Jurnal Inovasi Pendidikan
https://ojs.co.id/1/index.php/jip
id-IDJurnal Inovasi PendidikanFAKTOR PENYEBAB RENDAHNYA MINAT BELAJAR SISWA SEKOLAH DASAR PADA MATA PELAJARAN BAHASA INGGRIS
https://ojs.co.id/1/index.php/jip/article/view/4232
<p><em>English is an international language that should be taught to children from an early age. Currently, many elementary schools have incorporated English language learning into their curriculum, either as a local subject or outside the curriculum. English language learning in elementary school is the foundation for higher education. Given the importance of learning English, it must be implemented starting from elementary school. In learning English, students often have difficulty understanding the language. Therefore, in this study, we focus on students who still have difficulty learning English vocabulary in elementary school. In this study, we use a quantitative descriptive approach obtained from the results of our interviews and observations. There are several internal and external factors that cause low interest in learning English among elementary school students. Internal factors include: (1) Students' ability to understand English learning. (2) Difficulty in pronunciation. (3) Lack of interest in English lessons. (4) Lack of confidence. Meanwhile, the external factors include: (1) An unsupportive environment. (2) Lack of hours for English lessons. (3) Textbooks that are not tailored to the class's abilities. (4) Emotional and academic support from parents.</em></p> <p>Bahasa inggris tersendiri merupakan bahasa internasional yang pada dasarnya harus di terapkan kepada anak-anak sejak dini. Pada saat ini banayak sekolah dasar yang memasukan pembelajaran bahasa Inggris kedalam kurikulumnya baik menjadi muatan lokal maupun di luar kurikilum. pembelajaran bahasa inggris di sekolah dasar sebagai dasar untuk pendidikan tinggi. Dengan pentingnya mempelajari bahasa Inggris maka harus di laksanakan mulai dari pendidikan dasar. Dalam pembelajaran bahasa Inggris sering kali siswa mengalami kesulitan memahami bahasa Inggris. oleh karena itu, dengan adanya penelitian ini kami fokus kepada siswa yang masih kesulitan mempelajari kosa kata bahasa Inggris di sekolah dasar. Dalam penelitian ini kami mengunakan pendekatan kuantitatif metode deskriptif yang di peroleh dari hasil wawancara dan observasi kami secara langsung. Ada beberapa faktor internal dan eksternal yang menyebabkan rendahnya minat belajar siswa sekolah dasar pada mata pelajaran bahasa Inggris. Faktor internalnya antara lain: (1) Kemampuan siswa dalam memahami pembelajaran bahasa inggris. (2) Sulitnya pengucapan. (3) Kurangnya ketertarikan pada mata pelajaran bahasa inggris. (4) Kurangnya kepercayaan diri. Sedangakan faktor eksternalnya antara lain: (1) Lingkungan yang kurang mendukung. (2) Kurangnya jam pada mata pelajaran bahasa iggris. (3) Buku ajar yang tidak menyesuikan kemampuan kelas. (4) Dukungan orang tua secara emosional dan akademis.</p> <p>Bahasa inggris tersendiri merupakan bahasa internasional yang pada dasarnya harus di terapkan kepada anak-anak sejak dini. Pada saat ini banayak sekolah dasar yang memasukan pembelajaran bahasa Inggris kedalam kurikulumnya baik menjadi muatan lokal maupun di luar kurikilum. pembelajaran bahasa inggris di sekolah dasar sebagai dasar untuk pendidikan tinggi. Dengan pentingnya mempelajari bahasa Inggris maka harus di laksanakan mulai dari pendidikan dasar. Dalam pembelajaran bahasa Inggris sering kali siswa mengalami kesulitan memahami bahasa Inggris. oleh karena itu, dengan adanya penelitian ini kami fokus kepada siswa yang masih kesulitan mempelajari kosa kata bahasa Inggris di sekolah dasar. Dalam penelitian ini kami mengunakan pendekatan kuantitatif metode deskriptif yang di peroleh dari hasil wawancara dan observasi kami secara langsung. Ada beberapa faktor internal dan eksternal yang menyebabkan rendahnya minat belajar siswa sekolah dasar pada mata pelajaran bahasa Inggris. Faktor internalnya antara lain: (1) Kemampuan siswa dalam memahami pembelajaran bahasa inggris. (2) Sulitnya pengucapan. (3) Kurangnya ketertarikan pada mata pelajaran bahasa inggris. (4) Kurangnya kepercayaan diri. Sedangakan faktor eksternalnya antara lain: (1) Lingkungan yang kurang mendukung. (2) Kurangnya jam pada mata pelajaran bahasa iggris. (3) Buku ajar yang tidak menyesuikan kemampuan kelas. (4) Dukungan orang tua secara emosional dan akademis.</p>Zahrotun AtqiyaniMufti Fadli WafdaNita UmarohNaela MunawarohIstingatun KaromahSulis Fauziyanti
