https://ojs.co.id/1/index.php/jka/issue/feed Jurnal Kesehatan Afinitas 2026-01-30T14:55:04+00:00 Open Journal Systems https://ojs.co.id/1/index.php/jka/article/view/4352 ANALISIS PENGGUNAAN OBAT AMFETAMINE DALAM KASUS KECELAKAAN LALU LINTAS: STUDI PUSTAKA 2026-01-28T13:03:11+00:00 Muhammad Gracie Wiharko [email protected] Muhammad Ihsannudin A.R [email protected] Ni’ma Nuzulan Idznillah [email protected] Putri Amelia [email protected] Putri Aulia Haumahu [email protected] Rahmanida Amalia [email protected] <p>Mengemudi dalam keadaan mabuk secara signifikan meningkatkan kemungkinan cedera parah dan kematian dalam kecelakaan lalu lintas. Meskipun demikian, ada sedikit pemahaman tentang dampak zat-zat ilegal, dan hubungan pasti antara konsentrasi obat dan kemungkinan kecelakaan kendaraan masih diperdebatkan. Senyawa jenis amfetamin sering diidentifikasi pada pengemudi yang terlibat dalam kecelakaan kendaraan yang fatal atau melukai. Meskipun demikian, kontribusi obat ini terhadap terjadinya kecelakaan masih ambigu. Tujuan dari tinjauan pustaka ini adalah untuk memberikan analisis dan informasi terkini tentang penggunaan amfetamin dalam kecelakaan lalu lintas. Strategi studi pustaka mencakup penilaian referensi dari MDPI, NIH, Science Direct, dan Google Scholar, dengan pembatasan publikasi 10 tahun terakhir. Menurut penelitian terkait, penggunaan amfetamin dapat memengaruhi pengguna, terutama dalam konteks kecelakaan lalu lintas.</p> <p><em>Driving while intoxicated significantly elevates the likelihood of severe injury and fatality in traffic collisions.&nbsp; Nonetheless, there is little understanding on the impact of illegal substances, and a definitive link between drug concentration and the likelihood of vehicular accidents remains contentious.&nbsp; Amphetamine-type compounds are often identified in drivers involved in fatal or injurious vehicle accidents.&nbsp; Nonetheless, the contribution of this drug to the occurrence of accidents remains ambiguous.&nbsp; The objective of this literature review is to provide a current analysis and information on the use of amphetamine in traffic accidents.&nbsp; The literature study strategy included assessing references from MDPI, NIH, Science Direct, and Google Scholar, with a publication restriction of the last 10 years.&nbsp; According to pertinent research, amphetamine usage may impact users, particularly in the context of road accidents. This is an open access article under the CC–BY-SA license.</em></p> 2026-01-30T00:00:00+00:00 Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Afinitas https://ojs.co.id/1/index.php/jka/article/view/4211 UJI AKTIVITAS ANTIHIPERGLIKEMIA TEH MELATI RAMBAT KUNING (LONICERA JAPONICA THUNB) PADA MENCIT PUTIH JANTAN GALUR WISTAR YANG DIINDUKSI ALOKSAN 2025-12-31T07:57:20+00:00 Jasmine Nova F. [email protected] Opstaria Saptarini [email protected] Reslely Harjanti [email protected] <p>Diabetes merupakan penyakit yang ditandai dengan kadar gula darah tinggi dan menjadi masalah kesehatan global. Pengobatan konvensional seperti metformin seringkali menimbulkan efek samping, sehingga diperlukan alternatif yang lebih aman dari bahan alam. Teh dari bunga melati rambat kuning (Lonicera japonica Thunb) telah digunakan secara tradisional untuk mengatasi diabetes, namun bukti ilmiahnya masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk menguji kemampuan teh bunga honeysuckle dalam menurunkan kadar gula darah pada mencit jantan galur wistar yang dibuat menderita diabetes menggunakan zat aloksan.&nbsp; Metode penelitian menggunakan eksperimen dengan membagi mencit menjadi beberapa kelompok, yaitu kelompok normal, kelompok diabetes yang tidak diobati (kontrol negatif), kelompok diabetes yang diberi obat metformin (kontrol positif), dan tiga kelompok diabetes yang diberi seduhan teh melati rambat kuning dengan dosis berbeda (150, 300, dan 600 mg/kgBB). Penyarian (ekstraksi) senyawa aktif dilakukan dengan metode seduhan, yaitu dengan merendam 1 gram serbuk bunga kering dalam 100 mL air panas (80-90°C) selama 7-10 menit. Kadar gula darah diukur pada hari ke-0, ke-3, ke-7, dan ke-14.Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian seduhan teh bunga melati rambat kuning pada semua dosis (150, 300, dan 600 mg/kgBB) mampu menurunkan kadar gula darah mencit diabetes secara signifikan setelah 14 hari perlakuan, dan efektivitasnya setara dengan kelompok yang diberi obat metformin. Analisis statistik membuktikan bahwa penurunan ini bermakna. Dosis paling efektif yang ditemukan adalah 150 mg/kgBB. Senyawa aktif dalam teh seperti flavonoid, saponin, dan asam fenolat diduga bekerja dengan melindungi sel pankreas dari kerusakan dan meningkatkan sensitivitas insulin. