Jurnal Lingkar Pembelajaran Inovatif
https://ojs.co.id/1/index.php/jlpi
id-IDJurnal Lingkar Pembelajaran InovatifSEJARAH PENDIDIKAN INKLUSI
https://ojs.co.id/1/index.php/jlpi/article/view/4331
<p>Pendidikan inklusif memastikan semua siswa, termasuk mereka yang membutuhkan dukungan tambahan, memiliki akses ke pembelajaran berkualitas. Artikel ini membahas asal-usul, implementasi, dan kebijakan pemerintah terkait. Saya meninjau buku, artikel ilmiah, dokumen kebijakan, dan laporan internasional tentang pendidikan inklusif. Penelitian menunjukkan bahwa pendidikan inklusif telah berevolusi dari memisahkan siswa berkebutuhan khusus menjadi mengintegrasikan mereka, dan sekarang menjadi sistem yang benar-benar inklusif. Perubahan ini menandakan pergeseran dalam memandang pendidikan, menekankan pentingnya keragaman dalam pembelajaran. Hal ini mengharuskan pemerintah dan sekolah untuk memastikan akses yang adil dan setara bagi semua siswa. Kata kunci: pendidikan inklusif, sejarah.</p> <p><em>Inclusive education ensures all students, including those needing extra support, have access to quality learning. This article discusses its origins, implementation, and related government policies. I reviewed books, scientific articles, policy documents, and international reports on inclusive education. The research indicates that inclusive education has evolved from segregating students with special needs to integrating them, and now to a truly inclusive system. This change signifies a shift in viewing education, emphasizing the importance of diversity in learning. It also requires governments and schools to ensure fair and equal access for all students. Keywords: inclusive education, history.</em></p>MaemunahIndah FebriyantiFaren Aulia MeilaniSiti FatimahLaxmi Permata Suardi
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Lingkar Pembelajaran Inovatif
2026-01-302026-01-3071PEDAMPINGAN PSIKOLOGI POSITIF DI MADRASAH TSANAWIYAH NURUL HASANA SUNGAI GELAM
https://ojs.co.id/1/index.php/jlpi/article/view/4216
<p>Kesejahteraan psikologis siswa merupakan aspek penting dalam menunjang perkembangan akademik dan sosial, khususnya di lingkungan sekolah dengan keterbatasan akses psikoedukasi. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan konsep diri dan kesejahteraan psikologis siswa melalui pendampingan berbasis psikologi positif. Kegiatan dilaksanakan pada siswa kelas VIII A MTs Nurul Hasanah Desa Sungai Gelam, dengan menggunakan pendekatan partisipatif dan intervensi edukatif. Metode pelaksanaan meliputi observasi awal, pemberian materi psikologi positif, latihan refleksi diri, diskusi kelompok, serta sesi berbagi cerita dan umpan balik antarsiswa. Evaluasi dilakukan melalui pre-test dan post-test menggunakan skala konsep diri serta wawancara singkat. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan rata-rata skor konsep diri siswa sebesar 25%, disertai peningkatan kesadaran diri, keterbukaan dalam komunikasi, dan kemampuan menerima umpan balik secara positif. Temuan ini menunjukkan bahwa pendampingan psikologi positif efektif dalam mendukung pengembangan pribadi dan kesejahteraan psikologis siswa. Oleh karena itu, pendekatan ini direkomendasikan untuk diintegrasikan secara berkelanjutan dalam program pembinaan siswa di lingkungan sekolah.</p> <p><em>Student psychological well-being is a crucial aspect in supporting academic and social development, particularly in schools with limited access to psychoeducation. This community service activity aims to improve students' self-concept and psychological well-being through positive psychology-based mentoring. The activity was conducted with grade VIII A students at MTs Nurul Hasanah, Sungai Gelam Village, using a participatory approach and educational interventions. Implementation methods included initial observation, positive psychology material, self-reflection exercises, group discussions, and student sharing and feedback sessions. Evaluation was conducted through pre- and post-tests using a self-concept scale and brief interviews. The results of the activity showed a 25% increase in students' average self-concept scores, accompanied by increased self-awareness, openness in communication, and the ability to accept positive feedback. These findings indicate that positive psychology mentoring is effective in supporting students' personal development and psychological well-being. Therefore, this approach is recommended for ongoing integration into student development programs within the school environment.</em></p>Rizky AdiyatmaDewi RevalinaAdinda Amelia PutriTeri Santera
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Lingkar Pembelajaran Inovatif
2026-01-302026-01-3071DASAR HUKUM DAN KEBIJAKAN PENDIDIKAN INKLUSI UU NO 8/2016 DAN PERMENDIKNAS NO 70/2009
https://ojs.co.id/1/index.php/jlpi/article/view/4351
<p>Pendidikan inklusif merupakan strategi nasional yang mandatnya berakar pada UUD 1945 untuk menjamin akses pendidikan setara bagi anak berkebutuhan khusus (ABK) di sekolah reguler. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis landasan hukum pendidikan inklusi melalui tinjauan UU No. 8 Tahun 2016 dan Permendiknas No. 70 Tahun 2009, serta mengevaluasi hambatan implementasinya di tingkat sekolah dasar. Metode penelitian yang digunakan adalah studi literatur (Systematic Literature Review) terhadap 10 artikel jurnal nasional dan dokumen kebijakan terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara normatif Indonesia memiliki regulasi yang kuat, namun terdapat kesenjangan signifikan dalam praktik operasional. Hambatan utama meliputi keterbatasan kompetensi Guru Pendamping Khusus (GPK), sarana prasarana yang tidak aksesibel, kurikulum yang kaku, serta lemahnya koordinasi sistemik dan pemantauan dari pemerintah daerah. Penelitian ini merekomendasikan perlunya modifikasi kurikulum dan pelatihan guru secara masif guna mewujudkan sistem pendidikan yang benar-benar akomodatif bagi semua anak. (Anwar dkk., 2024; Robiyah dkk., 2024).