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Inovasi Pendidikan
2026-01-302026-01-3091PENGARUH PEMANFAATAN GEOGEBRA TERHADAP KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS DAN PEMAHAMAN KONSEP MATEMATIKA SISWA SMP RATU DAMAI WAIBALUN
https://ojs.co.id/1/index.php/jip/article/view/4355
<p>Pembelajaran matematika di tingkat sekolah menengah pertama masih menunjukkan rendahnya kemampuan berpikir kritis dan pemahaman konsep matematika siswa, yang salah satunya disebabkan oleh pembelajaran konvensional yang berpusat pada guru. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemanfaatan aplikasi GeoGebra terhadap kemampuan berpikir kritis dan pemahaman konsep matematika siswa SMP Ratu Damai Waibalun. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode eksperimen semu (quasi experiment) melalui desain Nonequivalent Control Group Design. Sampel penelitian terdiri atas dua kelas IX yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling, yaitu kelas eksperimen yang memperoleh pembelajaran berbasis GeoGebra dan kelas kontrol yang memperoleh pembelajaran konvensional. Instrumen penelitian berupa tes uraian yang mengukur kemampuan berpikir kritis dan pemahaman konsep matematika, yang diberikan dalam bentuk pretest dan posttest. Data dianalisis menggunakan statistik deskriptif dan inferensial dengan bantuan perangkat lunak SPSS, melalui uji normalitas, uji homogenitas, serta uji Mann-Whitney pada taraf signifikansi 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara kelas eksperimen dan kelas kontrol baik pada kemampuan berpikir kritis maupun pemahaman konsep matematika. Nilai signifikansi uji Mann-Whitney untuk kemampuan berpikir kritis sebesar 0,001 dan untuk pemahaman konsep matematika sebesar 0,002. Selain itu, nilai N-Gain pada kelas eksperimen berada pada kategori sedang hingga tinggi, sedangkan kelas kontrol berada pada kategori rendah hingga sedang. Dengan demikian, pembelajaran berbasis GeoGebra berpengaruh positif dan signifikan terhadap peningkatan kemampuan berpikir kritis dan pemahaman konsep matematika siswa SMP.</p> <p><em>Mathematics learning at the junior secondary school level still shows low levels of students’ critical thinking skills and conceptual understanding, which are partly caused by conventional teacher-centered instruction. This study aims to investigate the effect of using the GeoGebra application on students’ critical thinking skills and mathematical conceptual understanding at SMP Ratu Damai Waibalun. This research employed a quantitative approach using a quasi-experimental method with a Nonequivalent Control Group Design. The sample consisted of two ninth-grade classes selected through purposive sampling, comprising an experimental class taught using GeoGebra-based learning and a control class taught using conventional instruction. The research instrument was an essay test designed to measure students’ critical thinking skills and mathematical conceptual understanding, administered as pretests and posttests. Data were analyzed using descriptive and inferential statistics with SPSS software, including normality tests, homogeneity tests, and the Mann–Whitney test at a significance level of 0.05. The results indicate a significant difference between the experimental and control groups in both critical thinking skills and mathematical conceptual understanding. The Mann–Whitney test showed significance values of 0.001 for critical thinking skills and 0.002 for conceptual understanding. Furthermore, the N-Gain scores of the experimental group were in the moderate to high category, while those of the control group were in the low to moderate category. These findings demonstrate that GeoGebra-based learning has a positive and significant effect on improving students’ critical thinking skills and mathematical conceptual understanding at the junior secondary school level.</em></p>Irwanius Piter Muaraya
