https://ojs.co.id/1/index.php/jpkp/issue/feed Jurnal Pemikiran dan Kajian Pendidikan 2026-01-30T14:40:32+00:00 Open Journal Systems https://ojs.co.id/1/index.php/jpkp/article/view/4219 MUSYAWARAH SEBAGAI FONDASI PENINGKATAN MUTU HIDUP BERSAMA: PERSPEKTIF PANCASILA DAN REFLEKSI BIBLIS 2026-01-03T09:44:26+00:00 Emilianus Rango [email protected] <p><span lang="EN-US" style="font-size: 11pt;">Indonesia sebagai bangsa yang plural dihadapkan pada tantangan dalam mengelola perbedaan pandangan, kepentingan, dan identitas sosial agar tidak berkembang menjadi konflik. Dalam konteks tersebut, musyawarah sebagaimana ditegaskan dalam sila keempat Pancasila memiliki peran strategis sebagai fondasi etis dan demokratis dalam meningkatkan mutu kehidupan bersama. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji makna dan peran musyawarah dalam kehidupan bersama melalui perspektif Pancasila serta refleksi biblis, guna memperkaya pemahaman konseptual mengenai musyawarah sebagai nilai pemersatu. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode kepustakaan (library research), melalui telaah terhadap teks Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Kitab Suci, serta berbagai literatur ilmiah yang relevan dari perspektif filsafat, sosial, dan teologis. Hasil kajian menunjukkan bahwa musyawarah tidak hanya berfungsi sebagai mekanisme pengambilan keputusan, tetapi juga sebagai nilai etis yang menekankan kesetaraan, kebebasan berpendapat yang bertanggung jawab, rasionalitas, etika dialog, dan kebijaksanaan berorientasi jangka panjang. Refleksi biblis menegaskan bahwa musyawarah merupakan panggilan moral untuk membangun kebersamaan, persatuan, dan tanggung jawab kolektif. Dengan demikian, penghayatan dan penerapan musyawarah secara konsisten berkontribusi signifikan dalam mencegah konflik, memperkuat relasi sosial, serta meningkatkan mutu kehidupan bersama yang adil, harmonis, dan berkeadaban.</span></p> <p><em>Indonesia as a pluralistic nation faces ongoing challenges in managing differences in perspectives, interests, and social identities so that they do not escalate into social conflict. In this context, deliberation (musyawarah), as emphasized in the fourth principle of Pancasila, plays a strategic role as an ethical and democratic foundation for improving the quality of communal life. This study aims to examine the meaning and role of deliberation in communal life from the perspectives of Pancasila and biblical reflection, in order to strengthen the conceptual understanding of deliberation as a unifying value. This research employs a qualitative approach using a library research method, analyzing Pancasila, the 1945 Constitution of the Republic of Indonesia, the Bible, and relevant scholarly literature from philosophical, social, and theological perspectives. The findings indicate that deliberation functions not merely as a decision-making mechanism, but also as an ethical value that emphasizes equality, responsible freedom of expression, rationality, dialogical ethics, and long-term wisdom. Biblical reflection further affirms deliberation as a moral calling to foster togetherness, unity, and collective responsibility. Therefore, the consistent internalization and implementation of deliberation contribute significantly to conflict prevention, the strengthening of social relations, and the enhancement of a just, harmonious, and civilized communal life</em></p> 2026-01-30T00:00:00+00:00 Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Pemikiran dan Kajian Pendidikan https://ojs.co.id/1/index.php/jpkp/article/view/4362 IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN MENDALAM MELALUI GROWTH MINDSET (STUDI KASUS DI SD IT MADANI) 2026-01-30T12:31:14+00:00 Githo [email protected] Lintang Markhamah Watianur Azizah [email protected] Suhariyanto [email protected] Hikmatul Haniah [email protected] Nurkolis Majid [email protected] Bambang Priyowahono [email protected] R Supyan Sauri [email protected] Helmawati [email protected] Hanafiah [email protected] <h1>Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi kebijakan supervisi akademik dalam meningkatkan kompetensi guru melalui pembelajaran deep learning di SD Islam Terpadu Madani Kabupaten Tulang Bawang Barat. