PENGALAMAN KOMUNIKASI JURNALIS TENTANG ALGORITMA KONTEN PEMBERITAAN MEDIA DI ERA POST-TRUTH

Penulis

  • Agus Salim Universitas Paramadina Jakarta

Kata Kunci:

Algoritma Konten, Jurnalisme Berkualitas, Post-Truth

Abstrak

Para era post-truth, para jurnalis dihadapkan pada situasi hadirnya berbagai platform media sosial yang semakin populer di masyarakat yang memiliki tingkat ketergantungan tinggi terhadap gawai. Publik kini tak lagi tergantung pada berita yang ditulis oleh jurnalis untuk memperoleh informasi terkini. Kebutuhan informasi tersebut sudah disediakan oleh platform media sosial, yang mengimplementasikan teknologi machine learning sehingga mampu mempelajari kebiasaan dan perilaku penggunanya untuk menghadirkan konten yang sesuai minat pengguna. Adanya algoritma menghasilkan filter bubble adalah keadaan di mana informasi yang muncul di media sosial pengguna menjadi seragam. Hal ini disebabkan oleh filter algoritma media sosial yang menyaring informasi-informasi yang ada dan hanya memunculkan yang sesuai dengan preferensi pengguna media sosial. Hasil penelitian menunjukkan bagi jurnalis, algoritma konten merupakan sebuah bentuk tantangan. Mau tidak mau dan suka tidak suka terutama yang bekerja di publisher digital harus menghadapi algoritma konten. Tapi itu menjadi sebuah pilihan bagi jurnalis, mau mengikuti algoritma konten atau tidak. Bagi publisher digital yang mencari traffic dan impresi serta tingkat keterlibatan audience maka tentu saja harus mengikuti algoritma konten dari platform. Namun, walau pun mengikuti algoritma konten dalam menulis berita; jurnalis harus tetap berpegang teguh pada prinsip dan kaidah jurnalistik, kode etik jurnalistik, serta pedoman pemberitaan, dan panduan pengguna platform yang berlaku. Hal ini untuk menjamin validitas informasi, meminimalisir timbulnya hoaks, dan mengedepankan jurnalisme berkualitas.

In the post-truth era, journalists are faced with the presence of various social media platforms which are increasingly popular among people who have a high level of dependence on gadgets. The public is no longer dependent on news written by journalists to obtain the latest information. This information need has been provided by social media platforms, which implement machine learning technology so that they are able to study the habits and behavior of their users to present content according to user interests. The existence of an algorithm produces a bubble filter, which is a situation where the information that appears on the user's social media is uniform. This is caused by social media filter algorithms that filter existing information and only bring up those that match the preferences of social media users. The research results show that for journalists, content algorithms are a form of challenge. Like it or not and like it or not, especially those working in digital publishers have to face content algorithms. But it becomes a choice for journalists, whether they want to follow the content algorithm or not. For digital publishers looking for traffic and impressions as well as the level of audience involvement, of course they have to follow the platform's content algorithm. However, even if you follow the content algorithm in writing news; Journalists must adhere to journalistic principles and rules, a journalistic code of ethics, as well as reporting guidelines and applicable platform user guidelines. This is to ensure the validity of information, minimize the emergence of hoaxes, and promote quality journalism.

Unduhan

Diterbitkan

2026-07-01