https://ojs.co.id/1/index.php/jsi/issue/feedAl-Mausu'ah: Jurnal Studi Islam2025-12-30T15:20:42+00:00Open Journal Systemshttps://ojs.co.id/1/index.php/jsi/article/view/3997PERAN SUPERVISI AKADEMIK DALAM MENINGKATKAN PEMANFAATAN MEDIA AUDIO VISUAL ISLAMI PADA PEMBELAJARAN PAI (KAJIAN LITERATUR)2025-12-04T12:23:06+00:00Samsudin Busro[email protected]Sabran[email protected]Sri Susmiyati[email protected]<p>Penelitian ini bertujuan menganalisis peran supervisi akademik dalam meningkatkan pemanfaatan media audio–visual Islami pada pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI). Menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode kajian literatur, penelitian ini menelaah artikel jurnal, prosiding, buku, serta dokumen kebijakan yang relevan dalam sepuluh tahun terakhir. Hasil kajian menunjukkan bahwa penggunaan media audio–visual Islami secara signifikan meningkatkan keterlibatan, pemahaman, dan pengalaman religius peserta didik. Namun, implementasinya di sekolah masih terbatas oleh rendahnya literasi digital guru, kurangnya sarana teknologi, serta ketiadaan perencanaan pedagogik yang komprehensif. Supervisi akademik terbukti berperan strategis dalam meningkatkan kompetensi guru PAI melalui pembinaan profesional, umpan balik reflektif, pendampingan berbasis teknologi, dan model supervisi klinis maupun coaching. Supervisi akademik yang terstruktur, kolaboratif, dan inovatif mampu mengoptimalkan kualitas perencanaan, pelaksanaan, dan refleksi pembelajaran berbasis media audio visual Islami. Kajian ini menegaskan bahwa integrasi supervisi akademik dan teknologi audio visual Islami penting dilakukan untuk memperkuat kualitas pembelajaran PAI di era digital.</p> <p><em>This study aims to analyze the role of academic supervision in enhancing the utilization of Islamic audio–visual media in Islamic Religious Education (PAI) learning. Employing a qualitative approach with a literature review method, the study examines journal articles, conference proceedings, academic books, and relevant policy documents published within the past ten years. The findings reveal that Islamic audio–visual media significantly improve students’ engagement, comprehension, and religious learning experiences. However, its implementation in schools remains limited due to teachers' low digital literacy, inadequate technological facilities, and insufficient pedagogical planning. Academic supervision is proven to play a strategic role in strengthening PAI teachers’ competencies through professional coaching, reflective feedback, technology-assisted mentoring, and clinical supervision models. Structured, collaborative, and innovative supervision effectively enhances the quality of planning, implementation, and reflection in Islamic audio–visual–based learning. This study concludes that integrating academic supervision with Islamic audio–visual technology is essential to improving the overall quality of PAI learning in the digital era.</em></p>2025-12-30T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2025 Al-Mausu'ah: Jurnal Studi Islamhttps://ojs.co.id/1/index.php/jsi/article/view/4115PEMIKIRAN MAULANA SYAIKH TUAN GURU KIYAI HAJI MUHAMMAD ZAINUDDIN ABDUL MAJID DALAM MENYEBARKAN AGAMA ISLAM DI PULAU LOMBOK2025-12-18T03:05:37+00:00Muh Mujayyid Al-Ansori [email protected]Muhammad Natsir Siola[email protected]Muhammad Saleh Tajudin[email protected]<p>Penelitian ini mengkaji pemikiran Maulana Syaikh Tuan Guru Kiyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Majid dalam penyebaran Islam di Lombok melalui perpaduan ajaran Islam dan budaya Sasak. Kajian ini melihat bagaimana gagasan dan strateginya membentuk pola keberagamaan masyarakat yang rasional dan berakhlak. Data diperoleh melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, lalu dianalisis dengan tahapan reduksi, penyajian, dan verifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemikiran Maulana Syaikh Tuan Guru Kiyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Majid dalam menyebarkan Islam di Lombok terwujud melalui pendirian pesantren, pembentukan organisasi keagamaan, dan pengembangan lembaga pendidikan Islam formal. Ketiga upaya ini memperkuat dakwah secara kultural dan struktural serta melahirkan generasi yang berilmu, berakhlak, dan berjiwa perjuangan. Melalui gagasan dan pengamalannya, beliau berhasil menanamkan nilai-nilai Islam yang mengakar di masyarakat Lombok, sehingga daerah ini berkembang sebagai salah satu pusat penting Islam di kawasan Indonesia timur. Implikasi penelitian ini menegaskan peran penting Maulana Syaikh dalam penguatan dakwah dan pendidikan Islam di Indonesia. Pemikirannya menunjukkan bahwa perpaduan pendidikan, budaya, dan kelembagaan membuat dakwah lebih efektif, sekaligus memperkuat wacana integrasi Islam dan budaya lokal serta membuka peluang penelitian lanjutan berbasis tradisi Nusantara.