SATU TAHTA, DUA AMBISI: KONFLIK SAUDARA DI KESULTANAN DELI DAN KELAHIRAN KESULTANAN SERDANG
Kata Kunci:
Konflik Suksesi, Kesultanan Deli, Kesultanan Serdang, Sejarah Sumatera TimurAbstrak
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis latar belakang konflik suksesi yang terjadi di lingkungan keluarga kerajaan Deli serta dampaknya terhadap lahirnya Kesultanan Serdang pada abad ke-18. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian literatur dengan pendekatan kualitatif-historis melalui kajian berbagai sumber pustaka seperti buku sejarah, artikel jurnal, arsip, serta dokumen akademik yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konflik suksesi dalam Kesultanan Deli dipicu oleh perebutan kekuasaan setelah wafatnya Tuanku Panglima Paderap yang menimbulkan perselisihan antara Tuanku Panglima Pasutan dan Tuanku Umar Johan Alamshah. Perbedaan legitimasi kekuasaan berdasarkan garis keturunan dan pengaruh politik dari kerajaan-kerajaan di sekitarnya turut memperuncing konflik tersebut. Kekalahan Tuanku Umar Johan Alamshah dalam perebutan tahta menyebabkan ia bersama para pendukungnya memisahkan diri dari Deli dan kemudian diangkat sebagai Sultan Serdang pertama pada tahun 1723 dengan dukungan beberapa penguasa lokal. Peristiwa ini menandai terbentuknya Kesultanan Serdang sebagai entitas politik baru di wilayah Sumatera Timur. Penelitian ini menunjukkan bahwa konflik internal dalam sistem monarki Melayu dapat menjadi faktor penting dalam terbentuknya kekuasaan politik baru di kawasan tersebut.
This study aims to analyze the succession conflict within the royal family of the Deli Sultanate and its impact on the emergence of the Serdang Sultanate in the 18th century. The research employs a literature study method using a qualitative historical approach by examining various written sources such as historical books, journal articles, archives, and relevant academic documents. The results show that the succession conflict in the Deli Sultanate was triggered by a struggle for power following the death of Tuanku Panglima Paderap, leading to rivalry between Tuanku Panglima Pasutan and Tuanku Umar Johan Alamshah. Differences in political legitimacy based on royal lineage and external political influences further intensified the conflict. After losing the struggle for the throne, Tuanku Umar Johan Alamshah and his supporters separated from Deli and were later proclaimed as the first Sultan of Serdang in 1723 with the support of several local rulers. This event marked the establishment of the Serdang Sultanate as a new political entity in East Sumatra. The study highlights how internal dynastic conflicts within Malay monarchies could lead to the formation of new political authorities in the region.