Metafisika Harapan Gabriel Marcel sebagai Kritik atas Rasionalitas Instrumental dalam Kebijakan Konsesi Sawit: Refleksi atas Bencana Alam di Sumatera November 2025
Kata Kunci:
Metafisika Harapan, Konsensi Sawit, Rasionalitas InstrumentalAbstrak
Kebijakan konsesi sawit di Indonesia menunjukkan dominasi rasionalitas instrumental yang menempatkan pertumbuhan ekonomi dan efisiensi produksi sebagai tujuan utama pembangunan. Paradigma ini terbukti melahirkan krisis ekologis dan kemanusiaan yang semakin nyata, salah satunya tercermin dalam bencana banjir dan longsor di Sumatera pada November 2025. Artikel ini bertujuan menganalisis metafisika harapan Gabriel Marcel sebagai kritik filosofis terhadap rasionalitas instrumental dalam kebijakan konsesi sawit serta sebagai horizon etis alternatif bagi pembangunan ekologis yang bermartabat. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan terhadap karya utama Marcel dan literatur mutakhir mengenai industri sawit, deforestasi, dan bencana ekologis. Hasil kajian menunjukkan bahwa logika instrumental telah mereduksi alam dan manusia menjadi objek produksi serta mengabaikan dimensi misteri, relasi, dan tanggung jawab etis. Metafisika harapan Marcel menawarkan koreksi mendasar dengan menempatkan harapan sebagai sikap ontologis yang melahirkan kehadiran, kesetiaan kreatif, dan solidaritas ekologis. Dengan demikian, pemikiran Marcel relevan sebagai dasar kritik dan arah baru kebijakan konsesi sawit di Indonesia pasca bencana Sumatera 2025.
Indonesia's palm oil concession policy demonstrates the dominance of instrumental rationality, which places economic growth and production efficiency as the primary goals of development. This paradigm has been proven to give rise to increasingly visible ecological and humanitarian crises, one of which is reflected in the floods and landslides in Sumatra in November 2025. This article aims to analyze Gabriel Marcel's metaphysics of hope as a philosophical critique of instrumental rationality in palm oil concession policy and as an alternative ethical horizon for dignified ecological development. This research uses qualitative methods with a library study approach to Marcel's main works and recent literature on the palm oil industry, deforestation, and ecological disasters. The results of the study show that instrumental logic has reduced nature and humans to objects of production and ignored the dimensions of mystery, relationships, and ethical responsibility. Marcel's metaphysics of hope offers a fundamental correction by positioning hope as an ontological attitude that gives rise to presence, creative loyalty, and ecological solidarity. Thus, Marcel's thinking is relevant as a basis for criticism and a new direction for palm oil concession policy in Indonesia after the 2025 Sumatra disaster.




