportionate stratified random sampling. Data were collected using the General Decision Making Style Scale (Scott &amp; Bruce, 1995) and the Academic Procrastination Scale (McCloskey &amp; Scielzo, 2015). Data were analyzed using the Pearson Product Moment correlation test. The results indicated a significant positive correlation between decision making style and academic procrastination (r = 0.900; p &lt; 0.05).</em></p> 2026-02-28T00:00:00+00:00 Hak Cipta (c) 2026 Psikofusi: Jurnal Psikologi Integratif https://ojs.co.id/1/index.php/pjpi/article/view/4377 HUBUNGAN EFIKASI DIRI DENGAN PENYESUAIAN DIRI PADA SISWA SMP DI MAKASSAR 2026-02-03T08:06:25+00:00 Khairunnisa Az-Zahra Syamsuddin [email protected] Ahmad Razak [email protected] <p>Menjadi seorang siswa dituntut untuk menyesuaikan diri dilingkungan sekolah dimana siswa menghadapi beberapa masalah sehingga membutuhkan penyesuaian diri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan hubungan efikasi diri dengan penyesuaian diri pada siswa SMP di Makassar. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa SMPIT Darul Fikri Makassar sebanyak 232 siswa dengan sampel sebanyak 87 siswa yang diperoleh melalui Teknik accidental sampling. Data dikumpulkan melalui kuisioner menggunakan skala adaptasi psychological Adjustment Scale yang terdiri dari 19 aitem dan skala general self-efficacy yang terdiri dari 34 aitem. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa efikasi diri secara signifikan memengaruhi penyesuaian diri pada siswa SMPIT Darul Fikri Makassar dan memberikan kontribusi sebesar 59,2%. Hasil analisis data menunjukkan hipotesis diterima terdapat hubungan positif antara efikasi diri dengan penyesuaian diri. Koefisien korelasi positif yang berarti semakin tinggi efikasi diri siswa maka penyesuaian diri semakin baik. Sebaliknya, semakin rendah efikasi diri siswa maka penyesuaian diri semakin kurang. Implikasi dalam penelitian ini menjadi bahan evaluasi bagi siswa untuk dapat menanamkan sikap keyakinan diri yang positif dalam penyesuaian diri terhadap lingkungan sekolah.</p> <p><em>Being a student requires you to adjust to the school environment and new friends where students face several problems that require self-adjustment. This study aims to determine the relationship between self-efficacy and self-adjustment in junior high school students in Makassar. The population in this study were 232 students of SMPIT Darul Fikri Makassar with a sample of 87 students obtained through the accidental sampling technique. Data were collected through a questionnaire using the psychological Adjustment Scale adaptation scale consisting of 19 items and the general self-efficacy scale consisting of 34 items. The results of this study indicate that self-efficacy significantly influences self-adjustment in students of SMPIT Darul Fikri Makassar and contributes 59,2%. The results of data analysis indicate that the hypothesis is accepted that there is a positive relationship between self-efficacy and self-adjustment. The positive correlation coefficient means that the higher the student's self-efficacy, the better the self-adjustment. Conversely, the lower the student's self-efficacy, the less self-adjustment. The implications of this study are evaluation materials for students to be able to instill a positive self-confidence attitude in adjusting to the school environment.</em></p> 2026-02-28T00:00:00+00:00 Hak Cipta (c) 2026 Psikofusi: Jurnal Psikologi Integratif https://ojs.co.id/1/index.php/pjpi/article/view/4434 HUBUNGAN CAREER ANXIETY DENGAN PSYCHOLOGICAL WELL-BEING PADA MAHASISWA TINGKAT AKHIR UNIVERSITAS KRISTEN SATYA WACANA 2026-02-17T08:25:21+00:00 Natanael Alpasach Donne Graciano [email protected] Maria Prima Novita [email protected] <p>Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara career anxiety dengan psychological well-being pada mahasiswa tingkat akhir Universitas Kristen Satya Wacana. Mahasiswa tingkat akhir berada pada fase transisi menuju dunia kerja yang sering kali ditandai dengan ketidakpastian karier, tuntutan akademik, serta tekanan untuk segera menentukan arah masa depan, sehingga berpotensi menurunkan kesejahteraan psikologis. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Subjek penelitian berjumlah 173 mahasiswa tingkat akhir Universitas Kristen Satya Wacana yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan Career Anxiety Scale yang dikembangkan oleh Tsai et al. dan Psychological Well-Being Scale berdasarkan dimensi Ryff. Data dianalisis menggunakan teknik analisis korelasi untuk menguji hubungan antara kedua variabel. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan negatif yang signifikan antara career anxiety dan psychological well-being, yang berarti semakin tinggi tingkat kecemasan karier yang dialami mahasiswa tingkat akhir, maka semakin rendah tingkat kesejahteraan psikologisnya. Temuan ini mengindikasikan bahwa career anxiety merupakan salah satu faktor penting yang perlu diperhatikan dalam menjaga dan meningkatkan psychological well-being mahasiswa tingkat akhir. Implikasi dari penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar bagi pengembangan program pendampingan dan intervensi psikologis yang berfokus pada pengelolaan kecemasan karier guna mendukung kesiapan mahasiswa dalam menghadapi transisi menuju dunia kerja.</p> <p><em>This study aims to examine the relationship between career anxiety and psychological well-being among final-year students of Satya Wacana Christian University. Final-year students are in a transitional phase toward the workforce, which is often characterized by career uncertainty, academic demands, and pressure to determine future career paths, potentially affecting their psychological well-being. This research employed a quantitative approach with a correlational design. The participants consisted of 173 final-year students selected using a purposive sampling technique. Data were collected using the Career Anxiety Scale developed by Tsai et al. and the Psychological Well-Being Scale based on Ryff’s dimensions. Correlational analysis was used to examine the relationship between the two variables. The results indicate a significant negative relationship between career anxiety and psychological well-being, suggesting that higher levels of career anxiety are associated with lower levels of psychological well-being among final-year students. These findings highlight the importance of addressing career anxiety as a key factor influencing students’ psychological well-being. The results of this study are expected to provide a basis for developing guidance programs and psychological interventions aimed at managing career anxiety to support students’ readiness in facing the transition to the world of work.</em></p> 2026-02-28T00:00:00+00:00 Hak Cipta (c) 2026 Psikofusi: Jurnal Psikologi Integratif https://ojs.co.id/1/index.php/pjpi/article/view/4414 HUBUNGAN DUKUNGAN SOSIAL DENGAN QUARTER LIFE CRISIS PADA DEWASA AWAL YANG BELUM MEMILIKI PASANGAN 2026-02-12T09:39:40+00:00 Aliffasya Herman [email protected] Maria Nugraheni Mardi Rahayu [email protected] <p>Pada masa dewasa awal, individu akan menghadapi beberapa tugas perkembangan, salah satunya adalah memiliki pasangan hidup.&nbsp; Individu dewasa awal yang belum memiliki pasangan rentan mengalami quarter life crisis sehingga dalam menjalaninya diperlukan dukungan sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dukungan sosial dengan quarter life crisis pada dewasa awal yang belum memiliki pasangan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional yang melibatkan 220 dewasa awal yang belum memiliki pasangan. Alat ukur yang digunakan adalah Perceived Social Support From Friends (PSS-Fr) (???? = 0,748) and From Family (PSS-Fa) (????= 0,755) untuk mengukur dukungan sosial dan The Developmental Crisis Questionnaire (DCQ-12) (???? = 0,747) untuk mengukur quarter life crisis. Teknik analisis data menggunakan uji korelasi Spearman’s rho karena data tidak berdistribusi normal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan negatif yang signifikan antara dukungan sosial keluarga dengan quarter life crisis (r=-0,236; p=0,000). Dapat diartikan bahwa semakin tinggi dukungan sosial keluarga yang didapatkan maka semakin rendah tingkat quarter life crisis. Di sisi lain dalam penelitian ini, tidak ditemukan korelasi antara dukungan sosial teman dengan quarter life crisis pada dewasa awal yang belum memiliki pasangan. Penelitian ini menemukan bahwa pada masa quarter life crisis individu dewasa awal memerlukan adanya dukungan sosial terutama dukungan sosial dari keluarga.</p> <p><em>In early adulthood, individuals face several developmental tasks, one of which is establishing a romantic relationship. Single early adulthood are more vulnerable to experiencing a quarter life crisis, therefore, social support is needed to help them navigate this stage of life. This study aims to examine the relationship between social support and quarter life crisis among single early adulthood. A quantitative correlation approach was used with a sample of 220 participants. The Instruments employed were the Perceived Social Support From Friends (PSS-Fr) (</em><em>????=0,748) and From Family (PSS-Fa) (</em><em>????=0,755) to measure social support and the Developmental Crisis Questionnaire (DCQ-12) (</em><em>????=0,747) to measure quarter life crisis. Data were analyzed using Spearman’s correlation test, as the data did not meet the normality assumption. The results showed that there was a significant negative correlation between family social support and quarter life crisis (r=-0,236, p=0,000). This indicated that the higher the level of family social support received by an individual, the lower their level of quarter life crisis. On the other hand, this study found no significant correlation between social support from friends and quarter life crisis among single early adulthood. This study found that during the quarter life crisis, early adulthood required social support, particularly from their family.