HOAKS DI MEDIA SOSIAL: PENDEKATAN TEORI KOMUNIKASI TERHADAP DISEMINASI INFORMASI PALSU
Kata Kunci:
Hoaks, Media Digital, Komunikasi, Teori Komunikasi, Literasi DigitalAbstrak
Di zaman digital seperti sekarang, hoaks sudah jadi masalah yang sulit dihindari. Ia bukan sekadar kabar bohong yang lewat begitu saja di linimasa, melainkan isu serius yang mampu mengganggu politik, merusak kepercayaan publik pada isu kesehatan, bahkan memicu gesekan sosial. Mengapa bisa begitu cepat menyebar? Ada beberapa alasan: algoritma media sosial yang gemar mendorong konten sensasional, rendahnya kemampuan literasi digital, dan yang paling sederhana kebiasaan banyak orang untuk membagikan sesuatu tanpa berpikir panjang apakah informasi itu benar atau tidak. Tulisan ini mencoba menyoroti hoaks dengan kacamata teori komunikasi. Teori seperti Uses and Gratifications, Agenda Setting, Spiral of Silence, Interaksi Simbolik, hingga Ekologi Media memberi kita cara pandang berbeda tentang bagaimana hoaks lahir, bergerak, dan akhirnya dipercaya sebagian masyarakat. Dengan pendekatan kualitatif berbasis kajian literatur dan contoh kasus nyata, artikel ini berupaya menjawab pertanyaan sederhana: mengapa hoaks begitu kuat menancap di ruang digital kita? Temuan utama menunjukkan bahwa hoaks bukan sekadar informasi yang salah. Ia adalah persoalan komunikasi yang kompleks, ada produsen pesan dengan kepentingan tertentu, ada audiens dengan kebutuhan dan persepsi beragam, serta ada konteks sosial budaya yang membuat hoaks seolah “masuk akal” bagi sebagian orang. Maka, melawan hoaks tidak cukup hanya dengan membantahnya. Yang lebih penting adalah membangun literasi digital, mengajarkan masyarakat untuk lebih kritis, dan menciptakan strategi komunikasi yang benar-benar menyentuh cara orang mengonsumsi informasi sehari-hari. Ini jelas pekerjaan besar yang tidak bisa ditanggung satu pihak saja. Pemerintah, akademisi, media, hingga masyarakat sipil harus berjalan bersama, kalau tidak, arus hoaks hanya akan makin deras.




