MEME SEBAGAI SASTRA RAKYAT BARU: KAJIAN FILSAFAT SASTRA TERHADAP HUMOR, KRITIK, DAN MAKNA DIGITAL
Kata Kunci:
Meme Internet, Sastra Rakyat, Filsafat Sastra, Folklor Digital, Humor, Kritik SosialAbstrak
This article examines internet memes as a possible form of new folk literature through the perspective of philosophy of literature. The central argument is that memes should not be reduced to trivial jokes or decorative digital images; rather, under certain conditions, they operate as vernacular literary practices that condense humor, social criticism, collective memory, and unstable digital meaning. Using a qualitative literature review, this study synthesizes works on folklore, digital culture, hermeneutics, semiotics, intertextuality, and the carnivalesque. The analysis shows that memes resemble folk literature because they are collectively circulated, anonymously or semi-anonymously transformed, formulaic yet open to variation, and rooted in shared social experience. However, memes are not automatically literature. A meme becomes new folk literature only when it has aesthetic condensation, communal circulation, symbolic density, interpretive openness, and critical force. The article further argues that meme humor functions as a philosophical interruption: it destabilizes dominant meanings, exposes contradictions, and democratizes criticism. At the same time, memes are ethically ambivalent because they may reproduce hatred, misinformation, simplification, and algorithmic commodification. Therefore, memes must be read not merely as popular entertainment but as a contested digital literary form in which society negotiates meaning, power, and truth.
Artikel ini mengkaji meme internet sebagai kemungkinan bentuk sastra rakyat baru melalui perspektif filsafat sastra. Argumen utama artikel ini adalah bahwa meme tidak dapat direduksi sebagai lelucon ringan atau gambar lucu di media sosial. Dalam kondisi tertentu, meme bekerja sebagai praktik sastra vernakular yang memadatkan humor, kritik sosial, ingatan kolektif, dan makna digital yang terus bergerak. Dengan menggunakan metode studi literatur kualitatif, artikel ini menyintesiskan kajian tentang folklor, budaya digital, hermeneutika, semiotika, intertekstualitas, dan karnavalesk. Hasil kajian menunjukkan bahwa meme memiliki kemiripan dengan sastra rakyat karena beredar secara kolektif, mengalami transformasi anonim atau semi-anonim, bersifat formulaik tetapi terbuka terhadap variasi, serta bertumpu pada pengalaman sosial bersama. Namun, tidak semua meme layak disebut sastra. Meme menjadi sastra rakyat baru hanya apabila memiliki kepadatan estetis, sirkulasi komunal, kekuatan simbolik, keterbukaan tafsir, dan daya kritik. Humor dalam meme berfungsi sebagai interupsi filosofis yang mengguncang makna dominan, membuka kontradiksi sosial, dan mendemokratisasi kritik. Meski demikian, meme juga bersifat ambivalen karena dapat mereproduksi kebencian, disinformasi, penyederhanaan realitas, dan komodifikasi algoritmik. Oleh sebab itu, meme perlu dibaca bukan sekadar sebagai hiburan populer, melainkan sebagai bentuk sastra digital yang diperebutkan dalam arena makna, kuasa, dan kebenaran




