RITUS AI TALI DAN PRAKTIK KURBAN UMAT KATOLIK: KAJIAN TEOLOGIS INTERKULTURAL DALAM PERSPEKTIF KARL RAHNER

Penulis

  • Elfridus Darmin IFTK Ledalero
  • Selestianus Bhago Raso IFTK Ledalero
  • Januario Armando Bin IFTK Ledalero
  • Marselinus Meo IFTK Ledalero

Kata Kunci:

Ai Tali, Kurban, Karl Rahner, Inkulturasi, Teologi Kontekstual, Antropologi Agama, Ritus Adat, Spiritualitas Ekologis

Abstrak

Artikel ini menelaah ritus Ai Tali sebagai bentuk kurban tradisional dalam masyarakat Sikka dan bagaimana ritus tersebut dipahami oleh umat Katolik lokal dalam konteks inkulturasi. Dengan pendekatan teologi Karl Rahner, khususnya konsep kurban sebagai tindakan eksistensial penyerahan diri manusia kepada Allah, artikel ini menunjukkan bahwa ritus Ai Tali tidak bertentangan dengan iman Katolik, melainkan menjadi ruang simbolik di mana manusia mengekspresikan syukur, kerendahan hati, ketergantungan, dan relasi kosmis dengan leluhur serta alam. Analisis antropologis mengungkap bahwa ritus Ai Tali berfungsi sebagai mekanisme komunikasi spiritual, pembentuk identitas kolektif, dan sarana menjaga harmoni kosmologis. Umat Katolik setempat melakukan ritus ini bukan sebagai bentuk penyembahan selain Allah, tetapi sebagai ekspresi budaya yang sejalan dengan penghormatan terhadap leluhur. Dengan demikian, ritus Ai Tali dapat dimaknai secara teologis sebagai titik temu antara iman dan budaya, sekaligus menawarkan potensi bagi pengembangan teologi kontekstual dan spiritualitas ekologis dalam Gereja.

This article examines the Ai Tali ritual as a traditional sacrificial practice among the Sikka people and explores how local Catholic communities interpret this ritual within the framework of inculturation. Using Karl Rahner’s theology especially his view of sacrifice as an existential act of self-giving to God the study argues that the Ai Tali ritual is not in conflict with Catholic faith. Instead, it serves as a symbolic space where humans express gratitude, humility, dependence, and cosmic relationality with ancestors and nature. Anthropological analysis reveals that Ai Tali functions as a medium of spiritual communication, a builder of collective identity, and a mechanism for maintaining cosmological harmony. Local Catholics perform this ritual not as an act of worship toward other divinities but as a cultural expression aligned with ancestral reverence. Thus, the Ai Tali ritual can be theologically appreciated as a point of convergence between faith and culture, offering potential for developing contextual theology and ecological spirituality within the Church.

Unduhan

Diterbitkan

2025-11-30