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Inovasi Pendidikan
2026-01-302026-01-3091STUDI PENGELOLAAN AGROWISATA BERBASIS EDUKASI LINGKUNGAN DI TAMAN AGROWISATA TENAYAN RAYA
https://ojs.co.id/1/index.php/jip/article/view/4350
<p>Tenayan raya merupakan salah satu Kawasan dikota pekanbaru, provinsi riau, yang di kembangkan sebagai Agrowisata berbasis edukasi lingkungan. Kegiatan ini bertujuan untuk mengetahui dan memahami sistem pengelolaan lingkungan yang di terapkan di taman Agrowisata Tenayan Raya, melalui dari latar belakang pengembangan Kawasan hingga kondisi pengelolaan saat ini. Kegiatan di lakukan melalui kunjungan lapangan dengan metode observasi langsung dan wawancara dengan pihak pengelola Agrowisata. Pengamatan di fokuskan pada pemanfaatan lahan, pengelolaan tanaman, dan ternak kebersihan lingkungan, serta fasilitas pendukung edukasi lingkungan. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa taman Agrowisata Tenayan Raya telah menerapkan pengelolaan lingkungan yang cukup baik melalui pemanfaatan sumber daya alam secara optimal dan berkelanjutan. Selain berfungsi sebagai tempat rekreasi, Kawasan ini juga berperan sebagai sarana pembelajaran lingkungan bagi mahasiswa dan masyarakat. Kegiatan ini memberikan pemahaman nyata kepada mahasiswa mengenai pentingnya pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan dalam mendukung keberlangsungan Agrowisata.<br><em>Tenayan Raya is one of the areas in Pekanbaru City, Riau Province, which is being developed as an agrotourism based on environmental education. This activity aims to find out and understand the environmental management system implemented in the Tenayan Raya Agrotourism Park, from the background to the development of the area to the current management conditions. Activities are carried out through field visits using direct observation methods and interviews with Agrotourism managers. Observations focused on land use, management of plants and livestock, environmental cleanliness, as well as supporting facilities for environmental education. The results of the activities show that the Tenayan Raya Agrotourism Park has implemented fairly good environmental management through optimal and sustainable use of natural resources. Apart from functioning as a recreation area, this area also acts as an environmental learning facility for students and the community. This activity provides students with a real understanding of the importance of sustainable environmental management in supporting the sustainability of Agrotourism.</em></p>Ria Artha. PRizka NabilaIndah RamadhaniSalsa AzuraSyefniYeeri Badrun
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Inovasi Pendidikan
2026-01-302026-01-3091KLASIFIKASI DAN KARAKTERISTIK ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS
https://ojs.co.id/1/index.php/jip/article/view/4346
<p>Anak berkebutuhan khusus memiliki karakteristik yang berbeda dengan anak pada umumnya, baik dari aspek fisik, kognitif, sosial, emosional, maupun perilaku, sehingga memerlukan layanan pendidikan yang sesuaidengan kebutuhannya. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan klasifikasi anak berkebutuhan khusus serta karakteristik utama dari setiap klasifikasi dalam konteks pendidikan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Data dikumpulkan melalui observasi dan wawancara terhadap guru, siswa, kepala sekolah, serta orang tua. Hasil penelitian menunjukkan bahwa anak berkebutuhan khusus dapat diklasifikasikan ke dalam beberapa kelompok, seperti gangguan penglihatan, gangguan pendengaran, disabilitas intelektual, disabilitas fisik, gangguan perilaku dan emosional, autisme, kesulitan belajar, serta gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas. Pemahaman yang tepat mengenai klasifikasi dan karakteristik anak berkebutuhan khusus penting untuk mendukung keberhasilan pendidikan inklusif.