</p> <p><em>Inclusive education is a national strategy mandated by the 1945 Constitution to ensure equitable access to education for children with special needs (ABK) in regular schools. This study aims to analyze the legal basis of inclusive education through a review of Law No. 8 of 2016 and Permendiknas No. 70 of 2009, as well as to evaluate the obstacles to its implementation at the elementary school level. The research method used is a systematic literature review of 10 national journal articles and related policy documents. The results show that while Indonesia has strong normative regulations, there is a significant gap in operational practice. The main obstacles include limited competence of Special Assistant Teachers (GPK), inaccessible infrastructure, rigid curricula, and weak systemic coordination and monitoring by local governments. This study recommends the need for curriculum modification and massive teacher training to realize an education system that is truly accommodative for all children. (Anwar dkk., 2024; Robiyah dkk., 2024).</em></p>Irodati KarimahAstri IndrianiLaxmi Permata Sari SuardiFifi Haryani
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Lingkar Pembelajaran Inovatif
2026-01-302026-01-3071MENGENAL DAN MEMAHANI JENIS-JENIS ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS (ABK)
https://ojs.co.id/1/index.php/jlpi/article/view/4329
<p>Sekolah inklusif adalah lembaga pendidikan yang menerima dan memberikan layanan kepada semua anak tanpa kecuali dalam satu lingkungan belajar, tanpa menghiraukan perbedaan dalam kondisi fisik, intelektual, sosial, emosional, atau perbedaan lainnya. Program pendidikan inklusif mencakup anak-anak dengan kebutuhan khusus, mereka yang kurang termotivasi untuk belajar, kurang berbakat, anak jalanan, serta anak-anak dari keluarga dengan latar belakang ekonomi yang kurang mampu. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran media pembelajaran digital dalam mendukung pelaksanaan pendidikan inklusif bagi anak-anak berkebutuhan khusus. Teknologi dalam pendidikan inklusif menciptakan lingkungan belajar yang lebih luas, terbuka, dan bersahabat untuk semua siswa. Sistem pendidikan ini menekankan pentingnya saling menghargai dan menghormati keberagaman. Oleh karena itu, penerapan teknologi dalam pendidikan inklusif bertujuan untuk mengatasi hambatan, memecahkan masalah pembelajaran, dan mendukung pelaksanaan pendidikan bagi anak-anak dengan kebutuhan khusus.(Inayah & Prasetyo, n.d.)</p> <p><em>Increasing the implementation of inclusive education in Indonesia requires a comprehensive understanding of children with special need as the basis for the implementation of equitable education services. However, various studies show that educators' understanding of the types and characteristics of ABK is still limited and tends to be general. This article aims to recognize and comprehensively understand the types of children with special needs through a study of their characteristics, needs, and implications in educational services. This study uses a qualitative approach with a literature study method on accredited national journals, reference books, and relevant education policy documents in the last five years. Data was analyzed using content analysis techniques to identify and synthesize key concepts related to crew classification. The results of the study showed that ABK has a diversity of characteristics that include sensory, intellectual, physical, developmental, emotional and behavioral disorders, specific learning difficulties, as well as attention deficit disorders and hyperactivity. Proper understanding of the types of ABK plays an important role in the accuracy of identification, design of educational services, and the implementation of adaptive learning strategies. This study emphasizes that the conceptual understanding of ABK is the main foundation in realizing inclusive education that is adaptive and equitable.</em></p>Laxmi Permata Sari SuardiEvie NuryaniRachel AlifaAlda Sapriyah
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Lingkar Pembelajaran Inovatif
2026-01-302026-01-3071IMPLEMENTASI RPS PENDIDIKAN INKLUSI
https://ojs.co.id/1/index.php/jlpi/article/view/4341
<p>Semua siswa, termasuk mereka yang berkebutuhan khusus, dijamin akses yang sama terhadap kesempatan pendidikan berkualitas tinggi melalui penerapan kebijakan dan praktik pendidikan inklusif. Melalui penelitian kualitatif, implementasi RPS inklusif dapat dipahami sebagai sebuah proses yang dinamis dimana interaksi, konteks, dan praktik pembelajaran menjadi pusat perhatian. Pengambilan data biasanya dilangsungkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Yang saling melengkapi untuk meningkatkan keabsahan data. Penelitian ini bertujuan mengungkap bagaimana pengalaman para pelaksana dapat menjadi dasar untuk meningkatkan kualitas pembelajaran yang lebih adil, ramah, dan merata bagi semua mahasiswa. Metodenya bersifat induktif, mengutamakan makna yang terletak pada proses refleksi yang berkelanjutan. Metode penelitian kualitatif menawarkan berbagai pendekatan yang dapat disesuaikan dengan konteks penelitian yang berbeda. Pendekatan ini meliputi metodologi naturalistik, fenomenologis, etnografis, studi kasus, dan historis. Penelitian kualitatif menyediakan pendekatan yang menarik dan baru untuk pengumpulan dan analisis data melalui metode seperti studi kasus, wawancara, dan observasi.</p> <p><em>All students, including those with special needs, are guaranteed equal access to high-quality educational opportunities through the implementation of inclusive education policies and practices. Through qualitative research, the implementation of inclusive RPS can be understood as a dynamic process where interactions, contexts, and learning practices are central. Data collection typically takes place through observation, interviews, and documentation, which complement each other to enhance data validity. This research aims to uncover how the experiences of implementers can form the basis for improving the quality of learning that is fairer, more welcoming, and more equitable for all students. The method is inductive, prioritizing meaning that lies in a continuous process of reflection. Qualitative research methods offer a variety of approaches that can be adapted to different research contexts. These approaches include naturalistic, phenomenological, ethnographic, case study, and historical methodologies. Qualitative research provides interesting and novel approaches to data collection and analysis through methods such as case studies, interviews, and observation.</em></p>Frailani MagfirohSiti Nur Aliviyah