</p> <p><em>This study examines the thought of Maulana Syaikh Tuan Guru Kiyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Majid in spreading Islam in Lombok through the integration of Islamic teachings with Sasak cultural traditions. It explores how his ideas and strategies shaped a more rational and ethical religious orientation among the community. The data were collected through observation, in-depth interviews, and documentation, and were analyzed using the stages of data reduction, data presentation, and verification. The findings show that his contributions to Islamic propagation in Lombok were reflected in the establishment of pesantren, the formation of religious and social organizations, and the development of formal Islamic educational institutions. These efforts strengthened both cultural and structural forms of dakwah and produced generations who are knowledgeable, ethical, and driven by a spirit of religious struggle. Through his ideas and their implementation, he succeeded in embedding Islamic values deeply within Lombok society, making the region one of the important centers of Islamic development in eastern Indonesia. The implications of this study highlight Maulana Syaikh’s significant role in strengthening Islamic dakwah and education in Indonesia. His thought demonstrates that combining education, culture, and institutional development can enhance the effectiveness of dakwah. These findings also support the discourse on integrating Islam with local culture and open opportunities for further research on Islamic dakwah and education rooted in Nusantara traditions.</em></p>2025-12-30T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2025 Al-Mausu'ah: Jurnal Studi Islamhttps://ojs.co.id/1/index.php/jsi/article/view/4059PERKEMBANGAN TRADISI DAN PERADABAN ISLAM DI INDONESIA “BUDAYA SELAWAT BERSAMA DAN MAULIDAN DI INDONESIA”2025-12-14T12:24:33+00:00Heny Kurniati[email protected]Syarkoni[email protected]Ris'an Rusli[email protected]Choirun Niswah[email protected]<p>Indonesia merupakan salah satu negara didunia yang sangat kaya akan tradisi dan nilai - nilai budaya. Keanekaragaman tradisi di Indonesia ini disebabkan oleh karakteristik yang beragam dan wilayah Indonesia yang strategis dalam jalur perdangan dunia. Tradisi - tradisi yang ada di Indonesia ini lahir dari pengaruh Peradaban dunia salah satunya peradaban Islam yang dibawa oleh bangsa arab ke Indonesia melalui jalur perdagangan, sehingga terjadinya asimilasi dan akulturasi budaya. Budaya melayu berkembang dari proses panjang interaksi maritim di Asia Tenggara, seperti yang terjadi pada masyarakat kerajaan pesisir, pedagang (Arab, India dan Cina), penyebaran Islam, kolonialisme Eropa, serta dinamika kelompok dalam suatu daerah. Peradaban Islam Melayu inilah yang akan berkembang menjadi tradisi yang di laksanakan secara turun temurun. Salah satu contoh tradisi Islam yang sering dilaksanakan di Indonesia adalah Selawat Bersama dan Maulidan. Tradisi ini sudah ada sejak zaman sebelum kemerdekaan Indonesia. Maulid Nabi Muhammad SAW bukan hanya peringatan kelahiran sang Rasul, tetapi juga momentum penuh berkah untuk memperbanyak doa dan selawat. Tradisi ini dilakukan sebagai bentuk rasa syukur atas hadirnya Nabi Muhammad di muka bumi sebagai rasulullah yang membawa risalah Islam serta menyelamatkan umat manusia dari kegelapan menuju cahaya</p> <p><em>Indonesia is one of the countries in the world rich in traditions and cultural values. This diversity of traditions is due to its diverse characteristics and strategic location on global trade routes. These traditions in Indonesia were born from the influence of world civilizations, one of which is Islamic civilization, brought by the Arabs to Indonesia through trade routes, resulting in cultural assimilation and acculturation. Malay culture developed from a long process of maritime interactions in Southeast Asia, such as those experienced by coastal kingdoms, traders (Arab, Indian, and Chinese), the spread of