</p> <p><em>Children with special needs have different characteristics from children in general, both in physical, cognitive, social, emotional, and behavioral aspects, so they require educational services that are appropriate to their needs. This study aims to describe the classification of children with special needs and the main characteristics of each classification in the educational context. This study uses a qualitative approach with descriptive methods. Data were collected through observations and interviews with teachers, students, principals, and parents. The results show that children with special needs can be classified into several groups, such as visual impairments, hearing impairments, intellectual disabilities, physical disabilities, behavioral and emotional disorders, autism, learning difficulties, and attention deficit hyperactivity disorder. A proper understanding of the classification and characteristics of children with special needs is important to support the success of inclusive education.</em></p>Ghaisani Al AmahLaxmi Permata Sari SuardiSiti AisyahIlham Adriansyah
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Inovasi Pendidikan
2026-01-302026-01-3091MENGASAH LITERASI ABAD 21 MELALUI 4C (COMMUNICATION, COLLABORATION, CRITICAL THINKING, CREATIVITY) DI SEKOLAH DASAR
https://ojs.co.id/1/index.php/jip/article/view/4279
<p><em>Perkembangan teknologi dan informasi di era global menuntut adanya kemampuan literasi abad ke-21 yang meliputi keterampilan berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, dan komunikasi (4C). Sekolah dasar menjadi fondasi penting dalam menanamkan dan mengasah keempat kompetensi tersebut sejak dini. Melalui pendekatan pembelajaran aktif, kontekstual, dan berbasis proyek, siswa didorong untuk tidak hanya memahami pengetahuan secara teoritis, tetapi juga mampu menerapkannya dalam kehidupan nyata. Keterampilan communication melatih siswa menyampaikan ide secara jelas dan sopan, sementara collaboration menumbuhkan kerja sama dan empati dalam kelompok. Critical thinking membantu siswa dalam menganalisis masalah serta menemukan solusi rasional, dan creativity menumbuhkan inovasi melalui kegiatan seni, eksperimen, serta eksplorasi ide. Guru berperan sebagai fasilitator yang menciptakan lingkungan belajar yang interaktif, mendukung kebebasan berpikir, dan menghargai perbedaan. Dengan penerapan 4C secara terpadu dalam kurikulum, diharapkan siswa sekolah dasar mampu menjadi generasi yang adaptif, komunikatif, serta berdaya saing di era digital. Penerapan 4C bukan sekadar peningkatan kemampuan akademik, tetapi juga pembentukan karakter dan kecakapan hidup yang relevan dengan tuntutan masa depan.</em></p>Farhan MaulanaArifin AhmadRafif Rizky Prasetya Atma Arif BudimanMuhamad Fadlikal Assidik
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Inovasi Pendidikan
2026-01-302026-01-3091IMPLEMENTASI GERAKAN 7 KEBIASAAN ANAK INDONESIA HEBAT MELALUI WORKSHOP DI PAUD
https://ojs.co.id/1/index.php/jip/article/view/4365
<p>Program pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk memperkuat implementasi Gerakan Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (7 KAIH) di satuan PAUD melalui kegiatan workshop dan pendampingan terstruktur. Kegiatan dilaksanakan pada 11 lembaga PAUD di Kecamatan Mustika Jaya, Kota Bekasi. Metode yang digunakan meliputi workshop, pendampingan, observasi, serta evaluasi menggunakan instrumen pretest–posttest dan lembar monitoring. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman guru mengenai konsep 7 KAIH, keterampilan implementasi pembiasaan di kelas, peningkatan kolaborasi guru–orang tua, serta penguatan rutinitas kebiasaan positif di lingkungan PAUD. Program ini terbukti efektif dalam mendukung peningkatan kapasitas guru PAUD dan membangun praktik pendidikan karakter yang berkelanjutan.