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa seduhan teh bunga melati rambat kuning dengan dosis 150 mg/kg BB memiliki aktivitas antihiperglikemia (penurun gula darah) yang potensial dan efektif pada mencit model diabetes.</p> 2026-01-30T00:00:00+00:00 Hak Cipta (c) 2025 Jurnal Kesehatan Afinitas https://ojs.co.id/1/index.php/jka/article/view/4326 PENERAPAN TERAPI GUIDED IMAGERY TERHADAP PERUBAHAN INTENSITAS NYERI PADA PASIEN PASCA OPERASI LAPARATOMI EKSPLORASI DENGAN OBSTRUKSI SALURAN EMPEDU: STUDI KASUS DI RUANG TERATAI RSUD PROF. DR. MARGONO SOEKARJO PURWOKERTO 2026-01-22T13:07:21+00:00 Ibnu Riyadin [email protected] Suci Khasanah [email protected] <p>Nyeri pasca operasi merupakan respons fisiologis dan psikologis yang umum dialami pasien setelah tindakan pembedahan, termasuk pada pasien yang menjalani laparatomi eksplorasi akibat obstruksi saluran empedu. Nyeri yang tidak terkelola secara optimal dapat menghambat proses penyembuhan, meningkatkan respons stres, serta menurunkan kenyamanan dan kualitas hidup pasien. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan manajemen nyeri yang komprehensif, termasuk pemanfaatan intervensi keperawatan non-farmakologis sebagai terapi pendamping, salah satunya adalah guided imagery. Studi ini menggunakan desain studi kasus deskriptif yang bertujuan untuk menggambarkan penerapan terapi guided imagery serta perubahannya terhadap intensitas nyeri pada pasien pasca operasi laparatomi eksplorasi di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto. Terapi guided imagery diberikan selama tiga hari berturut-turut dengan durasi ±20 menit pada setiap sesi, yaitu pada tanggal 16–18 Juli 2025. Hasil observasi menunjukkan adanya penurunan intensitas nyeri secara bertahap. Pada hari pertama, pasien mengalami nyeri berat dengan skor 7 berdasarkan Numeric Rating Scale (NRS) yang menurun menjadi skor 6 setelah intervensi. Pada hari kedua, skala nyeri menurun dari 5 menjadi 4, dan pada hari ketiga dari 4 menjadi 3. Penurunan intensitas nyeri tersebut disertai dengan perbaikan tekanan darah dari 153/93 mmHg menjadi 135/80 mmHg. Temuan ini menunjukkan bahwa penerapan terapi guided imagery berpotensi berasosiasi dengan penurunan intensitas nyeri pasca operasi serta peningkatan kenyamanan fisiologis pasien. Terapi guided imagery dapat dipertimbangkan sebagai intervensi keperawatan non-farmakologis pendamping dalam manajemen nyeri pasca operasi. Namun, mengingat desain penelitian ini berupa studi kasus tunggal, diperlukan penelitian lanjutan dengan desain yang lebih kuat dan jumlah sampel yang lebih besar untuk mengonfirmasi efektivitas serta generalisasi temuan.</p> <p><em>Postoperative pain is a common physiological and psychological response experienced by patients after surgical procedures, including those undergoing exploratory laparotomy due to biliary tract obstruction. Pain that is not optimally managed can hinder the healing process, increase stress responses, and reduce patient comfort and quality of life. Therefore, a comprehensive pain management approach is required, including the use of non-pharmacological nursing interventions as adjunctive therapy, one of which is guided imagery. This study employed a descriptive case study design aimed at describing the implementation of guided imagery therapy and its effect on changes in pain intensity in a postoperative exploratory laparotomy patient at RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto. Guided imagery therapy was administered for three consecutive days, with a duration of approximately 20 minutes per session, on July 16–18, 2025. The observation results indicated a gradual reduction in pain intensity. On the first day, the patient experienced severe pain with a score of 7 on the Numeric Rating Scale (NRS), which decreased to 6 after the intervention. On the second day, the pain score decreased from 5 to 4, and on the third day, from 4 to 3. This reduction in pain intensity was accompanied by an improvement in blood pressure, from 153/93 mmHg to 135/80 mmHg. These findings suggest that the application of guided imagery therapy may be associated with a reduction in postoperative pain intensity and an improvement in patients’ physiological comfort. Guided imagery therapy can be considered as an adjunctive non-pharmacological nursing intervention in postoperative pain management. However, given that this study employed a single-case design, further research with a stronger study design and a larger sample size is needed to confirm the effectiveness and generalizability of these findings.