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Lingkar Pembelajaran Inovatif
2026-01-302026-01-3071IMPLEMENTASI PENDIDIKAN INKLUSI DI SEKOALH DASAR
https://ojs.co.id/1/index.php/jlpi/article/view/4327
<p>Pendidikan inklusi merupakan pendekatan pendidikan yang memberikan kesempatan yang setara bagi seluruh peserta didik, termasuk anak berkebutuhan khusus, untuk belajar bersama di sekolah reguler. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji implementasi pendidikan inklusi di sekolah dasar serta mengidentifikasi tantangan dan upaya yang dilakukan dalam pelaksanaannya. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan metode studi literatur, yaitu menelaah berbagai jurnal ilmiah dan buku referensi yang relevan dengan pendidikan inklusi. Hasil kajian menunjukkan bahwa implementasi pendidikan inklusi di sekolah dasar telah berjalan, namun belum sepenuhnya optimal. Tantangan utama meliputi keterbatasan kompetensi guru, kurangnya sarana dan prasarana pendukung, serta belum maksimalnya modifikasi kurikulum dan pembelajaran. Selain itu, proses identifikasi peserta didik berkebutuhan khusus masih menjadi kendala di beberapa sekolah. Oleh karena itu, diperlukan peningkatan kapasitas guru, penguatan kolaborasi antar pemangku kepentingan, serta evaluasi program secara berkelanjutan agar pendidikan inklusi dapat memberikan layanan pendidikan yang adil dan bermutu bagi seluruh peserta didik.</p> <p><em>Assessment and identification of learning needs for children with special needs play a crucial Inclusive education is an educational approach that provides equal learning opportunities for all students, including those with special needs, to learn together in regular schools. This study aims to examine the implementation of inclusive education in elementary schools and to identify the challenges and efforts in its application. The research method used is a qualitative approach with a literature study, reviewing scientific journals and relevant reference books related to inclusive education. The results indicate that the implementation of inclusive education in elementary schools has been carried out but has not yet been fully optimized. The main challenges include limited teacher competence, inadequate supporting facilities, and insufficient curriculum and instructional modifications. In addition, the identification of students with special needs remains a significant issue in several schools. Therefore, continuous improvement in teacher capacity, strengthened collaboration among stakeholders, and systematic program evaluation are necessary to ensure that inclusive education provides equitable and quality educational services for all students.</em></p>RestiLaxmi Permata Sari SuardiImas PurnamasariZahra Fadla Amalia
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Lingkar Pembelajaran Inovatif
2026-01-302026-01-3071STRATEGI PEMBELAJARAN AKTIVITAS RITMIK DI SEKOLAH DASAR
https://ojs.co.id/1/index.php/jlpi/article/view/4337
<p>Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya strategi pembelajaran yang efektif dalam aktivitas ritmik untuk meningkatkan keterampilan gerak dan keterlibatan belajar siswa di sekolah dasar. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan strategi pembelajaran aktivitas ritmik yang diterapkan di UPT SDN 005 Bukit Ranah serta mengidentifikasi kendala yang dihadapi dalam proses pembelajaran. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara dengan guru PJOK dan siswa, serta dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi pembelajaran aktivitas ritmik yang diterapkan telah berorientasi pada peserta didik dan sesuai dengan prinsip Kurikulum Merdeka. Guru menggunakan metode demonstrasi, latihan berulang, pemberian motivasi, serta iringan musik dalam pembelajaran. Namun, hasil belajar siswa belum sepenuhnya optimal karena masih terdapat kendala berupa kurangnya fokus siswa, kesulitan dalam melakukan gerakan kombinasi, serta pengelolaan kelas yang belum maksimal. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa strategi pembelajaran aktivitas ritmik perlu terus dikembangkan dan disesuaikan dengan kemampuan siswa agar pembelajaran dapat berlangsung lebih efektif dan tujuan pembelajaran dapat tercapai.</p> <p><em>This study is motivated by the importance of effective learning strategies in rhythmic activities to improve students’ motor skills and learning engagement at the elementary school level. The purpose of this study was to describe the learning strategies used in rhythmic activity instruction at UPT SDN 005 Bukit Ranah and to identify the obstacles encountered during the learning process. This research employed a qualitative descriptive method. Data were collected through observation, interviews with physical education teachers and students, and documentation. The results of the study indicate that the rhythmic activity learning strategies implemented have been student-centered and aligned with the principles of the Merdeka Curriculum. Teachers applied demonstration methods, repetitive practice, motivation, and music accompaniment to support learning activities. However, the learning outcomes have not been fully optimal due to several constraints, such as students’ lack of focus, difficulties in performing movement combinations, and classroom management challenges. In conclusion, rhythmic activity learning strategies need to be continuously developed and adjusted to students’ abilities to enhance participation, improve movement skills, and achieve learning objectives effectively.</em></p>Raffly HenjilitoEbi NursyalilaMeli SafitriNabila AinurrahmiMutiara OktavionaAnanda MustikaNabillah HerzaTiara Salsa BillaMaghfiro RamadhaniMiftahul JannahLiza MarsyaliaTika Azira