</p> <p><em>This community service program aims to strengthen the implementation of the Seven Habits of Great Indonesian Children (7 KAIH) in early childhood education institutions through a workshop and structured assistance program. The activities were conducted in 11 PAUD units located in Mustika Jaya District, Bekasi City. The methods used included workshops, mentoring, observation, and evaluation using pretest–posttest instruments and monitoring sheets. The results show an increase in teachers' understanding of the 7 KAIH concept, improved classroom implementation skills, enhanced collaboration between teachers and parents, and strengthened routines of positive habits in PAUD. This program proved effective in supporting capacity building for PAUD teachers and establishing sustainable character education practices.</em></p>Yuli Astuti Wahyuningtyas Anjani RetrieviaFadhilaIik FaikohUlfa TunnisaSukiman Puspojudho
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Inovasi Pendidikan
2026-01-312026-01-3191PENYUSUNAN RENCANA PEMBELAJARAN SEMESTER (RPS) PENDIDIKAN INKLUSI
https://ojs.co.id/1/index.php/jip/article/view/4354
<p>Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses penyusunan Rencana Pembelajaran Semester (RPS) pendidikan inklusi serta mengkaji komponen RPS berdasarkan prinsip pembelajaran inklusif di perguruan tinggi. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan subjek dosen pengampu mata kuliah pendidikan inklusi dan objek berupa dokumen RPS. Data dikumpulkan melalui studi dokumentasi, wawancara, dan observasi, kemudian dianalisis secara kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyusunan RPS dilakukan secara sistematis dengan memperhatikan capaian pembelajaran, metode yang fleksibel, dan penilaian yang adil serta ramah inklusi. RPS pendidikan inklusi berperan penting dalam mendukung pembelajaran yang berpusat pada mahasiswa dan memberikan kesempatan belajar yang setara bagi seluruh mahasiswa.</p> <p><em>This study aims to describe the process of developing Semester Learning Plans (SLPs) for inclusive education and to examine the components of SLPs based on the principles of inclusive learning in higher education. The study uses a qualitative descriptive approach with lecturers teaching inclusive education courses as subjects and SLP documents as objects. Data were collected through documentation studies, interviews, and observations, then analyzed qualitatively. The results of the study indicate that the development of the SLP is carried out systematically by considering learning outcomes, flexible methods, and fair and inclusive assessments. The SLP for inclusive education plays an important role in supporting student-centered learning and providing equal learning opportunities for all students.</em></p>Mutiatul HakimahAura SausanPutri IkmalaRatna Dewi
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Inovasi Pendidikan
2026-01-302026-01-3091ASESMEN YANG ADIL TERHADAP HASIL BELAJAR PESERTA DIDIK DI KELAS INKLUSIF
https://ojs.co.id/1/index.php/jip/article/view/4349
<p>Kelas inklusif merupakan lingkungan belajar yang di dalamnya terdapat keberagaman karakteristik peserta didik, baik siswa reguler maupun siswa berkebutuhan khusus. Kondisi tersebut menuntut guru untuk menerapkan asesmen yang adil agar hasil belajar siswa dapat dinilai secara objektif dan sesuai dengan kemampuan masing-masing individu. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan asesmen yang adil terhadap hasil belajar peserta didik di kelas inklusif. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Data diperoleh melalui observasi dan wawancara mendalam terhadap guru, asisten pendidikan khusus, serta peserta didik yang terlibat dalam pembelajaran di kelas inklusif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa asesmen yang adil dilakukan melalui penyesuaian instrumen, kriteria, dan teknik penilaian sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik peserta didik. Penilaian tidak hanya berfokus pada hasil akhir, tetapi juga memperhatikan proses dan perkembangan individu siswa. Penerapan asesmen yang adil terbukti mampu memberikan gambaran hasil belajar yang lebih manusiawi, meningkatkan motivasi belajar, serta mendukung terciptanya lingkungan pembelajaran yang inklusif dan berkeadilan</p> <p><em>An inclusive classroom is a learning environment that accommodates the diverse characteristics of students, including