PENGARUH KOMUNIKASI INTERPERSONAL TERHADAP KASUS BULLYING ANAK SD (STUDI KASUS PADA ANAK USIA 9-12 TAHUN DILINGKUNGAN PERUMAHAN SEKIP PERMAI PALEMBANG)
Kata Kunci:
Komunikasi Interpersonal, Bullying, Anak Usia SekolahAbstrak
Maraknya kasus perundungan atau bullying di masyarakat dan sekolah merupakan perbuatan serius yang dapat merusak fisik maupun kesehatan mental. Ini bukan hanya isu tapi nyata dan fakta. Pertanyaannya, mengapa itu bisa terjadi? Tulisan ini mencoba mencari tahu adakah pengaruh komunikasi interpersonal terhadap kasus bullying pada anak sekolah usia 9–12 tahun di Perumahan Sekip Permai Palembang dan apa saja penyebab yang mempengaruhi terjadinya perilaku bullying. Metode kualitatif dan pendekatan deskriptif dipakai dalam membuat penelitian ini. Dengan Teknik pengumpulan data memakai cara wawancara dan pengamatan terhadap orang tua di lokasi penelitian. Tulisan ini berupaya dapat membantu dalam menangani kasus bullying. Kita sebagai orang tua harus memberikan waktu dan perhatian lebih ke anak-anak. Mereka harus sering diajak berkomunikasi rutin. Mereka juga perlu mendapatkan perhatian dan nasehat dari orang tua karena mereka sering kali mencontoh kita dan sekitar. Temuan hasil tulisan ini menjelaskan bahwa komunikasi interpersonal antara anak dan orang tua, termasuk guru memiliki peran penting dalam membentuk sifat-sifat anak. Ketika ia memiliki pola komunikasi yang terbuka, lalu berempati, dan berfikir positif, maka ia akan mampu untuk tidak melakukan tindakan bullying. Tentu saja ini harapan kita semua, bukan? Kebanyakan orang tua sering menerapkan gaya komunikasi yang tidak seimbang. Orang tua hanya ingin didengar tetapi jarang memperdulikan perkataan atau pendapat anak-anaknya. Hal ini dapat menumbuhkan perilaku buruk anak terhadap teman-temanya. Selain faktor internal dari pola asuh orang tua atupun keluarga, ada pula faktor eksternal contohnya lingkungan, pertemanan disekolah dan media sosial juga mempengaruhi bullying terjadi.