Islam, European colonialism, and group dynamics within a region. This Malay Islamic civilization developed into traditions carried out from generation to generation. One example of an Islamic tradition frequently practiced in Indonesia is the Selawat Bersama (joint prayer) and Maulidan (Maulidan). This tradition has existed since before Indonesian independence. The Maulid of the Prophet Muhammad (peace be upon him) is not only a commemoration of the Prophet's birth, but also a blessed occasion for increased prayer and salawat (prayer). This tradition is carried out as a form of gratitude for the presence of the Prophet Muhammad on earth as the Messenger of Allah who brought the message of Islam and saved humanity from darkness to light</em></p>2025-12-30T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2025 Al-Mausu'ah: Jurnal Studi Islamhttps://ojs.co.id/1/index.php/jsi/article/view/4021RITUAL PELAKSANAAN IBADAH HAJI: STUDI KASUS PADA JAMAAH BUGIS DI KECAMATAN PAMMANA KABUPATEN WAJO2025-12-10T04:45:52+00:00Muammar A. Wahid[email protected]Muhammadiyah Amin[email protected]Darmawati[email protected]<p>Pokok masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana ritual pelaksanaan ibadah haji pada jamaah Bugis di Kecamatan Pammana Kabupaten Wajo. Pokok masalah tersebut terangkum ke dalam beberapa submasalah atau pertanyaan penelitian, yaitu: bagaimana latar belakang ritual pelaksanaan ibadah haji, bagaimana bentuk ritual pelaksanaan ibadah haji, dan bagaimana tujuan ritual pelaksanaan ibadah haji pada jamaah Bugis di Kecamatan Pammana Kabupaten Wajo.Jenis penelitian ini adalah penelitian lapangan dengan menggunakan metode penelitian kualitatif. Adapun pendekatan yang digunakan adalah pendekatan studi kasus. Sumber data penelitian ini adalah tokoh adat, tokoh masyarakat, tokoh agama, pemuda dan masyarakat Pammana. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Teknik pengelolahan dan analisis data yang digunakan antara lain: reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian mengemukakan bahwa latar belakang pelaksanaan ibadah haji didasari oleh konteks historis dan sosial-religius masyarakat Bugis Pammana. Islam dan adat sebagai pilar kehidupan sosial Bugis. Fungsi sosial dan simbolik ritual haji. Penguatan Spiritualitas Kolektif. Kemudian hasil analisis mengungkapkan bentuk ritual ada tiga fase utama, Pertama sebelum keberangkatan adalah: Mabbaca-baca, menitip foto, mappasicoco esso, mannosalo, massio lipa ko possi bolae. Kedua selama di Tanah Suci adalah barzanji setiap hari jumat dan setiap malam ketika jamaah sudah di Makkah, mabbau batu lotong, mappatoppo. Ketiga Pasca kepulangan adalah upacara penyambutan yang tidak menginjakkan kaki di tanah, syukuran, dan pemberian gelar haji. Adapun tujuan dari pelaksanaan ritual adalah penyucian diri, peneguhan tauhid, solidaritas, kebersamaan, empati komunal, dan meneguhkan identitas Bugis Islami serta pembentukan kepribadian. Penelitian ini memiliki implikasi dalam khazanah keilmuan, Penelitian ini berkontribusi pada kajian antropologi agama dan Islam Nusantara dengan menegaskan bahwa ritual dapat menjadi medium integrasi antara nilai religius dan budaya. Penelitian ini juga menghadirkan kesadaran tentang kebijakan secara akademis maupun oleh masyarakat lokal sendiri dalam merevitalisasi tradisi yang dianggap masih relevan dengan konteks zaman.</p>2025-12-30T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2025 Al-Mausu'ah: Jurnal Studi Islamhttps://ojs.co.id/1/index.php/jsi/article/view/4072Peran Design thinking dalam Kurikulum Abad 212025-12-15T10:37:38+00:00Mohammad Abdullah Mohammad Saibi[email protected]Wildan Maulana Syahroni[email protected]Khoirotul Idawati[email protected]Hanifuddin[email protected]Muhammad Mubarok[email protected]Luqmanul Hakim[email protected]<p>Pembelajaran abad ke-21 menuntut pengembangan kompetensi kreatif, kolaboratif, kritis, dan humanis, sehingga diperlukan pendekatan yang mampu menjembatani kebutuhan akademik dan keterampilan sosial-emosional. <em>Design thinking</em> (DT) menjadi salah satu pendekatan yang relevan karena menempatkan empati sebagai dasar pemahaman masalah dan memungkinkan siswa menghasilkan solusi inovatif melalui proses iteratif. Dalam konteks pendidikan Indonesia, integrasi DT selaras dengan Kurikulum Merdeka, penguatan literasi digital, serta penerapan Project-Based Learning (PBL), meskipun implementasinya masih menghadapi tantangan