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi pembelajaran, dan studi dokumentasi, sedangkan analisis data menggunakan model interaktif yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi supervisi akademik telah dilaksanakan melalui tahapan perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan evaluasi, namun belum sepenuhnya berorientasi pada peningkatan kompetensi guru secara substantif. Pada tahap perencanaan dan evaluasi, supervisi masih didominasi oleh pendekatan administratif dan belum mengintegrasikan indikator pembelajaran deep learning serta penguatan growth mindset guru. Pengorganisasian supervisi melalui pendelegasian kewenangan telah berjalan secara struktural, tetapi belum diiringi dengan penguatan kapasitas supervisor sebagai pembina profesional guru. Pelaksanaan supervisi masih dipersepsikan sebagai evaluasi kinerja, sehingga belum mampu mendorong refleksi pedagogik dan perubahan praktik pembelajaran secara berkelanjutan. Kendala utama meliputi dominannya paradigma supervisi administratif, keterbatasan pemahaman tentang pembelajaran deep learning dan growth mindset, serta keterbatasan waktu guru untuk refleksi pembelajaran. Oleh karena itu, solusi strategis yang diperlukan adalah reorientasi supervisi akademik menuju pembinaan profesional yang kolaboratif dan reflektif, penguatan kepemimpinan pembelajaran kepala sekolah, serta integrasi hasil pelatihan guru ke dalam agenda supervisi akademik untuk menjamin keberlanjutan pembelajaran deep learning dan peningkatan kompetensi guru.</h1> 2026-01-30T00:00:00+00:00 Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Pemikiran dan Kajian Pendidikan https://ojs.co.id/1/index.php/jpkp/article/view/4344 PERAN GURU SEBAGAI PENDIDIK PROFESIONAL DAN ORANG TUA DALAM MEMBENTUK DAN MEMANTAU PERKEMBANGAN ANAK 2026-01-26T04:46:02+00:00 Daffa Nailah Fakriyah Jusman [email protected] Nurfadillah [email protected] Azmin Karman [email protected] Mirnawati [email protected] Muh Syaiful [email protected] Musdalifa [email protected] <h1>Guru merupakan komponen utama dalam sistem pendidikan yang berperan strategis dalam membentuk dan mengembangkan potensi peserta didik. Dalam praktik pendidikan, guru tidak hanya berfungsi sebagai pendidik profesional yang bertanggung jawab terhadap proses pembelajaran, tetapi juga sebagai figur pengganti orang tua di lingkungan sekolah. Peran ganda ini menempatkan guru pada posisi penting dalam membentuk karakter serta memantau perkembangan anak secara akademik, sosial, emosional, dan moral. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara mendalam peran guru sebagai pendidik profesional dan orang tua dalam membentuk serta memantau perkembangan anak. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka terhadap berbagai sumber ilmiah yang relevan. Hasil kajian menunjukkan bahwa profesionalisme guru tercermin dalam penguasaan kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional, sedangkan peran keorangtuaan diwujudkan melalui sikap empati, keteladanan, perlindungan, dan pendampingan berkelanjutan. Sinergi antara kedua peran tersebut terbukti berkontribusi signifikan terhadap perkembangan anak secara holistik. Penelitian ini menegaskan bahwa keberhasilan pendidikan anak sangat bergantung pada kemampuan guru dalam mengintegrasikan peran profesional dan keorangtuaan secara seimbang.</h1> <h1><em>Teachers are a central component of the education system and play a strategic role in shaping and developing students’ potential. In educational practice, teachers function not only as professional educators responsible for the learning process but also as parental figures within the school environment. This dual role positions teachers as key agents in shaping students’ character and monitoring their academic, social, emotional, and moral development. This study aims to examine in depth the role of teachers as professional educators and parental figures in shaping and monitoring children’s development. A qualitative approach was employed using a literature review method by analyzing relevant academic sources. The findings indicate that teacher professionalism is reflected in the mastery of pedagogical, personal, social, and professional competencies, while the parental role is manifested through empathy, role modeling, protection, and continuous guidance. The synergy between these two roles significantly contributes to children’s holistic development. This study emphasizes that the success of children’s education largely depends on teachers’ ability to integrate professional and parental roles in a balanced manner.