MEMULIHKAN INGATAN KOLEKTIF: PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN DAN REKONSILIASI ATAS BEBAN SEJARAH DALAM MASYARAKAT MAJEMUK

Penulis

  • Gres Berta Tnunay Institut Agama Kristen Negeri Kupang
  • Renate Devina Athalia Po Institut Agama Kristen Negeri Kupang
  • Adriana Tefi Institut Agama Kristen Negeri Kupang
  • Teldi Yakob Letuna Institut Agama Kristen Negeri Kupang

Kata Kunci:

Ingatan Kolektif, Rekonsiliasi, Pendidikan Agama Kristen, Masyarakat Majemuk

Abstrak

Masyarakat majemuk menyimpan kompleksitas relasi sosial yang tidak terlepas dari pengalaman sejarah yang membentuk ingatan kolektif antar kelompok. Ingatan tersebut kerap diwariskan secara selektif dan berpotensi memperkuat batas identitas serta memelihara prasangka, sehingga menghambat terciptanya kehidupan bersama yang harmonis. Dalam konteks ini, rekonsiliasi menjadi kebutuhan mendasar yang tidak hanya berkaitan dengan penyelesaian konflik, tetapi juga dengan transformasi cara masyarakat memahami dan menafsirkan masa lalu. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peran Pendidikan Agama Kristen dalam memulihkan ingatan kolektif sebagai bagian dari proses rekonsiliasi dalam masyarakat majemuk. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi pustaka dan analisis konseptual terhadap berbagai sumber literatur yang relevan. Hasil kajian menunjukkan bahwa ingatan kolektif tidak bersifat netral, melainkan dibentuk melalui proses sosial yang dapat memperkuat maupun mereduksi konflik, tergantung pada cara ia ditransmisikan. Dalam hal ini, Pendidikan Agama Kristen memiliki potensi strategis sebagai ruang pedagogis yang mampu mengolah ingatan kolektif secara reflektif melalui pendekatan dialogis, inklusif, dan kontekstual. Dengan demikian, Pendidikan Agama Kristen tidak hanya berperan dalam pembentukan iman personal, tetapi juga sebagai sarana transformasi sosial yang berkontribusi pada terwujudnya rekonsiliasi yang berkelanjutan dalam masyarakat majemuk.

Pluralistic societies harbor complex social relations inextricably linked to historical experiences that shape collective memory between groups. These memories are often selectively passed down and have the potential to reinforce identity boundaries and foster prejudice, thus hindering the creation of a harmonious life together. In this context, reconciliation becomes a fundamental need, related not only to conflict resolution but also to transforming how society understands and interprets the past. This study aims to examine the role of Christian Religious Education in restoring collective memory as part of the reconciliation process in pluralistic societies. This research uses a qualitative approach, employing a desk study and conceptual analysis of various relevant literature sources. The results indicate that collective memory is not neutral but is shaped through social processes that can either reinforce or reduce conflict, depending on how it is transmitted. In this regard, Christian Religious Education has strategic potential as a pedagogical space capable of reflectively cultivating collective memory through a dialogical, inclusive, and contextual approach. Thus, Christian Religious Education plays a role not only in the formation of personal faith but also as a means of social transformation that contributes to the realization of sustainable reconciliation in pluralistic societies.

Unduhan

Diterbitkan

2026-06-30