PERILAKU PROSOSIAL MASYARAKAT BATAK TOBA DALAM TRADISI MARSIADAPARI DI DESA SIRINGORINGO SUMATERA UTARA

Penulis

  • Hanna Marbun UKSW Salatiga
  • Wahyuni Kristinawati UKSW Salatiga

Kata Kunci:

Perilaku Prososial, Marsiadapari, Masyarakat Batak Toba, Budaya Kolektivistik

Abstrak

Penelitian ini berfokus pada tradisi marsiadapari dalam masyarakat Batak Toba di Desa Siringoringo sebagai bentuk budaya gotong royong yang menumbuhkan perilaku prososial melalui aktivitas saling membantu dalam kehidupan sosial masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi perilaku prososial masyarakat Batak Toba dalam tradisi marsiadapari serta memahami faktor-faktor yang memengaruhi keterlibatan masyarakat dalam tradisi tersebut. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi untuk memahami pengalaman subjektif dan makna perilaku prososial yang dimaknai oleh partisipan. Partisipan penelitian terdiri dari tiga informan kunci masyarakat Batak Toba di Desa Siringoringo, Sumatera Utara, yaitu tokoh adat, petani, dan ketua pemuda desa yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Wawancara dilakukan secara semi terstruktur, direkam dengan persetujuan partisipan, kemudian ditranskripsikan ke dalam bentuk verbatim untuk dianalisis. Analisis data dilakukan menggunakan analisis fenomenologis melalui proses membaca keseluruhan data, mengidentifikasi pernyataan penting, mengelompokkan tema-tema pengalaman partisipan, dan menyusun makna pengalaman terkait perilaku prososial dalam tradisi marsiadapari. Keabsahan data diuji menggunakan triangulasi sumber, triangulasi teknik, dan member checking dengan mengonfirmasi kembali hasil wawancara kepada partisipan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perilaku prososial dalam tradisi marsiadapari tercermin melalui tindakan saling membantu, bekerja sama, berbagi tenaga, dan memberikan dukungan sosial kepada sesama anggota masyarakat. Perilaku tersebut terbentuk melalui internalisasi nilai budaya Batak Toba, hubungan kekerabatan, solidaritas sosial, dan prinsip timbal balik dalam kehidupan bermasyarakat. Penelitian ini juga menemukan bahwa keterlibatan masyarakat dalam marsiadapari tidak sepenuhnya didasarkan pada motivasi altruistik, tetapi turut dipengaruhi oleh kewajiban moral, norma adat, harapan sosial, dan tekanan sosial dalam komunitas, seperti rasa sungkan, takut dinilai negatif, dan kekhawatiran dikucilkan dari lingkungan sosial. Selain itu, modernisasi mulai memengaruhi keberlangsungan tradisi marsiadapari melalui menurunnya partisipasi generasi muda dan bergesernya praktik gotong royong menjadi hubungan kerja berbasis upah. Dengan demikian, marsiadapari tidak hanya berfungsi sebagai sistem gotong royong masyarakat Batak Toba, tetapi juga menjadi fenomena sosial yang kompleks karena dipengaruhi oleh nilai budaya, relasi sosial, norma komunitas, dan perubahan sosial modern.

Unduhan

Diterbitkan

2026-05-31