</em></p> 2026-01-30T00:00:00+00:00 Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Afinitas https://ojs.co.id/1/index.php/jka/article/view/4319 MENIKAH USIA DINI MENINGKATKAN RISIKO KEJADIAN STUNTING PADA BAYI DI BAWAH USIA 2 TAHUN 2026-01-21T10:08:25+00:00 Baiq Farah Sarmadiya [email protected] Apriliani Yulianti Wuriningsih [email protected] Tutik Rahayu [email protected] <p>Latar Belakang: Stunting merupakan masalah gizi kronis yang masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat di Indonesia, termasuk di wilayah kerja Puskesmas Sukolilo 1. Pernikahan usia dini berpotensi meningkatkan risiko stunting karena ibu yang menikah pada usia muda umumnya belum siap secara fisik maupun psikologis, serta memiliki keterbatasan dalam pengetahuan gizi dan pola asuh. Kondisi ini dapat berdampak pada kualitas kehamilan, kelahiran, serta tumbuh kembang anak. Metode: Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Sampel berjumlah 50 responden ibu yang memiliki bayi di bawah usia 2 tahun, yang dipilih dengan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui wawancara menggunakan data demografi, Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji korelasi Spearman’s rho dengan tingkat signifikansi 95% (α = 0,05). Hasil: Karakteristik responden menunjukkan mayoritas ibu berusia 20-30 tahun sebanyak 42 (84%), berpendidikan SMA (82%), dengan anak laki-laki lebih banyak (64%) dan sebagian besar baduta berusia 13–24 bulan (76%). Sebanyak 23 responden (46%) menikah usia dini dan 27 responden (54%) tidak menikah dini. Kejadian stunting ditemukan sangat tinggi yaitu pada 42 bayi (84%), sedangkan 8 bayi (16%) tidak stunting. Hasil uji Spearman’s rho menunjukkan adanya hubungan negatif yang signifikan antara menikah usia dini dan kejadian stunting dengan koefisien korelasi -0,403 dan nilai p = 0,004 (p &lt; 0,01). Simpulan:Terdapat hubungan signifikan antara menikah usia dini dengan kejadian stunting pada bayi di bawah usia 2 tahun di wilayah kerja Puskesmas Sukolilo 1. Semakin dini usia ibu menikah, semakin tinggi risiko anak mengalami stunting. Pencegahan pernikahan usia dini perlu diperkuat sebagai strategi untuk menurunkan prevalensi stunting, disertai dengan peningkatan edukasi gizi dan kesehatan reproduksi bagi calon ibu.</p> <p><em>Background: Stunting is a chronic nutritional problem that remains a public health challenge in Indonesia, including in the working area of Sukolilo 1 Public Health Center. Early marriage potentially increases the risk of stunting because mothers who marry at a young age are generally not physically or psychologically ready and have limited knowledge of nutrition and parenting. This condition can affect the quality of pregnancy, childbirth, and child growth and development. Methods: This study employed a quantitative design with a cross-sectional approach. The sample consisted of 50 mothers with children less than two years old, selected using purposive sampling. Data were collected through interviews using demographic questionnaires and anthropometric measurements of children. Data analysis was conducted using univariate and bivariate analyses with Spearman’s rho correlation test at a 95% confidence level (α = 0.05). Results: The characteristics of respondents showed that most mothers were aged 20-30 years (84%), had a high school education (82%), with more male children (64%), and most children were aged 13–24 months (76%). A total of 23 respondents (46%) married at an early age, while 27 respondents (54%) did not. The prevalence of stunting was very high, with 42 children (84%) being stunted and 8 children (16%) not stunted. The Spearman’s rho test indicated a significant negative relationship between early marriage and stunting, with a correlation coefficient of -0.403 and a p-value of 0.004 (p &lt; 0.01). Conclusion: There is a significant relationship between early marriage and stunting in children under two years old in the working area of Sukolilo 1 Public Health Center. The earlier the mother’s age marriage, the higher the risk of stunting in children. Strengthening early marriage prevention programs, along with improving nutrition education and reproductive health for prospective mothers, is essential to reduce the prevalence of stunting.