PEMANFAATAN LIMBAH KULIT PISANG TANDUK SEBAGAI KARBON AKTIF UNTUK PENURUNAN Fe AIR SUMUR WARGA DESA TANJUNG SARI LAMPUNG SELATAN
Kata Kunci:
Limbah Kulit Pisang Tanduk, Arang Aktif, Batch, Kandungan Fe, Dosis Dan Waktu KontakAbstrak
Air merupakan zat yang paling penting dalam kehidupan setelah udara. Ditinjau dari sudut ilmu kesehatan masyarakat, penyediaan sumber air bersih harus dapat memenuhi kebutuhan masyarakat karena persediaan air bersih yang terbatas memudahkan timbulnya penyakit Air yang tinggi kandungan besinya bila bersentuhan dengan udara menjadi keruh, berbau dan tidak menyenangkan untuk dikonsumsi. Kekeruhan dan warna kuning terbentuk karena oksidasi besi (II) menjadi besi (III) berupa endapan koloid berwarna kuning. Karena oksidasinya berlangsung perlahan terutama pada pH<6 maka pembentukan dan pengendapan Fe(OH)3 atau Fe2O3 berlangsung sangat lambat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas penggunaan kulit pisang tanduk dalam penurunan kadar Fe dalam air sumur warga dan untuk mengetahui pengaruh waktu kontak pada adsorben. Pada penelitian ini air sampel yang digunakan adalah air sumur warga Desa Tanjung Sari Lampung Selatan dengan kandungan Fe 2,880 mg/L yang melebihi batas maksimum kandungan besi didalam air yaitu <1 mg/L. Dalam penelitian ini menggunakan metode batch menggunakan variasi waktu dan dosis arang aktif dari limbah kulit pisang tanduk yaitu 2, 3, 4 dan 5 gram dengan variasi waktu kontak 15, 30, 45 dan 60 menit. Penelitian dibagi menjadi 2 tahapan yaitu pembuatan arang aktif dan pengujian dosis dan waktu kontak arang aktif. Hasil yang paling optimal pada penelitian ini terdapat di dosis 5 gram dengan Waktu Kontak 60 menit yaitu mengalami penurunan sebesar 1,952 dengan persentase efisiensi penurunan 68% sehingga kandungan Fe pada air sampel menjadi 0,927 atau <1 mg/L.
Water is the most important substance in life after air. Viewed from a public health perspective, the provision of clean water sources must be able to meet the needs of the community because a limited supply of clean water makes it easier for disease to arise. Water that is high in iron content when in contact with air becomes cloudy, smelly and unpleasant to consume. Turbidity and yellow color are formed due to the oxidation of iron (II) to become iron (III) in the form of yellow colloidal precipitates. Because oxidation takes place slowly, especially at pH <6, the formation and deposition of Fe (OH)3 or Fe2O3 takes place very slowly. This research aims to determine the effectiveness of using horned banana peels in reducing Fe levels in residents' well water and to determine the effect of contact time on the adsorbent. In this study, the sample water used was well water from the residents of Tanjung Sari Village, South Lampung, with an Fe content of 2.880 mg/L, which exceeds the maximum limit for iron content in water, namely <1 mg/L. In this research, the batch method was used using variations in time and dosage of activated charcoal from horn banana peel waste, namely 2, 3, 4 and 5 grams with variations in contact time of 15, 30, 45 and 60 minutes. The research was divided into 2 stages, namely making activated charcoal and testing the dose and contact time of activated charcoal. The most optimal results in this research were found at a dose of 5 grams with a contact time of 60 minutes, namely a decrease of 1.952 with a reduction efficiency percentage of 68% so that the Fe content in the sample water was 0.927 or <1 mg/L.