</em></h1> 2026-01-30T00:00:00+00:00 Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Pemikiran dan Kajian Pendidikan https://ojs.co.id/1/index.php/jpkp/article/view/4312 PENERAPAN MODEL ATIK MELALUI KEGIATAN COOKING JELLY JERUK PADA ANAK TK B PANGUDI LUHUR JAKARTA 2026-01-20T09:06:26+00:00 Sri Watini [email protected] Theresia Pipit Dwi Hindarti [email protected] Nunuk Eny Kisworo [email protected] I Made Suardana Putra [email protected] Bahtiar [email protected] Sri Lestari [email protected] <p>Penelitian tindakan kelas ini bertujuan untuk meningkatkan perkembangan anak usia dini melalui penerapan aktivitas ATIK (Amati, Tiru, dan Kerjakan) dalam kegiatan cooking membuat jelly jeruk pada anak kelompok TK B Pangudi Luhur Jakarta. Penelitian dilaksanakan dengan model PTK John Elliott yang terdiri atas tahap perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi, serta dilakukan dalam dua siklus. Subjek penelitian berjumlah 24 anak usia 5–6 tahun. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, catatan lapangan, dan dokumentasi. Data dianalisis secara deskriptif kuantitatif dengan teknik persentase. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan perkembangan anak yang signifikan. Pada siklus I, persentase capaian perkembangan anak mencapai 62% dengan kualifikasi Baik. Setelah dilakukan perbaikan pada siklus II, persentase meningkat menjadi 83% dengan kualifikasi Sangat Baik. Peningkatan ini menunjukkan bahwa kegiatan cooking jelly jeruk berbasis aktivitas ATIK efektif dalam meningkatkan keterlibatan aktif, kemandirian, serta perkembangan anak usia dini. Dengan demikian, model ATIK melalui kegiatan cooking dapat dijadikan alternatif pembelajaran kontekstual dan bermakna di satuan PAUD.</p> <p><em>This classroom action research aimed to enhance early childhood development through the implementation of ATIK activities (Observe, Imitate, and Practice) in an orange jelly cooking activity for kindergarten B students at Pangudi Luhur Kindergarten Jakarta. The study employed John Elliott’s action research model, consisting of planning, action, observation, and reflection stages, conducted in two cycles. The participants were 24 children aged 5–6 years. Data were collected through observation, field notes, and documentation, and analyzed using descriptive quantitative techniques with percentage calculations. The results showed a significant improvement in children’s development. In Cycle I, the achievement percentage reached 62%, categorized as Good. After improvements were made in Cycle II, the percentage increased to 83%, categorized as Very Good. These findings indicate that ATIK-based cooking activities are effective in improving children’s active engagement, independence, and overall development. Therefore, the ATIK model integrated with cooking activities can serve as a meaningful and contextual learning approach in early childhood education settings.</em></p> 2026-01-30T00:00:00+00:00 Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Pemikiran dan Kajian Pendidikan https://ojs.co.id/1/index.php/jpkp/article/view/4235 PENGARUH KECERDASAN EMOSIONAL SISWA TERHADAP SIKAP SOSIAL SISWA KELAS VIII DI SMP LOKON St. NIKOLAUS TOMOHON 2026-01-07T10:34:29+00:00 Jearne Felix Imbang [email protected] Maikel Billy Ausa [email protected] Fransisca Ivonia Langkeng [email protected] Benedikta Marselina Watulanngkouw [email protected] Clarita jeannica Wantania [email protected] <p>Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kecerdasan emosional terhadap sikap sosial siswa kelas VIII di SMP Lokon St. Nikolaus Tomohon. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode korelasional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VIII SMP Lokon St. Nikolaus Tomohon, dengan jumlah sampel sebanyak 50 siswa yang ditentukan menggunakan teknik purposive sampling. Instrumen penelitian yang digunakan berupa angket kecerdasan emosional dan angket sikap sosial yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Data penelitian dianalisis menggunakan analisis statistik deskriptif dan analisis inferensial melalui uji regresi linear sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kecerdasan emosional berpengaruh secara signifikan terhadap sikap sosial siswa kelas VIII di SMP Lokon St. Nikolaus Tomohon. Temuan ini mengindikasikan bahwa semakin tinggi kecerdasan emosional siswa, maka semakin baik pula sikap sosial yang ditunjukkan dalam kehidupan sekolah. Oleh karena itu, pengembangan kecerdasan emosional siswa perlu mendapat perhatian dalam proses pembelajaran sebagai upaya membentuk sikap sosial yang positif.