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Lingkar Pembelajaran Inovatif
2026-01-302026-01-3071PERAN GURU DAN TENAGA PENDUKUNG DI TENAGA INKLUSI
https://ojs.co.id/1/index.php/jlpi/article/view/4314
<p>Pendidikan inklusi menuntut layanan pembelajaran yang mampu mengakomodasi keberagaman peserta didik, termasuk anak berkebutuhan khusus, melalui dukungan sumber daya manusia pendidikan yang kompeten dan kolaboratif. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis peran guru dan tenaga pendukung dalam pendidikan inklusi, mengidentifikasi pola kolaborasi yang efektif, serta menelaah kontribusinya terhadap kualitas pembelajaran dan partisipasi siswa berkebutuhan khusus. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi literatur terhadap artikel jurnal nasional dan internasional yang relevan dan dipublikasikan dalam lima tahun terakhir. Data dianalisis menggunakan analisis tematik untuk mengidentifikasi tema, pola peran, dan hubungan konseptual antar temuan penelitian. Hasil kajian menunjukkan bahwa peran guru dan tenaga pendukung bersifat saling melengkapi dan terintegrasi dalam satu sistem kerja inklusif. Kolaborasi yang terstruktur antara guru dan tenaga pendukung terbukti berkontribusi positif terhadap efektivitas pembelajaran inklusif, keterlibatan belajar siswa, serta pembentukan iklim sekolah yang inklusif. Temuan ini mengonfirmasi hipotesis bahwa kolaborasi sinergis antara guru dan tenaga pendukung merupakan faktor kunci keberhasilan pendidikan inklusi. Artikel ini menegaskan pentingnya pendekatan sistemik dan kerja tim multiprofesi dalam pengembangan kebijakan dan praktik pendidikan inklusi yang berkelanjutan.</p> <p><em>Inclusive education requires learning services that are able to accommodate the diversity of students, including children with special needs, through the support of competent and collaborative educational human resources. This article aims to analyze the role teachers and support staff in inclusive education, identify patterns of effective collaboration, and examine their contribution to the quality of learning and participation of students with special needs. This study uses a qualitative approach with a literature study method on relevant national and international journal articles published in the last five years. Data were analyzed using thematic analysis to identify themes, role patterns, and conceptual relationships between research findings. The results of the study show that the roles of teachers and support staff are complementary and integrated in one inclusive work system. Structured collaboration between teachers and support staff has been proven to contribute positively the effectiveness of inclusive learning, student learning engagement, and the formation of an inclusive school climate. These findings confirm the hypothesis that synergistic collaboration between teachers and support staff is a key factor in the success of inclusive education. This article affirms the importance of systemic approaches and multiprofessional teamwork in the development sustainable inclusive education policies and practices.</em></p>Putri Robiatul AliyahRatna DewiSeli KristianyTarsih
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Lingkar Pembelajaran Inovatif
2026-01-302026-01-3071ASESMEN DAN IDENTIFIKASI KEBUTUHAN BELAJAR ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS (ABK)
https://ojs.co.id/1/index.php/jlpi/article/view/4332
<p>Untuk berhasil menerapkan pendidikan inklusif bagi anak-anak berkebutuhan khusus, penilaian dan identifikasi kebutuhan belajar sangatlah penting. Kemampuan guru untuk memahami ciri-ciri, kemampuan, dan hambatan belajar murid-muridnya memiliki dampak signifikan terhadap keberhasilan pembelajaran. Artikel ini mengulas konsep penilaian, identifikasi kebutuhan belajar, dan perannya dalam pendidikan inklusif. Dengan meneliti buku-buku akademik, catatan institusional, dan jurnal nasional dan internasional, penelitian ini menggunakan metodologi tinjauan pustaka. Temuan menunjukkan bahwa guru dapat menciptakan teknik pembelajaran adaptif yang disesuaikan dengan kebutuhan setiap siswa melalui evaluasi sistematis, kontekstual, dan berkelanjutan. Untuk memaksimalkan layanan pendidikan inklusif, kemampuan penilaian instruktur dan dukungan institusional juga sangat penting. Untuk menciptakan lingkungan belajar yang adil, penilaian dan identifikasi berfungsi sebagai alat diagnostik dan dasar untuk pengambilan keputusan pedagogis.</p> <p><em>In order to successfully implement inclusive education for children with special needs, assessment and learning needs identification are essential. The capacity of teachers to comprehend the traits, capabilities, and learning obstacles of their pupils has a significant impact on the success of learning.The notion of assessment, learning needs identification, and their role in inclusive education are reviewed in this article. By examining academic books, institutional records, and national and international periodicals, the study employs a literature review methodology.The findings show that teachers may create adaptive learning techniques that are customized to each student's requirements through systematic, contextual, and ongoing evaluation. In order to maximize inclusive education services, instructors' assessment proficiency and institutional support are also crucial. In order to create fair learning environments, assessment and identification serve as both diagnostic tools and a basis for pedagogical decision-making.</em></p>Ayu SafitriLaxmi Permata Sari SuardiSafriyahSilviFaidah
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Lingkar Pembelajaran Inovatif
2026-01-302026-01-3071STRATEGI PEMBELAJARAN MEMBACA PEMAHAMAN SISWA KAJIAN PUSTAKA
https://ojs.co.id/1/index.php/jlpi/article/view/4304