terkait kesiapan siswa, sarana, dan akses teknologi. Melalui studi pustaka deskriptif, artikel ini mengkaji konsep, manfaat, dan implementasi DT dalam pembelajaran abad 21. Hasil kajian menunjukkan bahwa DT mendorong kreativitas, kolaborasi, komunikasi, empati, dan soft skills lain yang esensial bagi peserta didik. Selain itu, penerapannya dalam PBL memperkuat kemampuan problem-solving melalui siklus try–test–learn yang membangun pola pikir eksperimental dan resiliensi. Integrasi DT juga mendukung pembelajaran lintas disiplin, relevansi konteks nyata, serta pengembangan kompetensi global. Dengan demikian, <em>Design thinking</em> menjadi pendekatan strategis yang tidak hanya meningkatkan kualitas proses belajar, tetapi juga mempersiapkan siswa menghadapi tantangan kompleks di era modern.</p> <p><em>Twenty-first century learning demands the development of creative, collaborative, critical, and humanistic competencies, requiring an approach that can bridge academic needs with socio-emotional skills. Design thinking (DT) has become one of the most relevant approaches because it places empathy at the core of understanding problems and enables students to generate innovative solutions through an iterative process. In the context of Indonesian education, the integration of DT aligns with the Kurikulum Merdeka, the strengthening of digital literacy, and the implementation of Project-Based Learning (PBL), although its application still faces challenges related to student readiness, facilities, and technology access. Through a descriptive literature review, this article examines the concepts, benefits, and implementation of DT in 21st-century learning. The findings show that DT promotes creativity, collaboration, communication, empathy, and other essential soft skills for learners. Additionally, its application in PBL enhances problem-solving skills through the try–test–learn cycle, which cultivates an experimental mindset and resilience. </em><em>The integration of DT also supports interdisciplinary learning, real-world contextual relevance, and the development of global competencies. Thus, Design thinking becomes a strategic approach that not only improves the quality of the learning process but also prepares students to face complex challenges in the modern era.</em></p>2025-12-30T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2025 Al-Mausu'ah: Jurnal Studi Islamhttps://ojs.co.id/1/index.php/jsi/article/view/4058AKULTURASI ISLAM DAN BUDAYA MELAYU2025-12-14T11:50:55+00:00Syarkoni[email protected]Ris'an Rusli[email protected]Choirun Niswa[email protected]Heny Kurniati[email protected]<p>Akulturasi adalah suatu proses sosial yang timbul manakala suatu kelompok manusia dengan kebudayaan tertentu dihadapkan dengan unsur dari suatu kebudayaan asing. Kebudayaan asing itu lambat laun diterima dan diolah ke dalam kebudayaannya sendiri tanpa menyebabkan hilangnya unsur kebudayaan kelompok itu sendiri. Banyak yang menganggap bahwa identitas Melayu identik dengan Islam karena prinsip "syarak mengata adat memakai", yang berarti bahwa adat merupakan implementasi dari nilai-nilai Islam. Melayu identik dengan Islam, Hal ini menjadi sebuah ketentuan karena budaya Melayu sangat bernafaskan Islam, atau budaya Melayu bersumber dari ajaran Islam. Sesuai dengan pribahasa melayu untuk yang mengatakan “adat bersanding sara', dan sara' bersandingkan kitabullah”. Budaya Melayu merupakan salah satu dari bentuk budaya Islam yang mempunyai banyak pendukungnya. Nilai-nilai Islam terlihat dengan jelas dalam berbagai aspek budaya Melayu. Orang Melayu menjadikan Islam sebagai ruh atau inti kebudayaannya. Hal inilah yang memunculkan tesis bahwa Melayu identik dengan Islam. Beberapa faktor yang mempengaruhi masuknya Islam di Tanah Melayu. Pertama, faktor perdagangan; Kedua, perkawinan, yaitu antara pendatang Muslim dengan wanita pribumi pada tahap awal kedatangan Islam; Ketiga, faktor politik seperti mundurnya kerajaan Hindu dan Buddha seperti Majapahit dan Sriwijaya; Keempat, faktor kekosongan budaya pasca runtuhnya kerajaan Buddhis Sriwijaya di Sumatera. Islam membawa perubahan akulturasi budaya diantaranya pada batu nisan, seni sastra, seni pertunjukan dan seni ukir. Selain banyak mempengaruhi dalam bidang seni ajaran islam juga mempengaruhi sifat serta kebiasaan Masyarakat Melayu.</p>2025-12-30T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2025 Al-Mausu'ah: Jurnal Studi Islam