PARADIGMA KEILMUAN DALAM STUDI ISLAM: INTEGRASI DAN INTERKONEKSI
Kata Kunci:
Paradigma, Islam, IslamIntegrasi, InterkoneksiAbstrak
Artikel ini membahas paradigma keilmuan dalam studi Islam dengan menekankan pentingnya integrasi dan interkoneksi ilmu sebagai alternatif terhadap pola dikotomis yang telah lama mewarnai tradisi akademik Islam. Pemisahan antara ilmu agama dan ilmu umum terbukti menimbulkan keterbatasan dalam menjawab kompleksitas persoalan kontemporer. Dengan pendekatan kualitatif dan strategi library research, penelitian ini menganalisis literatur primer dan sekunder terkait perkembangan paradigma nondikotomis, baik dari pemikiran klasik seperti al-Ghazali dan Ibn Khaldun mahupun dari gagasan modern seperti Amin Abdullah, Kuntowijoyo, Ismail Raji al-Faruqi, dan Syed Naquib al-Attas. Hasil penelitian menunjukkan bahawa paradigma nondikotomis menghadirkan kerangka epistemologi baru yang memandang wahyu, akal, dan realitas sosial sebagai satu kesatuan. Orientasi pendidikan yang semula terfragmentasi kini diarahkan untuk menghasilkan lulusan yang religius sekaligus adaptif. Dari sisi metodologi, studi Islam semakin memanfaatkan pendekatan interdisipliner dan multidisipliner untuk memberikan jawapan yang komprehensif terhadap isu-isu aktual seperti zakat digital, ekologi, dan keadilan sosial. Implementasi kelembagaan juga menunjukkan transformasi, di mana universitas Islam mengembangkan kurikulum integratif yang menghapus sekat antara ilmu agama dan ilmu umum. Secara keseluruhan, artikel ini menegaskan bahawa peralihan menuju paradigma nondikotomis bukan hanya memperkuat tradisi intelektual Islam, tetapi juga mengokohkan peran studi Islam dalam percakapan akademik global. Dengan demikian, integrasi dan interkoneksi ilmu berfungsi sebagai landasan penting bagi pengembangan studi Islam yang relevan, responsif, dan berorientasi pada kemaslahatan umat.