</em></p> 2026-01-30T00:00:00+00:00 Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Afinitas https://ojs.co.id/1/index.php/jka/article/view/4264 PERAN CARDIAC MAGNETIC RESONANCE IMAGING (C-MRI) SEBAGAI MODALITAS DIAGNOSTIK DAN PROGNOSIS PADA KARDIOMIOPATI 2026-01-11T04:05:18+00:00 Muhammad Farid Khuluqi [email protected] Maryam Jamilah [email protected] Andi Alfian [email protected] <p>Kardiomiopati merupakan kelompok penyakit miokard heterogen yang ditandai dengan kelainan struktural dan/atau fungsional jantung yang berkontribusi terhadap gagal jantung, aritmia, hingga kematian mendadak. Variasi karakteristik morfologi dan gejala yang seringkali non-spesifik menjadikan diagnosis dini kardiomiopati sebagai tantangan klinis. Pencitraan multimodal diperlukan untuk mengevaluasi morfologi, fungsi, serta etiologi penyakit di mana cardiac magnetic resonance imaging (C-MRI) memiliki peran penting sebagai modalitas yang mampu menggabungkan evaluasi volumetrik, fungsi jantung, serta karakterisasi jaringan miokard. Literatur ini menunjukkan bahwa C-MRI memiliki peran diagnostik tinggi dalam membedakan karakteristik morfologi kardiomiopati seperti hipertrofik, dilatasi, restriktif, maupun infiltratif, dan menilai adanya fibrosis, edema, dan infiltrasi jaringan dengan sensitivitas yang tinggi dibandingkan modalitas lain. Dari segi prognostik, keberadaan dan luas late gadolinium enhancement (LGE), peningkatan T1/T2 mapping, serta extracellular volume (ECV) yang dapat dinilai melalui C-MRI berkorelasi dengan mortalitas, aritmia ventrikel, dan kebutuhan transplantasi jantung, sehingga dijadikan dasar dalam keputusan klinis seperti pemasangan ICD atau rujukan transplantasi. C-MRI memiliki keterbatasan berupa biaya tinggi, ketersediaan terbatas, kontraindikasi kontras, serta kebutuhan keahlian interpretasi menjadi tantangan khususnya di negara berkembang. Tinjauan literatur ini menjelaskan bahwa C-MRI berperan sebagai modalitas diagnostik dan prognostik yang krusial pada kardiomiopati dan juga menjelaskan perlunya validasi data prognostik dalam konteks lokal serta penguatan infrastruktur untuk memperluas penerapan klinis penggunaan C-MRI.</p> <p><em>Cardiomyopathy is a heterogeneous group of myocardial diseases characterized by structural and/or functional abnormalities of the heart that contribute to heart failure, arrhythmias, and sudden cardiac death. The wide variation in morphological characteristics and often non-specific symptoms makes early diagnosis of cardiomyopathy a clinical challenge. Multimodality imaging is required to evaluate morphology, function, and etiology, in which cardiac magnetic resonance (C-MRI) plays a pivotal role as a modality that integrates volumetric assessment, cardiac function, and myocardial tissue characterization. The literature indicates that C-MRI provides high diagnostic value in differentiating morphological characteristics of cardiomyopathies such as hypertrophic, dilated, acvtive, and infiltrative types, as well as in detecting fibrosis, edema, and tissue infiltration with greater sensitivity compared to other modalities. From a prognostic perspective, the presence and extent of late gadolinium enhancement (LGE), elevated T1/T2 mapping, and extracellular volume (ECV) assessed by C-MRI are correlated with mortality, ventricular arrhythmias, and the need for heart transplantation, thus serving as the basis for clinical decisions such as ICD implantation or referral for transplantation. However, C-MRI has limitations, including high cost, limited availability, contraindications to contrast agents, and the need for specialized expertise in interpretation, which are significant challenges particularly in developing countries. This literature review highlights C-MRI as a crucial diagnostic and prognostic modality in cardiomyopathy, while also emphasizing the need for validation of prognostic data in local contexts and strengthening infrastructure to expand its clinical application.</em></p> 2026-01-30T00:00:00+00:00 Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Afinitas https://ojs.co.id/1/index.php/jka/article/view/4363 STANDAR INSTALASI LISTRIK PROYEK 2026-01-30T12:57:59+00:00 Yasmin Novithaharah Suprianto [email protected] Delfriana Ayu Astuty [email protected] <p>Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan standar instalasi listrik sesuai Persyaratan Umum Instalasi Listrik (PUIL) dan Standar Nasional Indonesia (SNI) pada proyek Rehabilitasi dan Renovasi Stadion Teladan Medan, serta menganalisis penerapan prinsip Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) dalam kegiatan perbaikan instalasi. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan studi lapangan melalui observasi langsung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan instalasi listrik sesuai standar PUIL dan SNI mampu meningkatkan keamanan, keandalan, dan efisiensi sistem kelistrikan. Selain itu, pelaksanaan perbaikan dan sambungan listrik yang mengikuti prosedur K3 terbukti mengurangi risiko korsleting dan kebakaran, sekaligus meningkatkan kesadaran pekerja terhadap pentingnya keselamatan kerja.</p> <p><em>This study aims to describe the implementation of electrical installation standards in accordance with the General Requirements for Electrical Installations (PUIL) and the Indonesian National Standard (SNI) in the Teladan Medan Stadium Rehabilitation and Renovation project, as well as to analyze the implementation of Occupational Safety and Health (K3) principles in installation repair activities. The research method used is descriptive qualitative with a field study approach through direct observation. The results of the study indicate that the implementation of electrical installations in accordance with PUIL and SNI standards can improve the safety, reliability, and efficiency of the electrical system. In addition, the implementation of electrical repairs and connections that follow K3 procedures has been proven to reduce the risk of short circuits and fires, while increasing worker awareness of the importance of occupational safety.</em></p> 2026-01-30T00:00:00+00:00 Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Afinitas https://ojs.co.id/1/index.php/jka/article/view/4217 PENGARUH EDUKASI MITIGASI BENCANA ERUPSI GUNUNG BERAPI TERHADAP PENGETAHUAN DAN KESIAPSIAGAAN SISWA MTS HIJMAR SUNGGAL DELI SERDANG 2026-01-02T06:46:07+00:00 Meutia Nanda [email protected] Muhammad Alawi [email protected] Aprilyautami [email protected] Silvya Rahma [email protected] Sofia Nabila [email protected] Mardiah Sitorus [email protected] <p>Indonesia memiliki tingkat kerawanan bencana yang tinggi akibat aktivitas vulkanik, sehingga edukasi mitigasi bencana sejak dini menjadi penting, khususnya di lingkungan sekolah. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh edukasi mitigasi erupsi gunung berapi terhadap pengetahuan dan kesiapsiagaan siswa di MTS Hijmar Sunggal. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain pre-experimental one group pretest–posttest pada 50 siswa. Data dikumpulkan melalui kuesioner sebelum dan sesudah penyuluhan, kemudian dianalisis menggunakan uji Wilcoxon. Hasil menunjukkan peningkatan nilai rata-rata dari 75,78 menjadi 81,77 dengan selisih 6,00 poin. Uji Wilcoxon menghasilkan nilai Z = 5,788 dan p-value = 0,001 (p &lt; 0,05), yang menunjukkan adanya pengaruh signifikan. Edukasi kebencanaan efektif sebagai upaya pengurangan risiko bencana melalui pendidikan, termasuk pada sekolah di luar wilayah rawan bencana.</p> <p><em>Indonesia has a high level of disaster vulnerability due to intense volcanic activity, making early disaster mitigation education particularly important, especially in school settings. This study aimed to analyze the effect of volcanic eruption mitigation education on students’ knowledge and preparedness at MTS Hijmar Sunggal. A quantitative approach was employed using a pre-experimental one-group pretest–posttest design involving 50 students. Data were collected through questionnaires administered before and after the educational intervention and analyzed using the Wilcoxon Signed Rank Test. The results showed an increase in the mean score from 75.78 to 81.77, with an average improvement of 6.00 points. The Wilcoxon test yielded a Z value of 5.788 and a p-value of 0.001 (p &lt; 0.05), indicating a significant effect. Disaster education was found to be effective as an educational-based disaster risk reduction approach, including in schools located outside disaster-prone areas.