</p> <p><em>This study aims to determine the effect of emotional intelligence on the social attitudes of eighth-grade students at Lokon St. Nikolaus Middle School, Tomohon. This study used a quantitative approach with a correlational method. The population in this study were all eighth-grade students of Lokon St. Nikolaus Middle School, Tomohon, with a sample size of 50 students determined using a purposive sampling technique. The research instruments used were an emotional intelligence questionnaire and a social attitude questionnaire, both of which had been tested for validity and reliability. The research data were analyzed using descriptive statistical analysis and inferential analysis through simple linear regression. The results showed that emotional intelligence significantly influenced the social attitudes of eighth-grade students at Lokon St. Nikolaus Middle School, Tomohon. This finding indicates that the higher a student's emotional intelligence, the better their social attitudes in school life. Therefore, the development of students' emotional intelligence needs to be given attention in the learning process as an effort to shape positive social attitudes.</em></p> 2026-01-30T00:00:00+00:00 Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Pemikiran dan Kajian Pendidikan https://ojs.co.id/1/index.php/jpkp/article/view/4345 MANAJEMEN PEMBELAJARAN MENDALAM SEBAGAI UPAYA PENGUATAN GROWT MINDSET (STUDI KASUS DI TULANG BAWANG BARAT) 2026-01-26T08:49:02+00:00 Githo [email protected] Lintang Markhamah Watianur Azizah [email protected] Suhariyanto [email protected] Hikmatul Haniah [email protected] Nurkolis Majid [email protected] Bambang Priyowahono [email protected] Endang Komara [email protected] Agus Mulyanto [email protected] Andriana Gaffar [email protected] <p>Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis manajemen pembelajaran growth mindset sebagai upaya mewujudkan pembelajaran mendalam di sekolah dasar, dengan studi kasus di SD IT Madani Kecamatan Tulang Bawang Tengah, Kabupaten Tulang Bawang Barat, Provinsi Lampung. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan desain studi kasus. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi pembelajaran, wawancara mendalam dengan kepala sekolah dan guru, serta studi dokumentasi terhadap perangkat pembelajaran dan laporan hasil belajar. Analisis data dilakukan secara deskriptif-analitis dengan tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa manajemen pembelajaran growth mindset di SD IT Madani telah mulai diterapkan dalam praktik pembelajaran, terutama melalui inisiatif individual guru dalam memberikan motivasi, penguatan usaha belajar, dan penciptaan suasana kelas yang suportif. Namun, penerapan tersebut belum terkelola secara sistematis dan terintegrasi pada level sekolah. Growth mindset dan pembelajaran mendalam belum dirumuskan secara eksplisit dalam perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran, sehingga implementasinya masih bersifat parsial. Pembelajaran masih cenderung berorientasi pada penyelesaian materi dan pencapaian hasil kognitif, sementara fungsi reflektif evaluasi pembelajaran belum dimanfaatkan secara optimal. Variasi pemahaman dan kompetensi pedagogik guru juga memengaruhi kualitas penerapan growth mindset dan pembelajaran mendalam di kelas. Penelitian ini menyimpulkan bahwa penguatan manajemen pembelajaran berbasis growth mindset perlu dilakukan secara komprehensif melalui kebijakan sekolah, kepemimpinan pembelajaran, serta pengembangan profesional guru yang berkelanjutan agar pembelajaran mendalam dapat terwujud secara konsisten di sekolah dasar. Penelitian ini memberikan kontribusi teoretik dan praktis dalam pengembangan manajemen pembelajaran yang berorientasi pada penguatan proses belajar dan pengembangan pola pikir peserta didik sejak pendidikan dasar.