<p>Kemampuan membaca pemahaman merupakan keterampilan dasar yang berperan penting dalam keberhasilan akademik siswa, karena menjadi fondasi dalam memahami berbagai mata pelajaran. Namun, berbagai hasil asesmen nasional dan internasional menunjukkan bahwa kemampuan membaca pemahaman siswa Indonesia masih berada pada tingkat yang rendah. Kondisi ini mengindikasikan adanya permasalahan dalam penerapan strategi pembelajaran membaca yang belum optimal dan kurang bervariasi. Oleh karena itu, diperlukan kajian yang komprehensif untuk memetakan strategi pembelajaran membaca pemahaman yang telah diteliti serta mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi keberhasilannya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan mensintesis berbagai strategi pembelajaran membaca pemahaman siswa berdasarkan temuan penelitian empiris di Indonesia. Metode yang digunakan adalah kajian pustaka dengan pendekatan kualitatif, melalui penelusuran dan analisis terhadap artikel jurnal ilmiah yang dipublikasikan pada rentang tahun 2020–2024. Hasil kajian menunjukkan bahwa strategi pembelajaran membaca pemahaman dapat dikelompokkan ke dalam tiga kategori utama, yaitu strategi kognitif, metakognitif, dan sosial-afektif. Secara umum, seluruh strategi yang dikaji menunjukkan pengaruh positif terhadap peningkatan kemampuan membaca pemahaman siswa, dengan strategi yang melibatkan partisipasi aktif dan kolaborasi antar siswa cenderung memberikan hasil yang lebih signifikan. Pembahasan lebih lanjut menunjukkan bahwa keberhasilan penerapan strategi pembelajaran dipengaruhi oleh kompetensi guru, karakteristik siswa, kesesuaian strategi dengan tujuan pembelajaran, serta ketersediaan sumber belajar. Kajian ini diharapkan dapat menjadi rujukan bagi pendidik dalam memilih dan menerapkan strategi pembelajaran membaca pemahaman yang efektif.</p>Dwi ApriliaErniFajar SetiawanFirmansyah
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Lingkar Pembelajaran Inovatif
2026-01-302026-01-3071PENERAPAN METODE DISKUSI KELOMPOK DALAM MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA SEKOLAH DASAR NEGERI 0512 BONAL JAE BATU
https://ojs.co.id/1/index.php/jlpi/article/view/4364
<p>Penelitian ini bertujuan menguji efektivitas metode diskusi kelompok dalam meningkatkan hasil belajar siswa kelas V SDN 0512 Bonal Jae Batu, Kabupaten Padang Lawas. Hasil belajar siswa di sekolah SDN 0512 Bonal Jae Batu sering rendah karena metode pengajaran ceramah yang pasif Penelitian ini menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Penelitian melibatkan siswa kelas V sebanyak 30 siswa dilaksanakan selama 3 minggu. Hasil penelitian menunjukkan sebelum pembelajaran diskusi skor tertinggi 85 skor terendah 50 nilai rata-rata 66,3 siswa tuntas 12 (40) % siswa tidak tuntas 18 (60) % sedangkan sesudah penerapan metode diskusi skor terttinngi 90, skor terendah 60 nilai rata-rata 76,4 siswa tuntas 24 (80)% siswa tidak tuntas 6 (20)%. Dengan perbedaan signifikan partisipasi siswa juga meningkat secara nyata. Temuan ini penting karena membuktikan diskusi kelompok efektif untuk sekolah dasar sehingga guru diwajibkan menerapkannya secara rutin guna meningkatkan mutu pendidikan.</p> <p><em>This study aims to examine the effectiveness of group discussion methods in improving the learning outcomes of fifth-grade students at SDN 0512 Bonal Jae, Padang Lawas Regency. Student learning outcomes at SDN 0512 Bonal Jae are often low due to passive lecture teaching methods. This study uses the Classroom Action Research (CAR) method with a qualitative and quantitative approach. The study involved 30 fifth-grade students and was conducted over a period of three weeks. The results showed that before the discussion-based learning, the highest score was 85, the lowest score was 50, the average score was 66.3, 12 students had mastered the material (40)%, and 18 (60)% did not. After implementing the discussion method, the highest score was 90, the lowest score was 60, the average score was 76.4, 24 (80)% of students mastered the material, and 6 (20)% did not. With a significant difference, student participation also increased significantly. These findings are important because they prove that group discussions are effective for elementary schools, so teachers are required to apply them regularly to improve the quality of education.</em></p>Irma Sari Daulay Hamzah NasutionSaukani Albuchori
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Lingkar Pembelajaran Inovatif
2026-01-312026-01-3171PEMBELAJARAN SEKOLAH INKLUSI DI SEKOLAH LUAR BIASA BOJONEGARA
https://ojs.co.id/1/index.php/jlpi/article/view/4330
<p>Pendidikan inklusif merupakan upaya untuk menjamin hak belajar setiap anak tanpa terkecuali, termasuk peserta didik berkebutuhan khusus. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menggambarkan pelnerapan pembelajaran inklusif di Sekolah Luar Biasa Bojonegara, dengan menitikberatkan pada praktik guru dalam mengelola kelas, menerapkan metode pembelajaran, melakukan penyesuaian materi, serta melaksanakan penilaian yang adil bagi seluruh siswa. Studi ini dilakukan melalui pendekatan deskriptif kualitatif, dimana wawa cara digunakan sebagai Teknik utama dalam memperoleh data. Wawancara dilakukan kepada guru yang terlibat langsung dalam proses pembelajaran untuk memperoleh gambaran mendalam mengenai pengalaman, pandangan, dan strategi yang diterapkan dalam pembelajaran inklusi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru telah berupaya menerapkan prinsip-prinsip pembelajaran inklusif melalui pemberian perhatian yang seimbang antara siswa reguler dan siswa berkebutuhan khusus, penggunaan metode pembelajaran yang variatif berbasis visual dan praktik, serta penyesuaian materi dan tugas sesuai dengan kemampuan siswa. Selain itu, guru juga melibatkan siswa berkebutuhan khusus dalam seluruh kegiatan pembelajaran dan menerapkan penilaian yang berorientasi pada proses serta perkembangan belajar siswa. Meskipun masih terdapat keterbatasan sarana pendukung, praktik pembelajaran yang dilakukan mencerminkan sikap inklusif dan komitmen guru dalam mewujudkan suasana belajar yang setara, adil, aman, dan menghargai keberagaman kemampuan peserta didik.