</em></p> 2026-01-30T00:00:00+00:00 Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Afinitas https://ojs.co.id/1/index.php/jka/article/view/4338 EFEKTIVITAS EDUKASI PRA NIKAH BERBASIS SEKOLAH MENINGKATKAN PENGETAHUAN DAN SIKAP TENTANG USIA PERNIKAHAN DINI PADA REMAJA 2026-01-24T09:16:56+00:00 Nayarini Fitria Kseniartina [email protected] Sri Wahyuni [email protected] Tutik Rahayu [email protected] <p>Latar Belakang: Edukasi pra nikah berbasis sekolah merupakan solusi terbaik bagi remaja untuk meningkatkan pengetahuan dan sikap dalam pencegahan pernikahan dini. Tujuan : Untuk mengetahui efektivitas edukasi pra nikah berbasis sekolah terhadap pengetahuan dan sikap tentang pernikahan dini pada remaja MAN di Kota Semarang. Metode : Jenis penelitian ini kuantitatif dengan desaian penelitian yaitu metode Quasi Experiment dengan rancangan Two Group Pretest Posttest. Pada penelitian ini terdiri dari dua kelompok yaitu kelompok intervensi dan kelompok kontrol yang masing-masing sampelnya sebanyak 90 orang yang diambil melalui random sampling. Data pengetahuan dan sikap yang diukur menggunakan kuesioner baku. Analisis data menggunakan uji paired t-test dan independent t-test. Hasil : Penelitian menggunakan uji paired t-test dengan hasil (p &lt;0,05). Uji independent t-test dengan hasil (p &lt;0,05). Simpulan : Terdapat efektivitas edukasi pra nikah berbasis sekolah terhadap pengetahuan dan sikap tentang pernikahan dini pada remaja.</p> <p><em>Background: School-based pre-marital education past tense the best solution for adolescents to improve their knowledge and attitudes in preventing early marriage. Objective : To determine the effectiveness of school-based pre-marital education on knowledge and attitudes about early marriage among MAN adolescents in Semarang City. Method : This type of research past tense quantitative with a research design that past tense the Quasi Experiment method with a Two Group Pretest Posttest design. In this study consisted of two groups, namely the intervention group and the control group, each sample of 90 people taken through random sampling. Knowledge and attitude data were measured using a standard questionnaire. Data analysis used paired t-test and independent t-test. Results : Of the study used paired t-test test with results (p &lt;0.05). Independent t-test with results (p &lt;0.05). Conclusion : There past tense effectiveness of school-based premarital education on knowledge and attitudes about early marriage in adolescents.</em></p> 2026-01-30T00:00:00+00:00 Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Afinitas https://ojs.co.id/1/index.php/jka/article/view/4323 GAMBARAN INDEKS MASSA TUBUH (IMT), AKTIVITAS FISIK DAN GLUKOSA DARAH MAHASISWA TINGKAT AKHIR PRODI ILMU KEPERAWATAN 2026-01-22T10:15:03+00:00 Nina Ajeng Arindi Estuningtyas [email protected] Ns. Dwi Retno Sulistyaningsih [email protected] Ns. Indah Sri Wahyuningsih [email protected] <p>Latar Belakang: Mahasiswa tingkat akhir rentan mengalami perubahan gaya hidup akibat beban akademik yang tinggi, seperti pola makan tidak teratur, aktivitas fisik yang menurun, serta peningkatan stres. Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi indeks massa tubuh (IMT), aktivitas fisik, dan kadar glukosa darah yang berhubungan erat dengan kesehatan metabolik. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan indeks massa tubuh, aktivitas fisik, dan kadar glukosa darah pada mahasiswa tingkat akhir Program Studi Ilmu Keperawatan Universitas Islam Sultan Agung. Metode: Penelitian ini menggunakan desain deskriptif kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Sampel berjumlah 139 mahasiswa yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui pengukuran IMT, kuesioner Global Physical Activity Questionnaire (GPAQ), serta pemeriksaan glukosa darah sewaktu. Analisis data dilakukan secara univariat. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki IMT dalam kategori normal, tingkat aktivitas fisik tergolong rendah, dan kadar glukosa darah berada dalam batas normal. Kesimpulan: Mayoritas mahasiswa tingkat akhir memiliki IMT dan kadar glukosa darah yang normal, namun aktivitas fisik masih rendah. Oleh karena itu, diperlukan peningkatan kesadaran dan upaya promotif untuk mendorong mahasiswa melakukan aktivitas fisik secara rutin guna menjaga kesehatan metabolik dan mencegah risiko gangguan kesehatan di masa mendatang.