</p> 2026-01-30T00:00:00+00:00 Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Pemikiran dan Kajian Pendidikan https://ojs.co.id/1/index.php/jpkp/article/view/4318 TEORI BELAJAR KOGNITIF DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PEMBELAJARAN 2026-01-21T08:32:48+00:00 Musdalifah [email protected] Febrianti [email protected] Nabila Anggun [email protected] Muzdalifah Zair [email protected] Syamsul Rijal [email protected] Kurnia Azisa [email protected] Khaerunnisa Makmur [email protected] <p>Teori belajar kognitif merupakan pendekatan yang menekankan peran proses mental dalam membangun pengetahuan, termasuk persepsi, memori, dan pemecahan masalah. Penelitian ini menggunakan metode studi pustaka untuk menganalisis konsep teori belajar kognitif serta implikasinya terhadap pembelajaran di berbagai jenjang pendidikan. Hasil kajian menunjukkan bahwa penerapan prinsip-prinsip kognitif, seperti pemetaan konsep, scaffolding, dan strategi metakognitif, dapat meningkatkan keterlibatan siswa, pemahaman konsep, serta kemampuan berpikir kritis dan kreatif. Selain itu, pemahaman guru terhadap teori ini memberikan panduan dalam merancang pengalaman belajar yang efektif dan bermakna. Temuan ini menegaskan pentingnya integrasi teori belajar kognitif dalam praktik pendidikan untuk menghadapi tantangan abad ke-21.</p> <p><em>Cognitive learning theory is an approach that emphasizes the role of mental processes in constructing knowledge, including perception, memory, and problem-solving. This study uses a literature review method to analyze the concepts of cognitive learning theory and its implications i teaching and learning across educational levels. The results indicate that applying cognitive principles, such as concept mapping, scaffolding, and metacognitive strategies, can enhance student engagement, conceptual understanding, and critical and creative thinking skills. Additionally, teachers’ understanding of this theory provides guidance in designing effective and meaningful learning experiences. These findings highlight the importance of integrating cognitive learning theory into educational practice to address the challenges of the 21st century<strong>.</strong></em></p> 2026-02-01T00:00:00+00:00 Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Pemikiran dan Kajian Pendidikan https://ojs.co.id/1/index.php/jpkp/article/view/4236 TANTANGAN DAN SOLUSI DALAM PENDIDIKAN PSIKOLOGI SISWA TERHADAP KESEJAHTERAAN MENTAL DI SMA KATOLIK KARITAS TOMOHON 2026-01-08T04:12:24+00:00 Jearne Felix Imbang [email protected] Richard Yuval Mettan [email protected] Yasinta Lucia Maria Wagiu [email protected] Andrew Vincentius Williyono [email protected] Stivo Benedictus Kumaunang [email protected] <h1 style="margin-left: 0cm; text-align: justify; text-indent: 0cm;"><span lang="EN-US" style="font-size: 11.0pt; font-weight: normal;">Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif untuk mengeksplorasi tantangan serta solusi dalam pendidikan psikologi siswa dalam rangka meningkatkan kesejahteraan mental di SMA Katolik Karitas Tomohon.Melalui wawancara mendalam serta observasi partisipan, penelitian ini mengidentifikasi tantangan utama seperti tekanan akademik, perundungan, serta kurangnya dukungan dari keluarga, serta solusi berbasis pendidikan psikologi seperti program kesadaran emosi dan intervensi kelompok. Hasil menunjukkan bahwa pendidikan psikologi yang terintegrasi dapat meningkatkan kesadaran diri dan kekuatan mental siswa, dengan implikasi praktis bagi kebijakan sekolah Katolik.</span></h1> <h1><em>This study adopts a qualitative approach to explore the challenges and solutions in psychology education for students to improve mental well-being at Catholic High School Karitas Tomohon.Through in-depth interviews and participant observations, this research identifies key challenges such as academic pressure, bullying, and lack of family support, as well as psychology education-based solutions such as emotional awareness programs and group interventions. The results show that integrated psychology education can enhance student resilience, with practical implications for Catholic school policies.</em></h1> 2026-01-30T00:00:00+00:00 Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Pemikiran dan Kajian Pendidikan