</p> <p><em>Inclusive education is an approach aimed at ensuring equal learning opportunities for all children, including students with special needs. This study seeks to describe how inclusive learning is implemented at special schools bojonegara, with a particular focus on teachers’ practices in managing classrooms, applying instructional methods, adjusting learning materials, and conducting fair assessments for diverse learners. The research employed a qualitative descriptive approach, using interviews as the primary data collection technique. Interviews were conducted with teachers directly involved in inclusive classrooms to gain an in-depth understanding of their experiences, perspectives, and strategies in implementing inclusive education. The findings indicate that teachers have made consistent efforts to apply inclusive learning principles by providing balanced attention to both regular students and students with special needs. Various instructional strategies, particularly visual-based and practical activities, were used to accommodate different learning needs. Teachers also adapted learning materials, assignments, and learning targets according to students’ abilities, while ensuring that students with special needs remained actively involved in classroom activities. Assessment practices were carried out by emphasizing students’ learning processes and individual progress rather than uniform academic outcomes. Despite limitations in facilities and learning support tools, the overall implementation reflects teachers’ commitment to creating a supportive, fair, and inclusive learning environment that respects student diversity.</em></p>Fadiyatun Nufus Jihan Raudatul AisyNailah Nahdzah Jayan Ratna DewiNadhifah Nurjanah Putria
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Lingkar Pembelajaran Inovatif
2026-01-302026-01-3071IDENTIFIKASI PERMASALAHAN NYATA ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS (ABK)
https://ojs.co.id/1/index.php/jlpi/article/view/4342
<p>Anak berkebutuhan khusus (ABK) adalah anak-anak yang perkembangannya berbeda dari anak-anak pada umumnya. Istilah "anak berkebutuhan khusus" merujuk pada dukungan spesifik yang dibutuhkan oleh anak-anak ini, bukan anak-anak dengan disabilitas. Istilah "anak berkebutuhan khusus" mencakup berbagai karakteristik. Anak berkebutuhan khusus diklasifikasikan sebagai tunanetra, tunarungu, keterbelakangan intelektual, disabilitas fisik, ketidakstabilan emosional, dan cerdas serta berbakat dalam pendidikan khusus di Indonesia. Setiap anak berkebutuhan khusus itu unik. Selain itu, setiap anak berkebutuhan khusus membutuhkan bantuan yang spesifik sesuai dengan keterampilan dan karakteristiknya. Untuk memastikan kebutuhan dan karakteristik mereka, tugas identifikasi dan evaluasi harus diselesaikan. Hal ini dianggap penting untuk menerima layanan yang tepat berdasarkan karakteristik, kebutuhan, dan keterampilan mereka.</p> <p><em>Children with extraordinary needs (ABK) are children who develop differently from typical children. The phrase "children with special needs" refers to the specific support that these young people require rather than children with impairments. The term "children with special needs" encompasses a variety of characteristics. Children with special needs are classified as blind, deaf, intellectually retarded, physically challenged, emotionally unstable, and brilliant and talented in Indonesian special education settings. Each child with special needs is unique. Additionally, each kid with exceptional needs requires help that is specific to their skills and traits. To ascertain their requirements and characteristics, identification and evaluation tasks must be completed. This is seen to be crucial for receiving the appropriate service based on the traits, requirements, and skills.</em></p>Cika NuralifaLaxmi Permata Sari SuardiRizka Mutiara Shilfa Muhimatun Ulwiyah
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Lingkar Pembelajaran Inovatif
2026-01-302026-01-3071MENERAPKAN MEDIA DAN TEKNOLOGI PEMBELAJARAN INKLUSI
https://ojs.co.id/1/index.php/jlpi/article/view/4328
<p>Sekolah inklusif adalah lembaga pendidikan yang menerima dan memberikan layanan kepada semua anak tanpa kecuali dalam satu lingkungan belajar, tanpa menghiraukan perbedaan dalam kondisi fisik, intelektual, sosial, emosional, atau perbedaan lainnya. Program pendidikan inklusif mencakup anak-anak dengan kebutuhan khusus, mereka yang kurang termotivasi untuk belajar, kurang berbakat, anak jalanan, serta anak-anak dari keluarga dengan latar belakang ekonomi yang kurang mampu. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran media pembelajaran digital dalam mendukung pelaksanaan pendidikan inklusif bagi anak-anak berkebutuhan khusus. Teknologi dalam pendidikan inklusif menciptakan lingkungan belajar yang lebih luas, terbuka, dan bersahabat untuk semua siswa. Sistem pendidikan ini menekankan pentingnya saling menghargai dan menghormati keberagaman. Oleh karena itu, penerapan teknologi dalam pendidikan inklusif bertujuan untuk mengatasi hambatan, memecahkan masalah pembelajaran, dan mendukung pelaksanaan pendidikan bagi anak-anak dengan kebutuhan khusus.(Inayah & Prasetyo, n.d.)</p>Azzahra Dwi DamayaniLaxmi Permata Sari SuardiFaisila KhaldaMutiara Erya
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Lingkar Pembelajaran Inovatif
2026-01-302026-01-3071IMPLEMENTASI PENDIDIKAN INKLUSI DI SD NEGERI BANYUWANGI II
https://ojs.co.id/1/index.php/jlpi/article/view/4339