</p> <p><em>Background: Final-year students are vulnerable to lifestyle changes due to high academic demands, including irregular eating patterns, decreased physical activity, and increased stress. These conditions may affect body mass index (BMI), physical activity, and blood glucose levels, which are closely related to metabolic health. Objective: This study aimed to describe body mass index, physical activity, and blood glucose levels among final-year nursing students at Sultan Agung Islamic University. Methods: This study employed a descriptive quantitative design with a cross-sectional approach. A total of 139 students were selected using purposive sampling. Data were collected through BMI measurements, the Global Physical Activity Questionnaire (GPAQ), and random blood glucose testing. Data were analyzed using univariate analysis. Results: The findings showed that most respondents had normal BMI, low physical activity levels, and normal blood glucose levels. Conclusion: Most final-year students had normal BMI and blood glucose levels; however, their physical activity levels were relatively low. Therefore, increasing awareness and promoting regular physical activity are essential to maintain metabolic health and prevent future health risks.</em></p> 2026-01-30T00:00:00+00:00 Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Afinitas https://ojs.co.id/1/index.php/jka/article/view/4266 PENGARUH PAKET CinDi TERHADAP MOTIVASI PEREMPUAN USIA SUBUR DALAM MELAKUKAN DETEKSI DINI DENGAN PAP SMEAR DI DESA PURI SUKOLILO PATI 2026-01-11T05:08:24+00:00 Siti Mamluatuz zaimah [email protected] Tutik Rahayu [email protected] Sri Wahyuni [email protected] <p>Latar Belakang: Kanker serviks merupakan penyebab kematian kedua terbanyak pada perempuan Indonesia dengan angka kejadian 604.127 kasus global per tahun. Meskipun dapat dicegah melalui deteksi dini menggunakan Pap smear, motivasi perempuan usia subur (PUS) untuk melakukan pemeriksaan masih rendah, dengan cakupan nasional hanya mencapai 5,89% dari target 70%.Tujuan: Menganalisis pengaruh Paket CinDi (edukasi menggunakan PowerPoint, video edukasi, dan kisah nyata/true story) terhadap motivasi PUS dalam melakukan pemeriksaan Pap smear di Desa Puri, Sukolilo, Pati.Metode: Penelitian quasi-experimental dengan desain one group pre-test post-test melibatkan 35 responden PUS yang dipilih menggunakan purposive sampling. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner motivasi tervalidasi (Cronbach's Alpha = 0,847) dengan 12 pernyataan skala Likert. Intervensi Paket CinDi diberikan selama 4 minggu dengan total durasi edukasi 57 menit. Analisis data menggunakan uji Shapiro-Wilk untuk normalitas dan uji Paired T-Test dengan tingkat signifikansi α = 0,05. Hasil: Karakteristik responden didominasi usia 40-59 tahun (62,9%), berpendidikan SMA (77,1%), bekerja (74,3%), dan grande multipara (51,5%). Rata-rata skor motivasi meningkat signifikan dari 20,63±4,37 (pre-test) menjadi 25,51±3,43 (post-test) dengan mean difference 4,88 poin. Uji Paired T- Test menunjukkan nilai t = -10,935 dengan p-value = 0,000 (p&lt;0,05), mengindikasikan perbedaan signifikan motivasi sebelum dan sesudah intervensi.Kesimpulan: Paket CinDi yang mengintegrasikan media PowerPoint, video edukasi, dan kisah nyata terbukti efektif meningkatkan motivasi PUS untuk melakukan pemeriksaan Pap smear sebagai upaya deteksi dini kanker serviks. Peningkatan motivasi sebesar 23,6% menunjukkan kombinasi media audiovisual dan pendekatan emosional melalui true story mampu mengoptimalkan aspek kognitif dan afektif responden.</p> <p><em>Background: Cervical cancer is the second leading cause of death among Indonesian women, with 604,127 global cases annually. Despite being preventable through early detection using Pap smears, the motivation of women of reproductive age (WRA) to undergo screening remains low, with national coverage reaching only 5.89% of the 70% target.Objective: To analyze the effect of the CinDi Package (education using PowerPoint, educational videos, and true stories) on WRA motivation to undergo Pap smear examinations in Puri Village, Sukolilo, Pati.Methods: A quasi-experimental study with one-group pre-test post-test design involving 35 WRA respondents selected through purposive sampling. The research instrument used a validated motivation questionnaire (Cronbach's Alpha = 0.847) with 12 Likert-scale statements. The CinDi Package intervention was administered over 4 weeks with a total education duration of 57 minutes. Data analysis utilized the Shapiro-Wilk test for normality and Paired T-Test with a significance level of α = 0.05.Results: Respondent characteristics were dominated by age 40-59 years (62.9%), high school education (77.1%), employed (74.3%), and grande multipara (51.5%). Mean motivation scores increased significantly from 20.63±4.37 (pre-test) to 25.51±3.43 (post-test) with a mean difference of 4.88 points. The Paired T-Test showed t-value = -10.935 with p-value = 0.000 (p&lt;0.05), indicating a significant difference in motivation before and after intervention.Conclusion: The CinDi Package integrating PowerPoint media, educational videos, and true stories proved effective in increasing WRA motivation to undergo Pap smear examinations for early cervical cancer detection. The 23.6% increase in motivation demonstrates that the combination of audiovisual media and emotional approach through true stories can optimize respondents' cognitive and affective aspects.