UPAYA LEMBAGA ADAT MELAYU DALAM MELESTARIKAN TRADISI GELAR DI ERA GLOBALISASI

Penulis

  • Wendy Aulia Putri Universitas Jambi
  • Karina Universitas Jambi
  • Natasya Maharani Universitas Jambi
  • Muhammad Farhandani Raendra Universitas Jambi
  • Annatacya Nayla Meisari Universitas Jambi
  • Teuku Ryan Syuhufi Fhazlan Universitas Jambi
  • Denny Defrianti Universitas Jambi
  • Fatonah Universitas Jambi

Kata Kunci:

Pelestarian Budaya, Globalisasi, Modernisasi, Generasi Muda, Identitas Budaya

Abstrak

Tradisi gelar adat Melayu merupakan bagian penting dari identitas sosial dan budaya masyarakat Melayu yang diwariskan secara turun-temurun. Gelar seperti Datuk, Tengku, Wan, dan Raja tidak hanya berfungsi sebagai simbol status, tetapi juga mengandung nilai filosofis, tanggung jawab sosial, dan legitimasi adat yang mengatur hubungan antarkomunitas. Namun, perkembangan modernisasi dan arus globalisasi membawa tantangan besar terhadap keberlangsungan tradisi ini, terutama akibat perubahan pola pikir, gaya hidup digital, dan menurunnya minat generasi muda terhadap adat lokal. Penelitian ini bertujuan menganalisis upaya lembaga adat Melayu dalam melestarikan tradisi gelar di tengah tekanan globalisasi dengan menggunakan metode sejarah, yang meliputi tahapan heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lembaga adat berperan penting dalam menjaga keaslian nilai dan ritual pemberian gelar, sekaligus melakukan adaptasi melalui pendidikan budaya, sosialisasi, dokumentasi digital, dan pelibatan generasi muda dalam kegiatan adat. Meskipun menghadapi kendala seperti kurangnya regenerasi dan pergeseran nilai sosial, strategi pelestarian yang bersifat adaptif dan partisipatif terbukti menjadi langkah penting untuk menjaga relevansi tradisi gelar Melayu di era modern. Penelitian ini menegaskan bahwa pelestarian tradisi hanya dapat berhasil apabila nilai budaya tidak hanya dilestarikan secara formal, tetapi juga diinternalisasi oleh masyarakat, khususnya generasi muda, sebagai bagian dari identitas dan kehidupan sosial mereka.

The tradition of Malay customary titles is an important part of the social and cultural identity of the Malay people, passed down through generations. Titles such as Datuk, Tengku, Wan, and Raja not only serve as status symbols but also contain philosophical values, social responsibility, and customary legitimacy that regulate inter-community relations. However, the development of modernization and globalization brings significant challenges to the sustainability of this tradition, particularly due to changes in mindsets, digital lifestyles, and the declining interest of the younger generation in local customs. This study aims to analyze the efforts of Malay customary institutions in preserving the customary title tradition amidst the pressures of globalization using historical methods, which include the stages of heuristics, source criticism, interpretation, and historiography. The results show that customary institutions play a crucial role in maintaining the authenticity of the values and rituals of title conferring, while simultaneously adapting through cultural education, socialization, digital documentation, and the involvement of the younger generation in customary activities. Despite facing obstacles such as a lack of regeneration and shifting social values, adaptive and participatory preservation strategies have proven to be crucial steps in maintaining the relevance of the Malay customary title tradition in the modern era. This research confirms that the preservation of traditions can only be successful if cultural values are not only preserved formally, but also internalized by society, especially the younger generation, as part of their identity and social life.

Unduhan

Diterbitkan

2025-12-30