<p>Pendidikan inklusi adalah suatu usaha untuk memberikan layanan belajar yang memberikan kesempatan yang sama kepada seluruh siswa, termasuk mereka yang memiliki kebutuhan khusus. Penelitian ini bertujuan menjelaskan proses penyelenggaraan pendidikan inklusi di SD Negeri Banyuwangi 2 dan mengidentifikasi faktor-faktor yang mendukung serta menghambat pelaksanaannya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi, melibatkan guru serta pihak sekolah sebagai sumber utama data. Analisis data dilakukan dengan model analisis interaktif yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Temuan penelitian menunjukkan bahwa SD Negeri Banyuwangi 2 telah melaksanakan pendidikan inklusi dengan menyatukan siswa berkebutuhan khusus di kelas reguler tanpa memisahkan mereka. Guru melakukan adaptasi dalam pembelajaran sesuai dengan kebutuhan siswa dan menciptakan interaksi sosial yang positif di antara para peserta didik. Namun, penerapan pendidikan inklusi masih menghadapi masalah seperti keterbatasan kompetensi guru, kurangnya fasilitas pendukung, dan minimnya pemahaman dari beberapa orang tua serta masyarakat. Langkah-langkah yang diambil oleh sekolah untuk mengatasi masalah tersebut meliputi pelatihan bagi guru, peningkatan fasilitas, dan memperkuat kerja sama antara sekolah, orang tua, dan masyarakat sekitar. Dengan demikian, pendidikan inklusi di SD Negeri Banyuwangi 2 telah berjalan dengan cukup baik, meskipun masih memerlukan dukungan terus-menerus agar pelaksanaannya dapat lebih maksimal.</p> <p><em>Inclusive education refers to efforts aimed at delivering equitable educational opportunities for all learners, including those with exceptional needs. This research aims to explain the process of organizing education is applied at SD Negeri Banyuwangi 2 and to pinpoint both the facilitators and barriers affecting its execution. A qualitative research methodology was utilized, employing a descriptive framework. Information was gathered via interviews, observations, and documentation, focusing on teachers and school personnel as the main data providers. The analysis was carried out using an interactive model which included data reduction, presentation of data, and drawing conclusions. Findings reveal that SD Negeri Banyuwangi 2 has adopted inclusive education by incorporating students with special needs into mainstream classrooms without separation. Educators modify their teaching methods to cater to the specific requirements of individual students and foster positive interactions among all learners. Nonetheless, various obstacles persist, such as insufficient teacher expertise, lack of adequate facilities, and a gap in understanding among certain parents and community members. The school has worked to mitigate these issues through teacher training, upgrading facilities, and enhancing collaboration with parents and the local community. In summary, the rollout of inclusive education at SD Negeri Banyuwangi 2 has made notable advancements, although ongoing support is necessary to reach the best outcomes.</em></p>Nita WardaniHildatul UyunDesti Putri AryantiRatna DewiIlham Mubarok
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Lingkar Pembelajaran Inovatif
2026-01-302026-01-3071CONTOH PENERAPAN STRATEGI PEMBELAJARAN INKLUSIF DI SEKOLAH
https://ojs.co.id/1/index.php/jlpi/article/view/4315
<p>Pendidikan inklusif merupakan pendekatan pendidikan yang menjamin setiap peserta didik memperoleh hak belajar tanpa diskriminasi, termasuk siswa berkebutuhan khusus di sekolah reguler. Peningkatan keberagaman kebutuhan belajar siswa menuntut penerapan strategi pembelajaran yang adaptif dan responsif. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji contoh penerapan strategi pembelajaran inklusif di sekolah berdasarkan kajian literatur nasional. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan desain deskriptif melalui studi literatur. Sumber data berasal dari buku yang terbit dalam sepuluh tahun terakhir dan artikel jurnal nasional yang dipublikasikan dalam lima tahun terakhir. Hasil kajian menunjukkan bahwa strategi pembelajaran inklusif yang banyak diterapkan meliputi pembelajaran berdiferensiasi, pembelajaran kooperatif, pemanfaatan media dan teknologi pembelajaran kreatif, serta penerapan prinsip Universal Design for Learning (UDL). Strategi-strategi tersebut terbukti mampu meningkatkan partisipasi, motivasi, dan interaksi sosial siswa dengan beragam kebutuhan belajar. Keberhasilan penerapan pembelajaran inklusif sangat dipengaruhi oleh kompetensi guru, dukungan fasilitas, serta kolaborasi antara sekolah, orang tua, dan pemangku kepentingan. Oleh karena itu, penguatan kapasitas guru dan penyediaan sistem pendukung yang berkelanjutan menjadi langkah strategis dalam mewujudkan pembelajaran inklusif yang efektif dan berkeadilan.</p> <p><em>Inclusive education is an educational approach that ensures that every student has the right to learn without discrimination, including students with special needs in regular schools. Increasing the diversity of students' learning needs requires the implementation of adaptive and responsive learning strategies. This article aims to examine examples of the implementation of inclusive learning strategies in schools based on a review of the national literature. The research method used is a qualitative approach with a descriptive design through literature studies. The data sources come from books published in the last ten years and national journal articles published in the last five years. The results of the study show that the inclusive learning strategies that are widely applied include differentiated learning, cooperative learning, the use of creative learning media and technology, and the application of the Universal Design for Learning (UDL) principle. These strategies have been proven to be able to increase the participation, motivation, and social interaction of students with diverse learning needs. The success of the implementation of inclusive learning is greatly influenced by teacher competence, facility support, and collaboration between schools, parents, and stakeholders. Therefore, strengthening teacher capacity and providing a sustainable support system is a strategic step in realizing effective and equitable inclusive learning</em></p>Irma Raudotun NissaLaxmi Permata Sari SuardiAnika NuraeniAlya Aprilia AzizaNurwahyuwana