</em></p> 2026-01-30T00:00:00+00:00 Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Afinitas https://ojs.co.id/1/index.php/jka/article/view/4259 EFEKTIVITAS DAN LUARAN KLINIS ABLASI FIBRILASI ATRIUM PADA PASIEN GAGAL JANTUNG 2026-01-11T01:07:50+00:00 Shania Vanessa Manalu [email protected] Maryam Jamilah [email protected] Faizal Drissa Hasibuan [email protected] <p>Latar Belakang: Gagal jantung merupakan sindrom klinis progresif dengan prevalensi dan mortalitas yang terus meningkat secara global termasuk di Indonesia dan pada banyak kasus disertai Fibrilasi atrium yang memperburuk prognosis dan kualitas hidup pasien. Ablasi kateter telah dikembangkan sebagai terapi intervensi untuk mengendalikan ritme jantung pada pasien Fibrilasi atrium dengan gagal jantung, namun bukti efektivitasnya masih terbatas terutama di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk meninjau efektivitas dan luaran klinis ablasi Fibrilasi atrium pada pasien dengan gagal jantung. Metode: Penelitian ini merupakan tinjauan sistematis yang disusun berdasarkan pedoman Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses (PRISMA) 2020. Pencarian literatur dilakukan melalui PubMed, ScienceDirect, dan Google Scholar dengan kata kunci yang disusun berdasarkan kerangka PICO. Kualitas studi inklusi dinilai menggunakan Joanna Briggs Institute (JBI) Critical Appraisal Tool, dan data diekstraksi serta dianalisis secara kualitatif berdasarkan desain penelitian, karakteristik sampel, intervensi, serta luaran klinis yang dilaporkan. Hasil: Hasil tinjauan menunjukkan bahwa ablasi Fibrilasi atrium pada pasien dengan gagal jantung efektif meningkatkan fraksi ejeksi, memperbaiki remodelling jantung dan menurunkan mortalitas dibandingkan terapi medikamentosa. Kesimpulan: Penelitian ini menunjukkan bahwa ablasi kateter merupakan terapi yang efektif untuk meningkatkan kualitas hidup dan menurunkan risiko mortalitas pada pasien AF dengan gagal jantung meskipun masih diperlukan penelitian lebih lanjut dengan desain yang lebih homogen dan cakupan populasi lebih luas.</p> <p><em>Background: Heart failure is a progressive clinical syndrome with increasing prevalence and mortality worldwide, including in Indonesia, and is frequently accompanied by atrial fibrillation (AF), which worsens prognosis and reduces patients’ quality of life. Catheter ablation has been developed as an interventional therapy to control heart rhythm in AF patients with heart failure. However, evidence regarding its effectiveness remains limited, particularly in Indonesia. This study aims to review the effectiveness and clinical outcomes of atrial fibrillation ablation in patients with heart failure. Methods: This research is a systematic review based on the Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses (PRISMA) 2020 guidelines. Literature searches were conducted through PubMed, ScienceDirect, and Google Scholar using keywords structured according to the PICO framework. The quality of included studies was assessed using the Joanna Briggs Institute (JBI) Critical Appraisal Tool, and data were extracted and qualitatively analyzed based on study design, sample characteristics, interventions, and reported clinical outcomes. Results: The findings indicate that atrial fibrillation ablation in patients with heart failure is effective in improving ejection fraction, enhancing cardiac remodelling, and reducing mortality compared to medical therapy. Conclusion: This study demonstrates that catheter ablation is an effective therapy to improve quality of life and reduce mortality risk in AF patients with heart failure, although further research with more homogeneous designs and broader populations is still required.</em></p> 2026-01-30T00:00:00+00:00 Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Afinitas