PERJUMPAAN LINTAS IMAN SEBAGAI PRAKTIK PEDAGOGIS: MODEL TRANSFORMATIF PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN DI SEKOLAH DAN GEREJA

Penulis

  • Dini Asbanu Institut Agama Kristen Negeri Kupang
  • Nining Bessie Institut Agama Kristen Negeri Kupang
  • Maria Saetban Institut Agama Kristen Negeri Kupang
  • Yonanda Matasina Institut Agama Kristen Negeri Kupang

Kata Kunci:

Perjumpaan Lintas Iman, Pembelajaran Transformatif, Pendidikan Agama Kristen, Pedagogi Interklutural, Pluralisme

Abstrak

Artikel ini mengkaji perjumpaan lintas iman sebagai praktik pedagogis transformatif dalam Pendidikan Agama Kristen (PAK) di konteks sekolah dan gereja di Indonesia. Di tengah meningkatnya keragaman agama dan kebutuhan mendesak akan pendidikan berbasis toleransi, PAK menghadapi tantangan untuk melampaui batas-batas doktrinal guna membentuk peserta didik yang mampu hidup secara harmonis dalam masyarakat plural. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif melalui kajian pustaka dan analisis kritis terhadap kerangka teoritis yang relevan, mencakup teori pembelajaran transformatif (Mezirow), teologi interklutural, dan model pendidikan Kristen kontekstual. Hasil kajian menunjukkan bahwa perjumpaan lintas iman, bila diintegrasikan secara disengaja ke dalam kurikulum PAK, berfungsi tidak hanya sebagai pengalaman kognitif, melainkan juga sebagai ruang transformatif di mana peserta didik merekontruksi pemahaman mereka tentang iman, identitas, dan relasi dengan yang berbeda keyakinan. Model transformatif yang diusulkan mencakup tiga dimensi yang saling terkait: perjumpaan diologis, refleksi teologis kritis, dan praktis kontekstual. Model ini dapat diterapkan di sekolah melalui pembelajaranlintas iman berbasis proyek dan di gereja melalui program katekisasi kontekstual. Artikel ini berargumen bahwa PAK yang terbuka terhadap perjumpaan lintas ima tidak melemahkan identitas Kristen, melainkan justru memperdalamnya melalui pemahaman iman yang lebih utuh dalam relasi dengan yang lain.

This article examines interfaith encounter as a transformative pedagogical practice in Christian Religious Education (CRE) within school and cruch contexts in Indonesia. Against the backdrop of increasing religious diversity and the growing need for tolerance-based education, CRE faces the challenge of transcending doctrinal boundaries to form students who are capable of living harmoniously in a pluralistic society. This study employs a qualitative approach through literature review and critical analysis of relevant theoretical frameworks, including transformative learning theory (Mezirow), intercultural theology, and contextual Christian Education models. The findings indicate that interfaith encounter, when deliberately integrated into as a transformative space where students reconstruct their understanding of faith, identity, and their to the religious other. The proposed transformative model encompasses there interdependent dimensions: dialogical encounter, critical theological reflection, and contextual praxil. This model is applicable in formal school settings through project-based interfaith learning and in church settings through contextual catechetical programs.The article argues that CRE that is open to interfaith encounter does not weaken Christian identity but rather strengthens it through a deeper understanding of one’s own faith in relation to others.

Unduhan

Diterbitkan

2026-06-30