</em></p> 2026-02-28T00:00:00+00:00 Hak Cipta (c) 2026 Psikofusi: Jurnal Psikologi Integratif https://ojs.co.id/1/index.php/pjpi/article/view/4402 PENERAPAN TEKNIK HOMEROOM BERBASIS TUDANG SIPULUNG TERHADAP KECERDASAN SOSIAL 2026-02-10T09:02:03+00:00 Azzahrawaani Salsabila [email protected] Suciani Latif [email protected] Aswar [email protected] <p>Penelitian ini bertujuan mengetahui efektivitas teknik homeroom berbasis nilai duduk bersama dalam meningkatkan kecerdasan sosial siswa di salah satu madrasah tsanawiyah negeri di Pinrang. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis kuasi eksperimen dan rancangan kelompok eksperimen serta kelompok kontrol melalui pengukuran awal dan pengukuran akhir. Subjek penelitian adalah 16 siswa yang memiliki kecerdasan sosial rendah berdasarkan hasil pengukuran awal. Perlakuan diberikan melalui kegiatan homeroom yang mengintegrasikan nilai saling menghargai, saling mengingatkan, dan saling memuliakan dalam diskusi kelompok. Data dikumpulkan menggunakan skala kecerdasan sosial dan dianalisis dengan teknik analisis statistik untuk membandingkan perubahan skor sebelum dan sesudah perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan kecerdasan sosial pada kelompok yang mendapatkan perlakuan, ditandai oleh meningkatnya kemampuan empati, kerja sama, komunikasi, dan penyesuaian diri dalam situasi sosial. Temuan ini menunjukkan bahwa teknik homeroom berbasis nilai budaya duduk bersama efektif digunakan sebagai strategi layanan bimbingan untuk mengembangkan kecerdasan sosial siswa di lingkungan sekolah.</p> 2026-02-28T00:00:00+00:00 Hak Cipta (c) 2026 Psikofusi: Jurnal Psikologi Integratif https://ojs.co.id/1/index.php/pjpi/article/view/4392 STRES KERJA DAN WORK-LIFE BALANCE PADA TENAGA PENDIDIK GENERASI Z DI INSTANSI PENDIDIKAN SWASTA DI KABUPATEN SEMARANG 2026-02-08T03:51:59+00:00 Natasya Kinanthi Widiastuti [email protected] Sutarto Wijono [email protected] <p>Stres kerja merupakan kondisi yang umum dialami oleh tenaga pendidik akibat tuntutan pekerjaan yang tinggi, baik dari aspek akademik maupun administratif. Pada Generasi Z, stres kerja dapat memengaruhi cara individu mengelola keseimbangan antara kehidupan kerja dan kehidupan pribadi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara stres kerja dan work-life balance pada tenaga pendidik Generasi Z di instansi pendidikan swasta Kabupaten Semarang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional dan melibatkan 199 responden tenaga pendidik Generasi Z yang bekerja pada jenjang pendidikan menengah pertama dan menengah atas di instansi pendidikan swasta Kabupaten Semarang. Alat ukur yang digunakan adalah skala stres kerja yang dikembangkan oleh Robbins dan skala work-life balance yang dikembangkan oleh Fisher. Hasil analisis menggunakan uji korelasi Spearman menunjukkan adanya hubungan positif ddan signifikan antara stres kerja dan work-life balance dengan nilai koefisien korelasi sebesar r =0,405 (p &lt; 0,05). Temuan ini menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat stres kerja, maka semakin tinggi pula work-life balance pada tenaga pendidik Generasi Z. Implikasi dari penelitian ini menunjukkan pentingnya dukungan institusi pendidikan dalam membantu tenaga pendidik mengelola stres kerja agar mampu mempertahankan keseimbangan kehidupan kerja</p> <p><em>Work stress is a common condition experienced by educators due to high job demands, both from academic and administrative aspects. In Generation Z, work stress can affect how individuals manage the balance between work life and personal life. This study aims to determine the relationship between work stress and work-life balance among Generation Z educators in private educational institutions in Semarang Regency. This study uses a quantitative approach with a correlational design and involves 199 Generation Z educators respondents working at junior and senior high school levels in private educational institutions in Semarang Regency. The measurement tools used are the work stress scale developed by Robbins and the work-life balance scale developed by Fisher. The results of the analysis using Spearman correlation test show a positive and significant relationship between work stress and work-life balance with a correlation coefficient value of r = 0,405(p &lt; 0,05). This finding indicates that the higher the level of work stress, the higher the work-life balance among Generation Z educators. The implications of this study highlight the importance of educational institution support in helping educators manage work stress in order to maintain work-life balance</em></p> 2026-02-28T00:00:00+00:00 Hak Cipta (c) 2026 Psikofusi: Jurnal Psikologi Integratif