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Lingkar Pembelajaran Inovatif
2026-01-302026-01-3071DAMPAK PENGGUNAAN GADGET DALAM PEMBELAJARAN TERHADAP ETIKA DIGITAL DAN KARAKTER SISWA KELAS 6 SD MUHAMMADIYAH 12 PAMULANG DI LINGKUNGAN SEKOLAH
https://ojs.co.id/1/index.php/jlpi/article/view/4334
<p>Integrasi teknologi di sekolah dasar telah mengubah fungsi gadget dari medium hiburan menjadi instrumen kognitif yang esensial dalam pembelajaran. Namun, penggunaan gadget di lingkungan sekolah membawa tantangan serius terhadap perkembangan moral dan etika digital siswa. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara mendalam dampak penggunaan gadget terhadap manifestasi karakter dan etika digital siswa kelas 6 SD Muhammadiyah 12 Pamulang. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam dengan guru dan orang tua, serta dokumentasi jejak digital siswa. Temuan menunjukkan bahwa durasi penggunaan gadget berkisar antara 90-120 menit per hari untuk mendukung literasi informasi. Gadget terbukti menjadi katalisator kolaborasi dan kemandirian belajar (sesuai profil pelajar Pancasila), namun di sisi lain memicu degradasi integritas akademik melalui praktik plagiarisme dan perilaku komunikasi yang impulsif di ruang digital. Penggunaan gadget merupakan pisau bermata dua yang hanya akan berdampak positif jika dikelola melalui ekosistem sekolah yang mengedepankan internalisasi etika digital dan pengawasan instruksional yang ketat.</p> <p><em>The integration of technology in elementary schools has transformed the function of gadgets from entertainment media into essential cognitive instruments for learning. However, the use of gadgets within the school environment poses significant challenges to students' moral development and digital ethics. This study aims to provide an in-depth analysis of the impact of gadget use on the character manifestation and digital ethics of 6th-grade students at SD Muhammadiyah 12 Pamulang. This research employs a qualitative descriptive design with a case study approach. Data were collected through participatory observation, in-depth interviews with teachers and parents, and documentation of students' digital footprints. The results show that gadget usage duration ranges from 90 to 120 minutes per day to support information literacy. While gadgets serve as a catalyst for collaboration and independent learning, they also trigger a degradation of academic integrity through plagiarism and impulsive communication behavior in digital spaces. Gadget use is a double-edged sword that only yields positive impacts if managed through a school ecosystem that prioritizes the internalization of digital ethics and strict instructional supervision.</em></p>Galih Fauzan FirdausDeny AsmaraJoko SusenoTeguh Agus WahyudaZulfitria
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Lingkar Pembelajaran Inovatif
2026-01-302026-01-3071STRATEGI DAN HAMBATAN GURU BAHASA INDONESIA DALAM PENINGKATAN MINAT LITERASI SISWA DI SMPN 1 LUBUK BATU JAYA
https://ojs.co.id/1/index.php/jlpi/article/view/4308
<p>Minat literasi siswa merupakan aspek penting dalam pembelajaran Bahasa Indonesia karena berpengaruh terhadap kemampuan memahami dan mengolah informasi. Namun, pada praktiknya, minat literasi siswa di sekolah menengah pertama masih tergolong rendah sehingga memerlukan peran aktif guru dalam meningkatkan literasi siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan strategi serta hambatan yang dihadapi guru Bahasa Indonesia dalam meningkatkan minat literasi siswa di SMPN 1 Lubuk Batu Jaya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Data diperoleh melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi dengan melibatkan lima orang guru Bahasa Indonesia sebagai informan. Teknik analisis data dilakukan secara deskriptif kualitatif melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru menerapkan berbagai strategi, antara lain pembiasaan membaca, penggunaan teks kontekstual, diskusi berbasis bacaan, pemanfaatan media digital, serta pemberian tugas literasi. Adapun hambatan yang dihadapi meliputi rendahnya motivasi siswa, keterbatasan sarana literasi, perbedaan kemampuan membaca siswa, serta kurangnya dukungan lingkungan keluarga. Penelitian ini menyimpulkan bahwa strategi guru telah dilakukan secara variatif, namun masih memerlukan dukungan sarana dan kolaborasi berbagai pihak agar peningkatan minat literasi siswa dapat berjalan secara optimal dan berkelanjutan.</p> <p><em>Students' literacy interest is an important aspect in Indonesian language learning because it influences their ability to understand and process information. However, in practice, students' literacy interest in junior high schools is still relatively low, requiring teachers to play an active role in improving student literacy. This study aims to describe the strategies and obstacles faced by Indonesian language teachers in improving students' literacy interest at SMPN 1 Lubuk Batu Jaya. This study used a qualitative approach with descriptive methods. Data were obtained through interviews, observations, and documentation involving five Indonesian language teachers as informants. Data analysis techniques were carried out descriptively qualitatively through the stages of data reduction, data presentation, and drawing conclusions. The results showed that teachers implemented various strategies, including reading habits, the use of contextual texts, reading-based discussions, the use of digital media, and giving literacy assignments. The obstacles faced included low student motivation, limited literacy resources, differences in students' reading abilities, and lack of family support. This study concluded that teachers' strategies have been implemented in a variety of ways, but still require support from various parties so that increasing students' literacy interest can run optimally and sustainably.</em></p>Luthfi Hayatun MaharaniErniDella ArdilaDevita Rahmawati Putri
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Lingkar Pembelajaran Inovatif
2026-01-302026-01-3071