both regular students and students with special needs. This condition requires teachers to implement fair assessments so that students' learning outcomes can be evaluated objectively and in accordance with each individual's abilities. This study aims to describe the implementation of fair assessment of student learning outcomes in inclusive classrooms. This study uses a qualitative approach with a descriptive method. Data was obtained thru observation and in-depth interviews with teachers, special education assistants, and students involved in learning in inclusive classrooms. The research results indicate that fair assessment is conducted thru the adjustment of instruments, criteria, and evaluation techniques according to the needs and characteristics of the learners. Assessment focuses not only on the final result, but also considers the process and individual development of students. The application of fair assessment has proven capable of providing a more humane picture of learning outcomes, increasing learning motivation, and supporting the creation of an inclusive and equitable learning environment</em></p>Alya Citra WulandariLaxmi Permata Sari SuardiAnisaLutpiani Nurul AmanahAnggun Mutia
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Inovasi Pendidikan
2026-01-302026-01-3091PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN SEDERHANA UNTUK PESERTA DIDIK BERKEBUTUHAN KHUSUS DI SEKOLAH DASAR INKLUSI
https://ojs.co.id/1/index.php/jip/article/view/4343
<p>Perkembangan teknologi dan informasi di era global menuntut adanya kemampuan literasi abad ke-21 yang meliputi keterampilan berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, dan komunikasi (4C). Sekolah dasar menjadi fondasi penting dalam menanamkan dan mengasah keempat kompetensi tersebut sejak dini. Melalui pendekatan pembelajaran aktif, kontekstual, dan berbasis proyek, siswa didorong untuk tidak hanya memahami pengetahuan secara teoritis, tetapi juga mampu menerapkannya dalam kehidupan nyata. Keterampilan communication melatih siswa menyampaikan ide secara jelas dan sopan, sementara collaboration menumbuhkan kerja sama dan empati dalam kelompok. Critical thinking membantu siswa dalam menganalisis masalah serta menemukan solusi rasional, dan creativity menumbuhkan inovasi melalui kegiatan seni, eksperimen, serta eksplorasi ide. Guru berperan sebagai fasilitator yang menciptakan lingkungan belajar yang interaktif, mendukung kebebasan berpikir, dan menghargai perbedaan. Dengan penerapan 4C secara terpadu dalam kurikulum, diharapkan siswa sekolah dasar mampu menjadi generasi yang adaptif, komunikatif, serta berdaya saing di era digital. Penerapan 4C bukan sekadar peningkatan kemampuan akademik, tetapi juga pembentukan karakter dan kecakapan hidup yang relevan dengan tuntutan masa depan.</p> <p><em>Inclusive education demands learning processes that can respond to accommodate to the varied characteristics of students, including children with special needs. One of the key obstacles in applying inclusive education at the elementary school level is the limited availability and use of appropriate learning media for students with special needs. This study seeks to explain the used of simple learning media in supporting the learning process of children with special needs in inclusive elementary schools. This research adopted a descriptive qualitative method, with data gathered through classroom observation, limited interviews, and document review. The findings reveral that simple learning media such as visual media, concrete materials, simple printed media, and short instructional videos can enhance students’ focus, participation, and understanding of learning materials. Furthermore, the use of simple learning media assists teachers in implementing more inclusive and responsive learning practices. Therefore, simple learning media can be a practical and effective solution to achieve better education goals.</em></p>Siti NurhalisaLaxmi Permata Sari SuardiNiswah Ziyan AhliaVivit Vitrianti
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Inovasi Pendidikan
2026-01-302026-01-3091